Rabu, 05 Juli 2017

Prekuel Novel Galaupreneur

Cerita pendek ini merupakan prekuel dari novel komedi saya yang berjudul Galaupreneur. Semoga bisa menghibur, dan selamat membaca...

***

Jadi, begini kisahnya...

Di suatu masa, hiduplah seorang siswi kelas 11, bernama Rena. Anaknya kurus, pendek dan item. Di sekolah, Rena termasuk murid yang biasa aja. Dia payah di pelajaran matematika, dan hampir nggak punya kelebihan, kecuali bakat menggambar.

Pernah, waktu ulangan matematika, saking nggak bisa jawabnya, Rena malah menggambar wajah gurunya di lembar jawaban. Hasilnya, Rena mendapat nilai -1. Iya, dalam pelajaran matematika, Rena bahkan dianggap tidak pantas mendapat nilai 0.

Selain nilainya yang parah, hampir setiap hari, selama setahun setengah bersekolah di SMA, dia nyaris selalu dibully oleh teman-temannya. Sampai suatu ketika, ada seorang siswi baru menyelamatkannya. Seorang cewek manis yang tingkahnya kayak preman, namanya Widi.

Waktu itu, Rena lagi diganggu sama Genk Genma, Gendut Manis. Terdiri dari 3 cewek gembrot tapi merasa manis. Padahal nggak sama sekali. Si ketua genk, nekling kaki Rena sampai jatuh. Lalu dua anggota lainnya menginjak-injak badan Rena, pura-pura nggak tau kalo Rena ada di sana.

Saat itulah, Widi datang. JENG! JENG!

Widi anaknya tinggi (jelas lebih tinggi dari Rena), kulitnya sawo matang, badannya bagus kayak atlet renang, dan rambutnya hitam sebahu.

"APA-APAAN KALIAN! STOP!" Widi membantu Rena berdiri, baju Rena udah compang-camping, dan rambutnya berantakan.

"SIAPA LO? JANGAN MACAM-MACAM SAMA GENK GENMA." Bentak si ketua genk, sambil melangkah maju, ingin menjambak rambut Widi.

Namun, Widi yang tampangnya manis dan lemah lembut itu, dengan gesit menghindar, lalu mendaratkan lututnya ke perut besar si ketua genk. Cewek gembrot itu langsung terkapar di aspal, mulutnya berbusa, dan kejang-kejang. Kedua anak buahnya cuma bengong.

"Kenapa bengong?" Tanya Widi. "Buruan, urus ketua kalian ini. Dan jangan berani-berani ganggu Rena lagi." Bentak Widi sangar.

Kedua anak buahnya pun membantu si ketua berdiri.

Widi mengacungkan tinjunya ke udara, membuat cewek-cewek gembrot itu lari kocar-kacir, lalu berteriak kepada mereka. "Ya bagus, larilah yang kencang, selamatkan diri kalian. Dasar babi-babi gila jelek gembrot terkutuk!"

"Makasi ya." Ujar Rena. "Iya, mulai sekarang lo nggak perlu takut. Ada gue!" Seru Widi.

Begitulah. Sejak itu, Rena nggak pernah dibully lagi. Kalau ada yang berani ngebully, Widi langsung menghajar mereka tanpa ampun.

Anehnya, setelah nggak pernah dibully lagi, Rena tetap saja murung. Widi pun bertanya. "Lo kenapa sih? Naksir cowok?" Celetuk Widi iseng.

Di luar dugaan, Rena mengangguk. Rena pun bercerita bahwa sudah setahun ini, dia suka sama kapten tim sepak bola sekolah, namanya Deva. Deva anaknya tinggi dan putih. Berkat rajin main bola, bodynya jadi atletis, dan perutnya kotak-kotak. Kerenlah pokoknya, kayak artis Korea. Nggak heran Rena suka. Dan perasaan itu semakin bertambah, ketika Deva mendatangi Rena dan minta tolong untuk dilukiskan foto keluarganya.

Dengan senang hati, Rena pun melukis pesanan itu sebaik mungkin, belum pernah dia melukis seserius ini. Bahkan sampai lehernya sakit, dan lupa makan.

Seminggu kemudian, masterpiece Rena pun jadi. Sebuah lukisan yang nyaris sempurna, campuran warnanya indah, paduan antara realis dan abstrak. Dalam lukisan itu, ketiga anggota keluarga Deva tersenyum bahagia. Benar-benar mirip dengan aslinya, bahkan lebih bagus.

Rena memberikan lukisan itu dalam keadaan terbungkus koran, Deva menerimanya. "Makasi ya, Na."

"Iya," sahut Rena.

Baru besoknya Deva datang lagi ke kelas Rena, dan memuji lukisannya. Deva tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Katanya, lukisan Rena memberi keajaiban. Kedua orangtua Deva yang awalnya ingin bercerai, jadi mengurungkan niat mereka itu. Mereka terharu melihat lukisan keluarga yang dilukis oleh Rena, di dalam lukisan itu, mereka terlihat sangat bahagia.

Demikianlah. Ketika itu, Rena begitu bersyukur, karena bisa melakukan sesuatu yang berarti untuk orang yang dia suka.

Namun, kebahagiaan itu hanya sebentar. Deva kembali menjauh.

Selain sibuk persiapan UN, Deva juga sibuk latihan dalam rangka persiapan mengikuti kejuaraan sepak bola antar SMA se-Jakarta.

"Terus lo nggak usaha gitu deketin Deva, Na?" Tanya Widi. Rena menggeleng. "Mana mau dia sama cewek kayak gue." Sahutnya sambil menunduk.

"Ck! Usaha aja belom udah nyerah. Payah! Pantes lo jomblo mulu." Gerutu Widi.

"Terus gue harus ngapain, Wid?" Tanya Rena. Widi tersenyum. "Nih, lo ikutan audisi pencarian bendahara untuk tim sepak bola sekolah aja." Widi memberikan sebuah selebaran, Rena mengamati tulisan di selebaran itu, membacanya dengan seksama.

DICARI: Bendara, untuk tim sepak bola. SYARAT: Berpenampilan menarik, suka bola, dengan nilai matematika minimal 9.

"Waduh, nilai gue nggak cukup." Gumam Rena.

"Berapa emang?" Tanya Widi.

Rena menunduk. "Min satu."

"HAH?! NILAI MACAM APA ITU?" Seru Widi. "GUE AJA YANG SERING BOLOS, NILAI MATEMATIKANYA 6."

Rena diam aja sambil nunduk. Widi geleng-geleng kepala. "Ya udah, lo ngelamar jadi tukang mungut bola aja."

Rena pun ngelamar jadi tukang mungut bola, dan langsung diterima.Sedangkan posisi bendahara ditempati oleh cewek kelas 12, bernama Anjani.

Pada waktu tim latihan, Rena bertugas memunguti bola-bola yang melambung tinggi melewati gawang, dan nyangkut di semak-semak. Kadang, Rena membantu membawa minum untuk para pemain pas sedang istirahat. Bahkan, Rena juga berfungsi sebagai sasaran tembak untuk latihan tendangan bebas.

Semuanya dijalani dengan ikhlas, yang penting bisa melihat Deva setiap hari. Kadang malah dapat ngobrol pula dengan cowok itu.

Suatu hari, selesai latihan, Rena melihat Deva berdiri di loker miliknya. Ketika melihat Rena, Deva buru-buru pergi. Dan waktu loker itu dibuka, ternyata di dalamnya ada bunga mawar. Rena pun senyum-senyum sendiri.

Selama sebulanan, Rena semangat sekali pergi ke sekolah. Bukan buat belajar di kelas, tapi supaya bisa bertemu dengan Deva. Namun, lama-lama, tugas-tugasnya sebagai tukang mungut bola benar-benar menyita waktu, dia jarang bisa bertemu Deva.

Sepanjang latihan, Rena terlalu sibuk membawa minuman untuk para pemain. Sisanya, dia sibuk jadi sasaran tendangan bebas. Satu-satunya penyemangat bagi Rena adalah, ketika latihan selesai, di lokernya, selalu ada setangkai bunga mawar untuk Rena.

Begitulah. Karena latihan yang keras, dan pengorbanan Rena, tim sepak bola sekolahnya pun lolos dari grup sebagai runner up. Walaupun kalah 4-2 di pertandingan pertama, mereka berhasil seri 2-2 di pertandingan kedua, dan menang 2-1 di pertandingan ketiga. Satu tim merayakan keberhasilan itu, dan mereka latihan lebih keras lagi untuk bisa tampil semakin baik. Segalanya masih terasa menyenangkan, sampai Rena ngeliat Deva dipeluk-peluk oleh si bendara, Anjani.

Alhasil, Rena nggak konsen banget menjalani tugas-tugasnya. Mungut bolanya setengah hati, dan banyak pemain yang gak dapat minum.

Selesai latihan, Rena curhat ke Widi, dan dia langsung dimarahi. "Kamu sih, malu-malu banget deketin Deva. Keduluan si Anjani deh." Gerutu Widi.

"Aku harus gimana dong?" Tanya Rena cemberut.

"Kamu harus nembak Deva, sebelum si Anjani itu bergerak duluan." Sahut Widi.

Di latihan berikutnya, Rena bertekad bakal nembak Deva. Namun, dia malah menemukan cowok itu sedang duduk berdua bersama Anjani.

Anjani tampak malu-malu. "Deva, aku suka sama kamu. Mau nggak jadi pacarku?" Ujarnya. Mendengar itu, Rena langsung patah hati. "Aku mau..." Sahut Deva. Rena langsung nangis, dan lari ke kamar ganti. Dia pengin pulang dan bershower.

Di kamar ganti, Rena menemukan seseorang sedang menaruh bunga di dalam lokernya. Tapi bukan Deva, melainkan temannya, Joni.

"Jadi, selama ini, kamu yang naruh bunga di lokerku, Jon?" Tanya Rena sambil nangis.

Joni jadi salah tingkah. "Eh, anu, anu..." Belom sempat melanjutkan, Joni langsung ambil langkah seribu. Kabur!

Tinggal Rena sendiri, patah hati, dan pengin nangis di kamar mandi. Dia pun pulang, dan memutuskan berhenti menjadi anggota panitia tim bola.

Di sisi lain, secara mengejutkan, tim bola SMA Rena, berhasil menembus final. Mereka melawan tim kuat lainnya, yaitu SMA Harapan. Di leg 1, mereka berhasil menang 2-1 di kandang sendiri. Jadi, di leg 2 hanya butuh hasil seri untuk memenangkan turnamen.

Pak Anto, pelatih sekaligus guru olahraga SMA Rena, menargetkan skor 0-0. Piala pun bisa langsung dibawa pulang. Jadi, Pak Anto berencana akan menerapkan taktik parkir pesawat di depan gawang. Pokoknya jangan sampai kebobolan.

Namun, latihan tidak bisa berjalan lancar tanpa kehadiran Rena. Semuanya sudah menghubungi Rena, tapi teleponnya nggak diangkat. Akhirnya, sehari sebelum hari final leg 2, satu tim datang ke rumah Rena. Namun pintu depan terkunci.

 "RENA! RENA!" Panggil mereka.

Di dalam kamar, Rena sebenarnya mendengar, hanya saja dia tidak punya niat untuk keluar.

Sampai akhirnya, Rena mendengar suara Deva yang berteriak. "RENA, BESOK KAMU DATANG YA. KEHADIRAN KAMU SANGAT PENTING BAGI TIM."

Setelah teman-temannya pulang, Rena termenung. Nggak seharusnya masalah kecil menghancurkan tujuan yang lebih besar, pikirnya. Rena memang patah hati. Tapi ada beberapa hal yang harus didahulukan daripada sekedar keegoisan diri sendiri, pikirnya lagi.

Keesokan harinya, ditemani Widi, Rena pun datang ke kandang lawan untuk membantu timnya membawa pulang piala. Dia menyiapkan air mineral di pinggir lapangan, membantu pemain cadangan pemanasan, dan berjoget di pinggir lapangan untuk memberi semangat.

Rena terus bertahan, meskipun harus menahan perasaan sakit hati, setiap kali melihat si Anjani-Anjani itu berteriak untuk Deva.

Di babak pertama, skor masih imbang 0-0. Pak Anto menumpuk 9 pemain di depan gawang, hanya menyisakan Deva sebagai penyerang. Di babak kedua, karena terlalu keras dalam bertahan. Tiga pemain tim Rena mendapat kartu merah. Namun, mereka terus bertahan.

Sayangnya, ketika pertandingan menyisakan 5 menit sebelum berakhir, tim lawan malah berhasil mencetak gol. Skor menjadi 0-1. Agregat 2-2, tapi tim lawan lebih unggul agresivitas gol tandang. Jika ingin juara, tim Rena harus menyamakan kedudukan. Belum cukup bencana sampai di sana, sang kiper malah cidera dan tidak bisa melanjutkan pertandingan.

Masalahnya, sudah tidak ada lagi pemain di bangku cadangan. Yang ada hanya Rena, dan si Anjani. Pelatih pun menyuruh Rena untuk menjadi kiper, hanya karena tampangnya jauh lebih memprihatinkan.

Demi membantu tim yang sedang tertinggal, Rena pun masuk lapangan setelah berganti pakaian dengan seragam kiper.

"Usahakan jangan sampai kita kebobolan lagi." ujar Deva sambil menepuk pundak Rena. Saking tegangnya, Rena jadi pengin beol.

Dengan hanya 8 pemain tersisa, tim Rena, menyerang habis-habisan. Waktu tinggal 2 menit. Kecuali kiper, semua pemain maju menyerang. Giliran tim lawan yang bertahan total. Dan ketika rasanya semua harapan sudah hilang, Deva melakukan tendangan spekulasi dari tengah lapangan. Di luar dugaan, karena begitu kerasnya, bola yang sudah ditepis kiper lawan, malah memantul ke tiang gawang dan masuk.

"GOOLLLL!!!" Seluruh pemain Tim Rena masuk ke lapangan. Seolah pertandingan sudah berakhir dan mereka juara.

Rena ikut melompat-lompat di depan gawang. Berjoget-joget seperti sedang nonton konser dangdut.

Namun, pertandingan belum berakhir. Wasit memerintahkan para pemain kembali ke posisinya. Dan pertandingan dilanjutkan. Waktu masih tersisa 1 menit. Begitu peluit ditiup, pemain lawan langsung membawa bola menuju gawang yang dijaga Rena. Mungkin karena masih terpengaruh euforia gol barusan, para pemain belakang lengah. Mereka gagal menghalau pemain lawan.

Dan tiba-tiba saja, penyerang lawan sudah berhadapan satu lawan satu dengan Rena, si kiper gadungan.

Rena benar-benar nggak tau apa yang harus dilakukan. Jadi dia berlari maju, dan berusaha menendang bola. Namun, tendangannya meleset dan malah mengenai selangkangan pemain lawan. Si pemain terkapar, memegangi burungnya.

Peluit ditiup, pelanggaran di kotak pinalti. Wasit menunjuk titik putih. Giliran tim lawan yang bersorak sorai, seolah sudah juara. Jika pinalti ini masuk, maka pertandingan akan dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu. Jika gagal, tim Rena juara.

Semua tegang. Rena gemetar. Dia tidak pernah benar-benar latihan jadi kiper, dia cuma pernah jadi target sasaran tendangan bebas.

Setelah bola diletakkan di titik putih, wasit pun meniup peluit. Dan Rena menutup mata, tidak ada yang bisa dia lakukan selain pasrah. Lantas, sesuatu menghajar wajahnya begitu keras. Seluruh mukanya terasa pedas.

Dengan perasaan seperti melayang-layang, Rena masih bisa mendengar bunyi peluit panjang tiga kali. Kemudian, Rena seperti dilempar-lempar ke udara berkali-kali. "KITA MENANG! KITA MENANG!"

Hanya itu yang Rena ingat, selebihnya menjadi gelap. Ketika Rena terbangun, dia sudah di ruang UKS. Teman-teman satu tim mengelilinginya. "Apa yang terjadi?" Tanya Rena.

"Kamu berhasil menggagalkan pinalti, kamu diam di tempat, dan kebetulan bola ditendang ke tengah. Tepat mengenai mukamu."

"Kita juara, Rena! Sekolah kita juara!" Ujar Deva. Di sebelahnya ada si Anjani. Rena menoleh ke arah lain.

Hari itu, meskipun timnya juara. Tapi Rena nggak terlalu bahagia, karena satu-satunya keinginannya adalah menjadi juara di hati Deva. Tapi dia gagal.

Dan perayaan kemenangan itu pun berlalu begitu saja. Besoknya, Rena menjalani hari seperti biasa. Berusaha tidak memikirkan Deva. Beberapa minggu kemudian, anak-anak kelas 12 sudah menempuh ujian nasional, dan mulai tersebar mencari tempat kuliah. Termasuk Deva. Sebenarnya, Rena berusaha tidak peduli Deva melanjutkan kuliah di mana, sampai dia bertemu dengan Joni, yang lagi legalisir ijazah.

"Ren, gue mau cerita sesuatu." Ujar Joni.

"Apaan?" Tanya Rena lemas.

"Sebenarnya, bunga yang gue taruh di loker lo bukan dari gue, tapi dari Deva." Sahut Joni.

"HA? Yang bener? Kok lo baru bilang sekarang?" Rena terbelalak.

"Karena Deva ngelarang gue." Jawab Joni.

"Bukannya Deva udah jadian sama Anjani?" Tanya Rena lagi.

Joni menggeleng. "Nggak, mereka nggak pernah jadian." Joni melanjutkan. "Waktu itu Anjani memang nembak Deva. Dan Deva jawab ‘mau’ pikir-pikir dulu. Tapi akhirnya ditolak."

Rena yang awalnya lemas, langsung jadi semangat. "Deva kuliah di mana, Jon. Lo tau?" Tanya Rena.

Joni mengangguk. "Dia kuliah di Bali, dia tinggal sama neneknya di sana. Dan dia cinta mati sama lo, Ren." Ujar Joni.

Setelah mendengar penjelasan itu, Rena berusaha menghubungi Deva, tapi selalu gagal. Deva seolah menghilang dari alam semesta. Sampai akhirnya, Rena memutuskan, dia bakal rajin belajar supaya tahun depan bisa lulus ujian nasional, dan menyusul Deva kuliah di Bali.

Mau tau bagaimana kelanjutan kisah Rena? Apakah Rena bisa bertemu lagi dengan Deva? Kisahnya bisa kamu baca di Novel Galaupreneur.


Pemesanan
WA: 0881-273-1411
Line: stiletto_indiebook
Email: orderbuku@stilettobook.com

Kamis, 08 Desember 2016

14 MAWAR UNTUK ANA

Henry menatapku sambil tersenyum. "Apa kamu mau jadi istriku, Ana?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Iya, aku mau jadi istrimu, Henry." sahutku sambil ikut tersenyum. Berusaha semanis mungkin.

Kira-kira begitulah potongan dialog di akhir cerita ini. Namun, sayang sekali, ini bukanlah kisah happy ending.

Semuanya berawal dari malam perayaan yang penuh keceriaan dan sukacita, lalu tiba-tiba berubah jadi kekacauan. Bahkan, sebelum satu pun kembang api meledak menghiasi langit malam, sebagian besar penonton berlarian panik tak tentu arah di jalanan, seolah rumah mereka terbakar dan mereka harus segera pulang untuk memadamkannya. Kemudian suara-suara sirine mulai terdengar di kejauhan, semakin lama semakin mendekat.

Aku masih kebingungan dengan perubahan situasi itu ketika, tidak lama, tiga ambulan melintas tepat di sampingku. Melaju kencang bagai sedang balapan, berbelok di tikungan lalu menghilang. Hanya suara sirinenya yang masih terdengar, itu pun pelan-pelan melemah di kejauhan. Sesuatu yang buruk telah terjadi, pikirku. Aku harus mencari Henry, pikirku lagi.

Sebelumnya, aku sedang menunggu laki-laki itu. Karena hari ini hari ulang tahunku, 14 Juli, dan aku sedang menonton perayaan Hari Nasional Perancis atau Hari Bastille, sambil menanti Henry, dia pacarku, eh, mungkin calon suami? Hmm, atau lebih tepatnya, dia adalah pacarku—yang kebetulan minggu lalu, secara tiba-tiba melamarku.

Begitulah.

Namun, sekarang aku benar-benar jadi cemas, dan mulai menyesal tidak langsung menjawab lamarannya.

Ketika itu, di hari Henry melamarku, dia datang ke tempatku bekerja—sebuah kantor penerbitan majalah di Perancis. Di depan rekan-rekan kerjaku, di kafe kantor, dia berlutut, sambil berkata. "Aku cinta kamu, Ana. Apa kamu mau menerima cintaku?" Dia berlutut di bawah sana, sambil menjulurkan sebuah cincin padaku. Cincin emas, dengan berlian besar di atasnya.

Dan aku cuma bisa duduk terperangah. Aku terlalu kaget untuk menjawab. Jangankan memberi jawaban, bersuara pun rasanya tak sanggup. Namun, setelah bisa menguasai diri, aku menjawab. "Beri aku waktu, seminggu lagi, aku akan memberimu jawaban."

Henry tersenyum, agak kecewa, namun dia berusaha tegar. Lalu dia pulang.

Aku sedih melihatnya seperti itu, tapi mau bagaimana lagi. Aku belum bisa menjawabnya langsung. Perlu waktu. Dan selama seminggu menunggu, tentu aku dan Henry tetap bertemu, dan berusaha bersikap sewajar mungkin. Aku menggunakan pertemuan itu untuk bertanya hal-hal yang menurutku perlu aku ketahui.

"Apa yang membuatmu yakin untuk menjadikan aku sebagai istrimu?" tanyaku ketika kami bertemu di sebuah kafe di pinggiran Kota Nice.

"Karena kamu cantik."
Aku memutar bola mata. "Dari banyak kemungkinan jawaban, 'karena kamu cantik' adalah jawaban paling akhir yang aku harapkan." sahutku setengah mengomel.

Henry tersenyum. "Sejujurnya, aku nggak tau. Aku hanya yakin, bahwa kamulah orangnya, Ana." ujarnya. Aku masih terdiam, jadi Henry melanjutkan. "Kita sudah lama saling kenal, aku rasa kita cocok. Kita berdua sudah mandiri, mapan. Kamu editor majalah besar, dan bisnis sepatuku sedang bagus-bagusnya. Dan yang paling penting, aku nyaman denganmu. Dan aku merasa, kamu juga begitu padaku."

Aku tersenyum. Walaupun tidak terlalu memuaskan, tapi aku suka jawaban itu. Dan sebenarnya, jawabanku atas lamaran Henry sudah jelas, dan singkat saja. "Iya." Tentu aku mau jadi istri Henry. Dia laki-laki baik dan seperti yang dia katakan tadi... mapan. Dulu, dia kakak kelasku yang paling ganteng di kampus. Tinggi menjulang dan gagah bukan main, rambutnya hitam, dan matanya hijau cerah dengan tatapan yang tajam. Kami bersahabat sudah hampir sepuluh tahun dan pacaran sejak satu tahun terakhir. Sebelum akhirnya Henry merasa cukup siap untuk melamarku. Dan aku menyuruhnya menunggu selama seminggu, supaya lamaran tersebut bisa kujawab tepat pada hari ulang tahunku, rasanya pasti lebih spesial. Itu saja.

Namun, sekarang aku menyesal.

Kembali ke malam tanggal 14 Juli yang mencekam. Semakin mendekati jalan Promenade des Anglais—yang tadinya akan dijadikan tempat pesta kembang api, suasana semakin mendebarkan. Orang-orang berlarian, terdengar teriakan-teriakan di mana-mana, dan sepertinya aku juga mendengar beberapa kali suara tembakan. Aku takut, namun bertekad harus menemukan dia. Sambil berjalan, aku menyapukan pandanganku ke sekitar, mencari satu wajah yang kukenal. Di mana dia?

Aku terus berjalan, melawan arus orang-orang yang berlarian tak tentu arah. Di salah satu sudut jalan, tiga ambulan sudah berhenti, para petugas tampak mengangkat semacam tandu. Dan aku tercekat. Di atas tandu itu berbaring...

Oh, ya ampun.

Aku menutup mulut saking kagetnya, ada sesosok tubuh yang tergeletak lemah di sana. Sepertinya sudah meninggal. Wajahnya penuh darah, tangannya menggantung pasrah di tepi tandu. Kaget bukan main, aku terdiam lama di sana. Namun, karena didorong keinginan untuk menemukan Henry—keberanian untuk melangkah muncul kembali, pelan-pelan, aku berjalan ke sebelah kiri sehingga tiga ambulan itu tidak lagi menghalangi pandanganku. Dan sepanjang jalan, tampak tubuh-tubuh bergelimpangan. Jalanan aspal itu berubah jadi merah, penuh genangan darah. Ya Tuhan...

Henry...

Aku berjalan melalui tiga ambulan itu, sepintas melihat wajah-wajah mereka yang tergeletak di ambulan dan jalanan. Namun, tidak kutemukan Henry. Aku terus melangkah melalui tubuh-tubuh yang bergelimpangan di jalan.

Di ujung jalan itu, sebuah truk besar terparkir dengan posisi tidak normal. Dan di beberapa badan truk ada lubang-lubang yang mengeluarkan asap. Beberapa polisi tampak mengelilingi truk itu, dan petugas berpakaian putih-putih mengeluarkan sesosok tubuh penuh darah dari belakang kemudi truk. Buru-buru aku berlari meninggalkan tempat itu.

Sebagian tubuh-tubuh yang tergeletak di jalanan sudah diselimuti kain putih, entah siapa yang berinisiatif melakukannya. Di depanku, ada juga seluet orang-orang yang berjalan linglung, menyingkap kain-kain itu. Mungkin sama sepertiku, sedang mencari anggota keluarga, atau sahabat, atau kekasihnya. Oh, Henry...

Aku pun kembali melangkah pelan-pelan, setiap kali orang di depanku membuka kain-kain itu, aku ikut mengintip, merasa ngeri namun berusaha kutahan. Setiap kali kain-kain putih tersebut dibuka, aku berharap itu bukan Henry. Dan sejauh ini, harapanku terkabul.

Tidak jauh dari tempatku berdiri, ketika memandang ke depan, aku menemukan seorang laki-laki berdiri membelakangiku, dia membawa seikat mawar merah. Dan aku jadi teringat, kebiasaan Henry untuk memberiku 14 mawar merah di hari ulang tahunku. Itu pasti dia.

"Henry!" panggilku. Namun, dia tidak mendengar. Tidak apa-apa, yang penting dia selamat, pikirku. "Henry!" panggilku lagi. Kali ini sambil berlari ke arahnya.

Henry menoleh ke belakang, namun tidak ke arahku. Pandangannya tertuju ke bawah. Ke sosok tubuh yang tergeletak di sebelahnya. Lalu riak di wajah Henry berubah seketika. Dia menangis, berlutut dan memeluk tubuh itu.

"Henry? Kenapa?" tanyaku ketika berada di depannya.

Aku menunduk, dan melihat tubuh yang dipeluk Henry. Dan seketika tertegun. Itu aku.

Itu aku, batinku sekali lagi.

Tiba-tiba, bagai kilatan cahaya, aku ingat semuanya. Beberapa menit yang lalu, aku sedang menunggu Henry persis di sini, di tempat ini. Menanti pesta kembang api, aku mengirim pesan singkat kepadanya, bahwa aku sudah ada di tempat kami janjian dan sedang menunggunya, dan jangan lupa mawar-mawarnya. Begitu memasukkan handphone ke kantong celana jeans, sesuatu menghantamku dengan keras dari belakang. Lalu tiba-tiba aku sudah ada di sisi jalan, bingung dengan kekacauan yang terjadi, dan memutuskan mencari Henry.

Dan sekarang, aku sedang menatap laki-laki yang kucintai sedang meraung sambil memeluk... tubuhku... yang berlumuran darah. Merah yang kontras dengan warna kulitku yang putih, rambut pirangku yang sepanjang bahu berantakan menutupi wajah, dari bibir keluar cairan merah, dan mataku yang sedikit terbuka menampakkan bola mataku yang berwarna biru. Kosong, tak menatap ke mana pun.

Aku terperanjat.

Tak sanggup melangkah ke tempat lain, hanya termenung di jalanan itu. Diam di sana. Sampai jalanan sepi, sampai matahari terbit, sampai hari berganti. Dan aku mulai mendengar desas-desus di jalanan, bahwa kejadian di malam menyedihkan itu adalah sebuah serangan teroris. Serangan itu dilakukan oleh seorang laki-laki asal Tunisia, mengendarai truk secara membabibuta, menabrak orang-orang di jalanan.

Malam itu, 84 orang meninggal, termasuk aku.

Setelah dua hari terkatung-katung di jalanan, aku memutuskan untuk pulang. Aku berjalan (hmmm, mungkin lebih tepatnya melayang) menuju rumah, melihat orang-orang sibuk menyiapkan upacara pemakamanku.

Ibuku tidak henti-hentinya menangis. Tentu saja begitu, dia ibuku. Dan aku anak tunggal, hanya aku yang dia miliki, setelah bercerai dari ayah. Sedangkan ayah, tentu juga hadir, tapi terlihat lebih tegar. Dia pria yang baik sebenarnya, cuma agak keras kepala. Semoga kejadian menyedihkan ini bisa membuat mereka bersama lagi, aku sempat berharap.

Ketika itu, aku melihat Henry berdiri di samping peti matiku. Dia mencium keningku, maksudku, kening tubuhku yang terbaring di peti mati. Rupanya tubuhku sudah dirias, tampak cantik seolah aku belum mati dan hanya tertidur.

Lalu kudengar Henry berkata. "Selamat ulang tahun, maaf tahun ini aku mengucapkannya agak telat." Henry memejamkan mata sebentar, kemudian kembali menatapku. "Aku akan merindukanmu, dan masih menunggu jawabanmu."

Henry menatapku sambil tersenyum. "Apa kamu mau jadi istriku, Ana?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Iya, aku mau jadi istrimu, Henry." sahutku sambil ikut tersenyum. Berusaha semanis mungkin.

Punggung Henry mulai bergetar, dia menangis, namun cepat-cepat menghapus air matanya. "Aku berharap, sekarang kamu berapa di tempat yang lebih indah. Selamat jalan, Cantik." ujarnya pelan. Dia meletakkan seikat mawar di atas tubuhku. 14 mawar, aku menebak. Sebagai simbol hari kelahiranku, yang sekarang juga adalah hari kematianku.

Aku tersenyum, menatap ke luar, ke arah pintu rumahku yang sudah dipenuhi cahaya putih terang. Dan aku tahu, sudah waktunya untuk pergi.

Kamis, 13 Oktober 2016

Biar Nggak Nyasar di Jakarta

Beberapa tahun yang lalu, untuk pertama kalinya, aku datang ke Jakarta bersama rombongan dalam rangka mengikuti sebuah lomba. Waktu itu, sebagai orang Bali yang sekali pun belum pernah keluar Bali, aku tentu saja sempat merasa deg-degan. Apa benar Jakarta itu seseram yang terlihat di TV?

Dalam perjalanan, setelah memasuki wilayah Jakarta dengan menggunakan bus, aku bengong menatap pemandangan dari jendela. Hampir semuanya ada di luar sana. Mulai dari pemukiman kumuh, sampah-sampah, rumah mewah, sampai gedung-gedung yang menjulang tinggi di sisi-sisi jalan. Ketika menginjakkan kaki turun dari bus, kesan pertama yang muncul adalah panas. Lalu bingung. Tergopoh, aku mengikuti rombongan. Nggak berani terpisah. Kebetulan, saat itu, acara lombanya diadakan di Senayan. Selama semingguan itu, aku berpikir. Bagaimana jadinya jika aku berada di Jakarta tanpa ditemani rombongan? Mungkin aku bakal tersesat, tak tau arah jalan pulang, dan jadi gembel.

Makanya, aku berusaha mencari informasi, supaya tau apa yang harus dilakukan jika suatu hari nanti harus kembali ke Jakarta sendirian. Kalau memungkinkan, bukan hanya selamat, tapi juga bisa menikmati perjalanan ke objek-objek wisata di Jakata. Siapa tau ketemu gebetan, lalu jadi dekat, menikah, dan hidup bahagia selamanya.

Nah, hal pertama yang harus dilakukan tentu saja, mencari penginapan murah. Atau penginapan yang nyaman sesuai dengan keinginanmu. Kamu bisa mencoba Hotel Mandarin Oriental Jakarta yang bisa kamu booking langsung melalui situs traveloka.com.

pexels.com

Selanjutnya, pastikan kamu tau hendak ke mana. Dan siapkan GMaps sebagai pemandu. Seperti kata pepatah: sedia peta sebelum tersesat.

Begitulah.

Setelah itu, untuk transportasi di Jakarta, nggak perlu galau. Untungnya, kita nggak hidup di zaman batu, yang kalau mau jalan-jalan harus menjinakkan dinosaurus dulu. Saat ini, kamu tinggal mengunduh beberapa aplikasi, dan sudah bisa ke mana saja sesuai keinginanmu.

Apa saja sih, yang bisa membantumu keliling Jakarta?

1. Taksi
Memang sih, kalau menurut berita-berita di TV, beberapa kali terjadi kejahatan di taksi. Namun, di masa sekarang, taksi benar-benar diawasi ketat dan kita bisa mengakalinya jika takut, yaitu dengan memfoto plat taksi, nomor taksi, dan muka si supir taksi.

Dengan memiliki fotonya, kamu bisa berjaga-jaga. Siapa tau si supir taksi tiba-tiba jadi artis, sehingga kamu nggak perlu repot-repot minta fotonya lagi. Oke, ini ngawur. Maksudnya, bila terjadi sesuatu, kamu tau siapa yang bertanggungjawab! Namun, itu pun bukan berarti kamu boleh seenaknya menyebarluaskan data-data tersebut di media sosial ya. Dan sebelum berangkat, ingat berdoa agar selamat di jalan. Enjoy your seat!

pexels.com

2. Driver Online
Semakin maju dunia teknologi, semakin banyak pula kemudahan yang bisa kita nikmati. Salah satunya memesan driver via aplikasi. Dengan ini, kamu bisa ke mana saja. Sang driver bergerak sesuai dengan peta dan kamu tidak perlu khawatir diculik. Perjalanan kalian dipantau oleh GPS dari kantor, kok.

Kamu pun bisa belajar bersosialisasi karena sepanjang jalan jadi saling mencari bahan obrolan dengan driver. Siapa tau cocok, dan kalian bisa hidup bahagia selamanya. Hmm, mungkin nggak sampai sejauh itu sih. Tapi paling tidak, setelahnya, kamu bisa menulis testimoni dan rating mengenai driver yang mengantarmu. Seru, kan? Ini salah satu kelebihan Jakarta. Di tengah apatisnya masyarakat, adanya pemesanan online jadi membuat kita lebih down to earth. :)

3. Ojek Pangkalan
Jangan ragu naik ojek yang ada di lokasi terdekat. Memang sih, sejak beredarnya yang serba online, kehadiran ojek pangkalan sedikit bergeser. Tapi bisa saja ponselmu tertinggal di hotel, atau mati mendadak, atau kamu gadaikan untuk beli nasi. Sehingga kamu tidak bisa memesan apa pun via online. Berkeliling atau minta diantar ke suatu tempat wisata di Jakarta, masih bisa kok pakai ojek sekitar. Namun, tawar dulu harganya agar cocok dengan kondisi kantongmu yang mengenaskan.

4. Transjakarta
Mau yang lebih murah lagi? Naik Transjakarta saja. Kamu akan merasakan sensasi seperti di luar negeri saat naik Transjakarta. Kamu cukup datangi busway dan cukup tap kartu yang sudah diisi sebelumnya dengan sejumlah nominal. Lalu, tinggal lihat peta, mau ke Jakarta bagian mana. Transjakarta melayani perjalanan ke beberapa wilayah kok.

pexels.com

5. Commuter Line
Mau ke Kota Tua? Atau mau ke Tanah Abang? Kamu bisa naik Comnuter Line. Berlibur ke Jakarta jangan sampai tidak datang ke Kota Tua ya. Selain banyak kulineran yang bisa kamu cicipi, ada juga beberapa museum yang bisa kamu datangi. Dengan naik Commuter Line, kamu cukup duduk manis dan nanti turun di Stasiun Kota.

Begitu pun dengan Tanah Abang. Tinggal duduk dan dengarkan laporan pemberhentiannya. Kamu cukup turun di Stasiun Tanah Abang dan bisa langsung belanja di sana.

Bagaimana? Sudah tahu kan, transportasi apa saja yang tersedia? Jadi kamu nggak perlu lagi takut tersasar atau takut tidak bisa ke mana-mana. Jakarta memang luas, tetapi berkendara pun semakin mudah. Pastikan untuk selalu menaati aturan, supaya kamu terhindar dari bahaya. Maka dari itu, demi keselamatanmu dan orang lain, ingatlah selalu memakai sabuk pengaman, helm,dan deodoran.

Kalau ada yang punya pengalaman seru di Jakarta, silahkan berbagi di kolom komentar. Terima kasih... :)

Minggu, 04 September 2016

Giveaway novel Galaupreneur


Judul: Galaupreneur
Genre: Komedi
Penulis: Ramayoga
Penerbit: Stiletto Indie Book
Tebal: 153 halaman
Terbit: Agustus 2016

Sinopsis:
Buku ini berkisah tentang seorang cewek bernama Rena, yang keluarganya sedang terkena musibah. Bapaknya sakit pikun, ibunya stres, dan adiknya nggak lulus-lulus kuliah.

Rena sebagai anak pertama, tentu ingin membantu keluarganya, dia pun mencari pekerjaan apa saja, supaya kondisi keluarganya bisa membaik. Namun, dia malah terjebak dalam pekerjaan yang nggak disukainya, setiap pagi harus pergi ke kantor, dan merasa seperti berangkat ke neraka.

Suatu hari, sambil terus berusaha bertahan di kantornya itu, Rena bertemu dengan Deva, cinta pertamanya waktu SMA. Sayangnya, seperti ketika SMA, Deva nggak nunjukin tanda-tanda suka sama Rena. Iya, cinta Rena masih saja bertepuk sebelah tangan.

Begitulah. Rena terus berjuang membantu keluarganya, sambil berusaha mendapatkan cinta pertamanya.

Giveaway:
Nah, setelah membaca ringkasan cerita di atas, ada 1 buah novel Galaupreneur yang bisa kamu miliki. Caranya gambang bingit, begini...

1) Kamu bertempat tinggal di Indonesia.

2) Punya akun Twitter.

3) Follow akun Twitter @ramadepp dan @stiletto_book.

4) Jawab pertanyaan berikut ini: "Seandainya kamu mengalami hal yang sama dengan Rena (berada di tempat kerja yang nggak disukai, dan cintamu kebetulan juga bertepuk sebelah tangan), apa yang bakal kamu lakuin?"

5) Tulis jawabanmu di kolom komentar, dan sertakan nama akun Twittermu di akhir jawaban.

Udah itu aja syaratnya.

Jawaban yang paling menarik bakal dapatin 1 buah novel Galaupreneur. Nggak harus bagus sih jawabannya, yang penting bisa bikin ngakak, atau paling nggak, bikin senyum-senyum sendiri.

Giveaway ini akan berlangsung sampai tanggal 11 September 2016 pukul 23:59.

Pemenangnya bakal diumumin tanggal 12 September 2016, di akun Twitter @ramadepp. Jika dalam waktu 48 jam nggak ada tanggapan dari pemenang, maka yang bersangkutan akan digantikan dengan peserta yang lain.

Demikian.

Selamat menjawab pertanyaan. Good luck yaaa...

Minggu, 28 Agustus 2016

Filosofi Kopi Sachet

Kisah ini adalah sekuel dari film Filosofi Kopi dari karya Dewi Lestari, yang saya buat sendiri untuk mengobati kerinduan terhadap tokoh-tokohnya dan apa yang mereka alami selanjutnya. Semoga suka. Terima kasih, dan selamat membaca.

*** 

Tiga tahun setelah kafe kami dijual, dan Filosofi Kopi pindah ke bus bertingkat dua, kami sudah berkeliling Indonesia–Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan lain-lain–untuk menjajakan kopi. Di luar dugaan, usaha kami berjalan lumayan baik. Setidaknya, aku bisa menabung, Ben bisa bertemu banyak penggemar baru, dan pegawai-pegawai kami bisa hidup lumayan sejahtera. Namun, rasanya semua masih bisa lebih baik lagi.

Aku masih belum puas.

Apa lagi, setelah suatu hari, aku bertemu seorang pengusaha yang menawariku sebuah mesin pencetak kopi sachet.

Ketika kutemui saat makan siang di sebuah restoran, dengan menggebu-gebu si pengusaha mengatakan. “Jika anda punya mesin ini, anda sudah pasti akan menghasilkan lebih banyak uang. Karena dalam satu jam, mesin ini bisa mencetak lebih dari tiga ribu sachet. Dan coba bayangkan jika Filosofi Kopi bertransformasi ke dalam bentuk sachet, dan penjualannya bisa menyebar ke berbagai daerah, bahkan luar negeri. Anda bisa go internasional, Pak Jody!” Tuturnya bersemangat. “Jika anda berjualan dengan menggunakan mobil, jelas anda tidak akan bisa melakukan itu.” Tandasnya tajam, dan membuatku berpikir lama.

Selepas pertemuan itu, aku terus memikirkan penawaran tersebut, dan menyimpulkan bahwa apa yang dikatakan si pengusaha memang ada benarnya. Kopi sachet memiliki cakupan yang lebih luas, ditambah biaya distribusi yang lebih kecil. Dari segi itu saja, keuntungan yang bisa kudapat akan jauh lebih besar. Seharusnya, sejak dulu aku mengembangkan bisnis dalam bentuk kopi sachet.

Keesokan harinya, sambil berkeliling dengan bus–menjajakan kopi di dekat Tugu Monas, aku menceritakan semuanya kepada Ben.

Dan seperti yang sudah kuduga, ketika aku selesai bercerita, Ben langsung menggeleng. “Nggak, Jody.” Potongnya cepat. “Gue nggak mau kopi GUE dibuat dengan MESIN dan dijual dalam bentuk SACHET.” Bentaknya tegas.

“Tapi, Ben, coba pikirin, ini akan menghasilkan….”

“Lebih banyak uang?” Potong Ben sambil tersenyum mengejek. “Ada nggak sih hal lain yang lo pikirin selain uang?”

Aku terdiam.

Biasanya, jenis kalimat yang terakhir itu akan menjadi kalimat pembuka dimulainya pertengkaran kami. Ben juga tahu itu. Dia menghela napas. “Jody, coba deh lo lihat kita yang sekarang. Hutang kita udah lunas, usaha berjalan lancar. Gue udah nyaman banget bisa bikin kopi dan ketemu banyak orang.” Ben berhenti sejenak, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Gue nggak mau kehilangan semua ini.” Tandasnya.

“Gini, Ben. Gue mohon ubah cara berpikir lo.” Ujarku pelan sambil menatap Ben penuh harap. “Kalau usaha kopi sachet ini sukses, kita bisa buka kafe Filosofi Kopi lagi, bahkan kita bisa buka dua atau tiga cabang di kota lain. Lo juga bisa buka sekolah barista, sesuai impian lo itu.”

“Tapi resikonya terlalu besar, Jody.” Ben ikut memelankan suaranya. “Kalau kita jual semua yang kita punya sekarang, lalu usaha kopi SACHET terkutuk itu nggak berjalan dengan baik? Gimana? Kita mau ngapain setelah itu?”

Aku masih belum mau menyerah. “Lo sendiri yang bilang ‘kopi yang enak akan selalu menemukan penikmatnya’ gitu kan?” Tanyaku. “Walaupun bentuknya sachet, Ben’s Perfecto akan tetap disukai.”

“Nggak.”

“Sejak kapan lo jadi gini, Ben? Bukannya lo dulu cukup gila buat nantang si investor itu untuk naikin taruhan jadi satu miliar? Kali ini, kita nggak perlu nantang siapa-siapa, Ben. Kita hanya perlu menjual semua yang kita punya buat beli mesin pencetak kopi sachet.”

“Justru kalau lo nekat ngelakuin itu, lo bener-bener udah gila!” Potong Ben.

“Terserah lo mau ngatain gue apa.” Aku menatap Ben lekat-lekat. “Lo ikut atau nggak?”

“Lebih baik gue pulang kampung.” Ujar Ben, lalu bangkit berdiri dan mengemasi barang-barangnya. “Kopi GUE nggak akan pernah sama jika dibuat dengan ROBOT.” Ujarnya tanpa menoleh.

Begitulah. Ben akhirnya memutuskan untuk pulang kampung. Ketika itu, aku sempat dilanda kebimbangan. Di satu sisi, aku tidak ingin melepas barista terbaik sekaligus sahabatku sejak kecil. Walaupun Ben orangnya menyebalkan minta ampun, susah diatur, dan nyaris selalu menentang ide-ideku untuk mengembangkan Filosofi Kopi, tapi dia sudah seperti saudaraku sendiri. Berat rasanya harus melepasnya pergi. Namun, di sisi lain, aku tidak mau melepas peluang yang jika tidak diambil, akan membuatku menyesal seumur hidup.
Sambil berusaha menata hati untuk merelakan Ben pergi, aku menatap foto keluarga yang tergantung di dinding kamar. Di foto itu ada aku, kakak perempuanku–Lisa, bapak, dan ibu. Kedua orangtuaku sudah tidak ada, ibu kabur bersama laki-laki yang lebih kaya karena tidak tahan hidup pas-pasan dengan bapak. Dan bapak meninggal karena sedih ditinggal ibu.

Itu adalah masa-masa kelam dalam hidupku.

Aku tidak mau hidup seperti dulu lagi. Waktu itu, kami memang tidak sampai kelaparan, tapi tetap saja semuanya serba pas-pasan. Bahkan setelah meninggal pun, Bapak masih mewariskan banyak hutang. Tepat setelah aku berpikir seperti itu, seseorang mengetuk pintu rumahku. Ketika membukanya, Sarah, pacarku sejak setengah tahun terakhir, berdiri di depan pintu. Seperti biasa, dengan pakaian kerjanya (cardigan dan rok coklat tua), cewek itu secantik saat pertama kali aku bertemu dengannya. Ketika itu, bus Filosofi Kopi baru satu tahun berkeliling Jakarta, dan kebetulan Sarah sedang istirahat makan siang–ngomong-ngomong, dia bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi. Iya, karirnya bagus dan gajinya besar. Dan kami pun bertemu, merasa cocok, dan enam bulan lalu memutuskan untuk berpacaran.

“Sayang, kamu jadi kan melamar aku?” Itu pertanyaan pertama Sarah saat kupersilahkan masuk. Dia bahkan belum duduk.

“Iya, Sayang. Kan ketemu orangtuamu masih seminggu lagi?” Aku balik bertanya. “Sekarang aku lagi mikirin ngembangin Filosofi Kopi.”

“Bapak udah nanya-nanya terus nih.” Ujar Sarah lagi. “Kamu serius nggak sih sama aku?”

“Serius, Sayang, serius.”

“Kalau begitu dipercepat saja, besok kita ketemu orangtuaku.”

Jika sudah begini, tidak ada pilihan lain. “Oke.” Sahutku berusaha semantap mungkin.
Terpaksa aku mengesampingkan dulu urusan pembelian mesin pencetak kopi sachet. Dan memilih pergi bertemu orangtua pacarku.

Begitulah. Di hari ketika aku harus mengantar Ben ke pelabuhan, aku malah melewatkan waktu bersama keluarga Sarah. Mengobrol dengan bapak, ibu, dan kakak laki-lakinya. Dan bermain-main bersama keponakan-keponakannya. Semua berjalan baik-baik saja, sampai makan malam tiba, dan Calon Bapak Mertua bertanya kepadaku. “Apa pekerjaan Nak Jody?”

Lalu aku menjawab. “Sekarang ini saya mau membuka pabrik kopi sachet, Pak. Baru mulai merintis. Sebelumnya, saya berjualan kopi keliling.”

“Oh.”

Sepertinya Calon Bapak Mertua tidak terkesan sama sekali, maka aku segera menambahkan. “Sebelumnya lagi, saya membuka kedai kopi.”

Tidak ada perubahan.

Calon Bapak Mertua malah berhenti bertanya. Dan sepanjang sisa acara beliau memilih untuk diam. Baru ketika hendak pulang, beliau berpesan kepadaku. “Semoga pabrik kopinya sukses, Nak Jody. Setelah usaha tersebut berhasil, baru kita bicarakan lagi tentang pernikahan Nak Jody dengan anak saya.”

Aku hanya mengangguk. Sudah paham dengan maksud orangtua Sarah. Mereka belum mau menyerahkan anaknya kepada laki-laki yang belum benar-benar mapan. Mereka tentu berharap mendapatkan mantu yang–sebelum berani mengambil tanggung jawab mengurus anak orang–terlebih dahulu harus mampu mengurus dirinya sendiri.

Pulangnya, begitu keluar dari mobil, aku menemukan Ben sudah menunggu di depan rumah.

“Belom pergi lo?” Tanyaku spontan.

“Astaga, sebegitu muaknya lo sama gue?” Ben geleng-geleng kepala. “Gue cuma mampir sebentar aja, Jod. Rasanya nggak enak kalo gue belom pamit.”

Aku tersenyum, lalu berkata tulus. “Kalau gue sukses, gue bakal jemput lo lagi ke kampung. Kita bakal buka cabang Filosofi Kopi di mana-mana, dan gue butuh lo untuk melatih barista-barista muda kita.”

Ben ikut tersenyum, bukan jenis senyum bahagia, tapi senyum kasihan. “Gue tau lho PASTI bakal jemput gue ke kampung. Tapi bukan karena lo sukses, melainkan karena lo bangkrut.”

“Oke, terima kasih untuk doanya.” Sindirku.

Ben tertawa. “Yang jelas, apapun yang terjadi, lo bakal tetap jadi sahabat terbaik gue.” Ujar Ben pelan.

“Gue harap lo ngerti, Ben. Gue harus ngelakuin ini. Lo udah punya El, yang bakal mencintai lo sepenuh hati, nggak peduli lo barista atau petani. Gue beda, Ben. Gue harus sukses supaya orangtua Sarah mau menerima gue sebagai mantu.”

“Iya, gue ngerti.” Sahut Ben. Lalu dia memelukku. “Semoga sukses ngelamar si gondrong lo itu.” Lanjutnya.

Selepas Ben pergi, aku baru menyadari sesuatu. Rupanya, selain meninggalkan harapan agar aku cepat bangkrut, sahabatku itu juga meninggalkan sebuah buku untukku. Isinya resep Ben’s Perfecto, segala bahan-bahan yang diperlukan dan takarannya. Semua ditulis dengan detail di sana. Bagiku, itu saja sudah cukup sebagai bentuk dukungan.

Besoknya, aku mulai mengumpulkan uang untuk bisa membeli mesin pencetak kopi sachet itu. Mulai dari menjual bus Filosofi Kopi, sampai menarik semua tabunganku di bank. Tiga hari kemudian, mesin itu pun menjadi milikku.

Karena mesin kopi sachet itu sangat besar, dan jumlahnya banyak, aku sudah menyewa sebidang tanah untuk mendirikan pabrik. Lisa yang mengurus segala sesuatunya. Kata kakak perempuanku itu, tanah tersebut milik sahabatnya, makanya harga sewanya murah.

Setelah mesin-mesin besar itu dipasang, teknisi-teknisi yang memasangnya melatih kami–aku, Lisa, dan tiga pegawaiku–untuk menjalankan mesin itu. Beberapa sachet pun berhasil dibuat, lalu kami mencicipinya.

Hasilnya lumayan.

Walaupun kopi sachet itu tidak seenak Ben’s Perfecto dengan biji kopi Tiwus buatan Ben. Namun, untuk percobaan pertama, rasanya tidak terlalu buruk.

Produksi pertama pun mulai berjalan. Tanpa kenal lelah, mesin-mesin besar itu meracik kopi, dan mengemasnya menjadi sachet. Di dalam ruangan yang bentuknya mirip lapangan futsal itu, aroma kopi menyebar di udara, dan suara mesin mendengung tanpa henti. Dalam satu jam, sekitar tiga ribu sachet kopi berhasil dibuat. Tentu saja mesin itu masih perlu bantuan manusia untuk menyiapkan biji-biji kopi Tiwus, dan bahan plastik kemasan sachet. Tiga pegawaiku yang bertugas melakukan itu. Sisanya, dilakukan oleh mesin.
Aku sudah menyiapkan tiga buah mobil pickup untuk mendistribusikan sachet-sachet kopi ke pasaran. Baik itu restoran-restoran, kafe-kafe, dan beberapa swalayan dan mini market dua puluh empat jam. Seharian itu, semua ditangani dengan baik.

Sorenya, saat mesin-mesin itu akhirnya beristirahat, dan sachet-sachet kopi sudah disebar ke pasaran, aku duduk di kantor dengan perasaan harap-harap cemas. Menunggu telepon dari beberapa klien, yang berjanji akan memesan kembali Filosofi Kopi sachet jika konsumen mereka puas dengan rasa kopi itu.

Telepon pertama pun masuk. “Halo, Pak Budi?” Sapaku gugup.

“Halo, Pak Jody. Saya ingin memberi kabar.” Ujar suara bapak itu dari ujung sana. Aku menelan ludah. “Ternyata Filosopi Kopi sachet rasanya… LUAR BIASA!” Teriaknya.

“Ha?”

“Iya, konsumen saya sangat suka, dan untuk bulan depan, saya pesan seribu sachet lagi ya. Nanti uangnya saya transfer.”

“Terima kasih, Pak Budi.”

Lalu telepon kututup. Belum sempat merayakan keberhasilanku, sebuah telepon masuk lagi, disusul telepon yang lainnya. Semuanya bernada sama, klien-klienku puas dengan kenikmatan Filosofi Kopi dalam bentuk sachet.

Seminggu kemudian, setelah mendapat transferan dalam jumlah besar dari salah satu klien, aku mampir ke sebuah toko perhiasan, dan membeli sebuah cincin emas putih bertahta berlian.

Lalu, sambil membawa cincin itu, aku datang ke rumah Sarah. Saat pacarku itu membuka pintu, aku langsung menyodorkan cincin itu sambil berlutut. Cewek itu bengong, menunduk dengan bibir setengah terbuka.

Sedetik kemudian, Sarah melompat-lompat kegirangan. “JODY! JODY! JODY!” Teriaknya seperti anak kecil yang baru saja diberi es krim.

Demikianlah. Aku dan Sarah pun akhirnya melewati malam yang indah bersama. Semalaman, kami mengobrol di teras depan.

“Sekarang, usaha kamu kan sudah jalan. Minggu depan, jadi kan kamu ketemu lagi sama bapak, Dy?” Tanya Sarah dengan tatapan sendu.

“Tentu saja.” Sahutku mantap.

Rasanya seperti mimpi. Punya calon istri yang cantik dan baik, dan bisnis juga sedang berkembang menuju kesuksesan. Saat itu, aku merasa menjadi laki-laki paling bahagia di dunia.

Namun, namanya juga hidup. Ketika semuanya terasa begitu indah. Ada saja sesuatu yang terjadi, dan mengacaukan semuanya. Dalam hal ini, sesuatu itu berupa mesin pembuat kopi yang rusak. Iya, tiga bulan setelah kubeli, mesin terkutuk itu rusak.

Aku sudah mencoba menghubungi pengusaha yang menjual mesin itu kepadaku. Namun, dia menghilang seperti hantu. Terpaksa, produksi kopi sachet untuk minggu depan ditiadakan. Mati-matian aku mencari alasan untuk menenangkan klien-klien yang sudah memesan ribuan bungkus sachet, dan sudah membayar pula. Tentu saja mereka tidak menerima alasan macam apapun. Mereka tetap menginginkan pesanannya dikirim di akhir bulan.

Tiga hari pertama, aku mencoba memanggil tiga teknisi paling ahli yang bisa kutemukan, menyuruh mereka memperbaiki mesin terkutuk itu. Namun, ketiganya menyerah. Karena kesal bukan main, aku menendang mesin keparat itu sekuat tenaga. Mesin itu malah mengeluarkan asap, lalu meledak.

Astaga.

Aku sudah tidak bisa melakukan apapun, kecuali merumahkan pegawai, dan mencoba memikirkan cara mencari uang sekitar SATU MILYAR untuk mengembalikan biaya kopi sachet yang sudah terlanjur dibayar oleh klien, dan mengganti kerugian karena aku tidak bisa menyediakan kopi yang mereka pesan.

Di tengah pabrik yang berhenti beroperasi itu, aku duduk sendiri. Lantas, kakak perempuanku datang. “Kayaknya lo mengacau lagi ya, Jod?” Tanyanya.

“Lo bisa lihat sendiri.” Gumamku. “Sekarang gue nggak punya apa-apa lagi, selain mesin bobrok terkutuk ini, dan hutang satu milyar.”

Lisa hanya geleng-geleng kepala, lalu dia duduk di sebelahku. “Gue bawa seseorang yang bisa bantu lo, orang yang menyewakan tanah tempat pabrik ini berdiri.”

“Siapa?”

Dengan tenang, Lisa berdiri dan berjalan keluar. Aku masih kebingungan, sampai seorang perempuan lain masuk ke dalam pabrik. Wajah perempuan itu sangat kukenal, walaupun sudah lama sekali tidak melihatnya. Dia tersenyum, membuatku salah tingkah.

“Mama?”

“Iya, Jody. Mama datang untuk memban…”

“Kenapa baru sekarang datangnya? Ke mana aja selama ini? Papa meninggal karena kehilangan Mama. Aku juga kehilangan Mama.”

“Nak.”

“Sudahlah.” Potongku. Lalu, buru-buru berjalan keluar. Lisa sedang duduk-duduk di emperan pabrik. “Selama ini lo tau Mama sudah pulang kan? Kenapa lo nggak cerita?”

“Gue…”

“Sudahlah, lo sama aja kayak Mama.” Semprotku.

“Jody!”

Aku sudah tidak peduli, dan terus berjalan tanpa menoleh lagi.

Selama seminggu kemudian, aku hanya meringkuk di rumah kontrakan. Tidak keluar kamar, tidak mandi, apa lagi gosok gigi. Dan sengaja mematikan handphone, dan telepon rumah. Aku sedang tidak ingin berbicara pada siapapun. Semuanya membuat kepalaku pusing. Aku bahkan melewatkan acara pertemuan keluarga untuk membicarakan pernikahanku dengan Sarah. Setelah bangkrut dan terpuruk, aku tidak punya cukup rasa percaya diri untuk bertemu orangtua Sarah. Tidak dalam kondisi seperti ini.

Sambil meringkuk di dalam kamar, aku pun terus tenggelam dalam kebangkrutan dan rasa malu. Sampai sesuatu mengetuk-ngetuk kaca jendela kamarku. Awalnya, aku sempat mengira itu maling atau apa, namun ketika kuintip, ternyata Ben. Jadi, aku membuka jendela kamarku. Ben pun merangkak masuk melalui jendela.

“Astaga!” Seru Ben. “Penampilan lo kayak zombie. Kacau banget, lebih kacau dari gue waktu bertapa bikin Ben’s Perfecto.”

“Udah seminggu gue nggak mandi.”

“Nggak perlu dijelasin, bau lo udah menjelaskan semuanya.” Ujar Ben sambil geleng-geleng. “Tapi gue bersyukur lo masih hidup, nggak bunuh diri atau semacamnya.”

“Ngapain lo ke sini?”

Ben tersenyum, lalu menepuk bahuku. “Gue tau lo terlalu gengsi buat minta bantuan gue.” Ujar Ben pelan. “Jadi, gue jauh-jauh dari kampung, datang ke Jakarta, buat bantuin lo.”

“Tau dari mana gue butuh bantuan?”

“Kakak lo.”

“Dasar, orang itu.”

Ben tersenyum. “Dengar, Jody. Mesin pembuat kopi lo rusak, sementara lo harus nyetak lima ribu kopi sachet dalam seminggu.” Ben menghela napas. “Lo nggak bisa menghadapi masalah ini sendirian. Lo perlu gue.”

Aku hanya tersenyum. Aku memang perlu Ben.

Ben ikut tersenyum. “Dan lo juga perlu bantuan nyokap lo.”

“Nggak!” Potongku tegas. “Gue nggak per…”

“Ayolah! Lo nggak pengin dikutuk jadi batu kan?” Potong Ben cepat. “Jangan sampai lo nyesel, Jod. Lo tau nggak? Gue pengin banget ketemu ibu gue, tapi nggak bisa karena beliau udah nggak ada. Lo masih punya kesempatan, Jod. Sekali lagi, jangan sampai lo menyesal.”

Aku menghela napas.

Ben menepuk-nepuk pundakku lagi. “Tapi sebelum bertemu sama nyokap lo, ada seseorang yang juga ingin bertemu sama lo.”

Lantas, Lisa masuk ke kamar. Di belakangnya ada calon istriku, Sarah, yang sudah aku terlantarkan selama dua minggu lebih.

Aku mendekati Sarah, hendak menjelaskan semuanya. Namun, sebelum aku bicara satu kata pun, dia sudah menampar pipiku.

“Itu untuk ketidakhadiran kamu di acara lamaran.” Ujar Sarah.

“Aku…”

Sarah menamparku lagi. “Dan yang itu… supaya kamu sadar, dan bangun dari keterpurukan.” Lalu Sarah melipat kedua tangannya di dada, dia memandangku lekat-lekat.

Baru saja ingin bicara, Sarah menamparku lagi. “Dan itu supaya kamu ingat mandi.”

Aku meringis sambil mengelus-ngelus pipiku yang terasa pedas. Setelah yakin Sarah tidak akan menamparku lagi, aku pun berani berbicara. “Aku salah. Seharusnya aku terus berusaha, bukannya terpuruk seperti ini. Dan seharusnya aku datang ke acara lamaran itu. Dan aku akan segera mandi.”

Sarah menghela napas, matanya mulai berkaca-kaca. Lalu dia menghambur jatuh memelukku.

“Bagus.” Celetuk Lisa. “Sudah cukup peluk-pelukannya. Sekarang waktunya kita perbaiki semua kekacauan ini.”

“Aku akan coba pinjam uang, dan berusaha mencicil semua kerugian klien.” Ujarku lemas.

“Nggak.” Potong Ben. “Lo nggak akan ngelakuin itu. Sekali klien dibuat kecewa, mereka nggak akan mau berbisnis lagi dengan kita.”

“Terus gue harus gimana?”

“Kita bakal siapkan pesanan mereka.”

“Dengan apa? Mesin terkutuk itu sudah rusak.”

“Lo siapin aja empat tong besar, dan orang sebanyak-banyaknya untuk membungkus sachet-sachet terkutuk itu.” Ujar Ben pelan, dan dia menambahkan. “Tapi sebelumnya, lo harus ketemu sama nyokap lo dulu, dia ada di luar.”

“Astaga. Kenapa semua orang tiba-tiba datang mengunjungi gue?”

“Karena mereka khawatir dan sayang sama lo, Paman Gober.” Sahut kakak perempuanku.

Aku pun menemui ibuku di luar, tepatnya di teras depan rumah. Beliau tersenyum, aku membalas senyumannya. “Maafin Mama.” Ujarnya pelan.

“Sudahlah, Ma.” Potongku. “Ayo masuk.”

Lantas, aku membuatkan kopi untuk ibuku, yang langsung membuatnya muntah-muntah. Aku baru sadar tidak bisa membuat kopi.

Ben pun segera mengambil alih situasi dengan membuatkan kopi baru. Lalu, setelah aku mandi, kami mengobrol sampai malam. Aku, Ben, Sarah, Lisa, dan ibu, berbicara tentang mission impossible yang harus kami laksanakan. Membuat lima ribu sachet kopi dalam seminggu. Tanpa bantuan mesin.

Besoknya, tanpa membuang lebih banyak waktu, kami langsung bekerja. Aku membeli empat buah tong besar, sebesar drum minyak tanah. Kata Ben, itu akan digunakan untuk mencampur kopi. Dia pun memberi contoh cara menumbuk kopi yang baik dan benar, menggunakan penumbukan batu di depan 'pegawai-pegawai’ kami. Sudah ada dua puluh orang yang berhasil kami kumpulkan, yang terdiri dari aku, Ben, Sarah, Lisa, ibu, dan tiga pegawaiku. Sisanya, kami mengumpulkan ibu-ibu tetangga dekat pabrik dan anak-anak mereka yang berstatus pengangguran tak berguna.

Di bawah arahan Ben, mereka bekerja dengan giat. Ada yang menumbuk biji kopi Tiwus di penumbukan batu. Ada yang memotong-motong kemasan sachet. Dan khusus untuk Ben, dia bertugas mengecek semua bahan-bahan itu supaya takarannya pas. Aku sendiri sibuk menelepon klien, mengabari bahwa kami sanggup memenuhi semua pesanan yang sudah dibayar. Seharian itu, kami bekerja keras. Sampai akhirnya seribu sachet berhasil dibuat, barulah kami beristirahat. Di hari ketiga, seluruh pesanan sudah dikirim. Dan karena pesanan kali ini ditangani langsung oleh Ben, maka para klien mengaku bahwa konsumen mereka sangat suka dengan rasa Filosofi Kopi sachet yang terakhir ini.

Di pabrik, saat semua pegawai 'dadakan’ sudah membubarkan diri (tentunya setelah menerima gaji), aku dan Ben duduk-duduk di emperan pabrik untuk merayakan keberhasilan. Dan ibuku menghampiri kami.

“Jody.” Panggilnya. “Mama akan membelikanmu mesin pencetak kopi yang baru, yang nggak murahan. Bagaimana menurutmu?”

“Nggak usah, Ma. Nanti suami Mama marah lagi.” Ujarku kalem. Ben langsung menyikutku. “Maksudnya, nanti ngerepotin Mama.” Ralatku cepat.

“Nggak pa-pa. Mama pengin bantuin kamu, Jody. Hanya ini yang bisa Mama lakukan.”

Aku menatap wajah ibuku, dan merasa tidak enak. “Iya, iya, aku terima, Ma.”

“Yaelah, bilang 'iya’ aja kok repot.” Ben menyeletuk.

Aku pun memeluk ibuku. Dan rasanya menyenangkan akhirnya bisa punya ibu lagi.

Begitulah. Sebulan kemudian, sesuai janjinya, ibu membelikanku mesin-mesin baru. Kali ini, Ben sendiri yang memilihnya. Ben sengaja memilih mesin yang memungkinkannya meramu sendiri kopi sebelum dikemas. Dan untuk menggantikan kartu-kartu filosofinya, Ben juga menyertakan tulisan tentang filosofi setiap jenis kopi di masing-masing bungkus sachet.

Selain pabrik Filosofi Kopi, dengan keuntungan yang berhasil kudapat, aku kembali membuka kafe Filosofi Kopi, bahkan dengan dua cabang baru di Yogjakarta dan Bali. Kami juga kadang masih berjualan menggunakan mobil di konser-konser musik, atau pameran kopi, atau di mana pun yang ada keramaiannya.
Setelah semua kembali berjalan normal, akhirnya aku merasa cukup mapan, dan percaya diri untuk melamar Sarah langsung di hadapan kedua calon mertuaku.

Mereka pun setuju.

Pernikahan kami akan dilangsungkan tiga bulan lagi.

Dan seperti yang sudah kuduga, di acara lamaran itu, aku berhadapan kembali dengan pertanyaan yang sama. “Kerja di mana, Nak Jody?”

Kali ini, aku sudah punya jawabannya. Dan kebanyakan yang mendengar akan bilang 'WOW’ sambil manggut-manggut, waktu aku menjawab dengan kalem. “Saya nggak kerja sama orang. Saya pemilik Filosofi Kopi.”