Kamis, 08 Desember 2016

14 MAWAR UNTUK ANA

Henry menatapku sambil tersenyum. "Apa kamu mau jadi istriku, Ana?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Iya, aku mau jadi istrimu, Henry." sahutku sambil ikut tersenyum. Berusaha semanis mungkin.

Kira-kira begitulah potongan dialog di akhir cerita ini. Namun, sayang sekali, ini bukanlah kisah happy ending.

Semuanya berawal dari malam perayaan yang penuh keceriaan dan sukacita, lalu tiba-tiba berubah jadi kekacauan. Bahkan, sebelum satu pun kembang api meledak menghiasi langit malam, sebagian besar penonton berlarian panik tak tentu arah di jalanan, seolah rumah mereka terbakar dan mereka harus segera pulang untuk memadamkannya. Kemudian suara-suara sirine mulai terdengar di kejauhan, semakin lama semakin mendekat.

Aku masih kebingungan dengan perubahan situasi itu ketika, tidak lama, tiga ambulan melintas tepat di sampingku. Melaju kencang bagai sedang balapan, berbelok di tikungan lalu menghilang. Hanya suara sirinenya yang masih terdengar, itu pun pelan-pelan melemah di kejauhan. Sesuatu yang buruk telah terjadi, pikirku. Aku harus mencari Henry, pikirku lagi.

Sebelumnya, aku sedang menunggu laki-laki itu. Karena hari ini hari ulang tahunku, 14 Juli, dan aku sedang menonton perayaan Hari Nasional Perancis atau Hari Bastille, sambil menanti Henry, dia pacarku, eh, mungkin calon suami? Hmm, atau lebih tepatnya, dia adalah pacarku—yang kebetulan minggu lalu, secara tiba-tiba melamarku.

Begitulah.

Namun, sekarang aku benar-benar jadi cemas, dan mulai menyesal tidak langsung menjawab lamarannya.

Ketika itu, di hari Henry melamarku, dia datang ke tempatku bekerja—sebuah kantor penerbitan majalah di Perancis. Di depan rekan-rekan kerjaku, di kafe kantor, dia berlutut, sambil berkata. "Aku cinta kamu, Ana. Apa kamu mau menerima cintaku?" Dia berlutut di bawah sana, sambil menjulurkan sebuah cincin padaku. Cincin emas, dengan berlian besar di atasnya.

Dan aku cuma bisa duduk terperangah. Aku terlalu kaget untuk menjawab. Jangankan memberi jawaban, bersuara pun rasanya tak sanggup. Namun, setelah bisa menguasai diri, aku menjawab. "Beri aku waktu, seminggu lagi, aku akan memberimu jawaban."

Henry tersenyum, agak kecewa, namun dia berusaha tegar. Lalu dia pulang.

Aku sedih melihatnya seperti itu, tapi mau bagaimana lagi. Aku belum bisa menjawabnya langsung. Perlu waktu. Dan selama seminggu menunggu, tentu aku dan Henry tetap bertemu, dan berusaha bersikap sewajar mungkin. Aku menggunakan pertemuan itu untuk bertanya hal-hal yang menurutku perlu aku ketahui.

"Apa yang membuatmu yakin untuk menjadikan aku sebagai istrimu?" tanyaku ketika kami bertemu di sebuah kafe di pinggiran Kota Nice.

"Karena kamu cantik."
Aku memutar bola mata. "Dari banyak kemungkinan jawaban, 'karena kamu cantik' adalah jawaban paling akhir yang aku harapkan." sahutku setengah mengomel.

Henry tersenyum. "Sejujurnya, aku nggak tau. Aku hanya yakin, bahwa kamulah orangnya, Ana." ujarnya. Aku masih terdiam, jadi Henry melanjutkan. "Kita sudah lama saling kenal, aku rasa kita cocok. Kita berdua sudah mandiri, mapan. Kamu editor majalah besar, dan bisnis sepatuku sedang bagus-bagusnya. Dan yang paling penting, aku nyaman denganmu. Dan aku merasa, kamu juga begitu padaku."

Aku tersenyum. Walaupun tidak terlalu memuaskan, tapi aku suka jawaban itu. Dan sebenarnya, jawabanku atas lamaran Henry sudah jelas, dan singkat saja. "Iya." Tentu aku mau jadi istri Henry. Dia laki-laki baik dan seperti yang dia katakan tadi... mapan. Dulu, dia kakak kelasku yang paling ganteng di kampus. Tinggi menjulang dan gagah bukan main, rambutnya hitam, dan matanya hijau cerah dengan tatapan yang tajam. Kami bersahabat sudah hampir sepuluh tahun dan pacaran sejak satu tahun terakhir. Sebelum akhirnya Henry merasa cukup siap untuk melamarku. Dan aku menyuruhnya menunggu selama seminggu, supaya lamaran tersebut bisa kujawab tepat pada hari ulang tahunku, rasanya pasti lebih spesial. Itu saja.

Namun, sekarang aku menyesal.

Kembali ke malam tanggal 14 Juli yang mencekam. Semakin mendekati jalan Promenade des Anglais—yang tadinya akan dijadikan tempat pesta kembang api, suasana semakin mendebarkan. Orang-orang berlarian, terdengar teriakan-teriakan di mana-mana, dan sepertinya aku juga mendengar beberapa kali suara tembakan. Aku takut, namun bertekad harus menemukan dia. Sambil berjalan, aku menyapukan pandanganku ke sekitar, mencari satu wajah yang kukenal. Di mana dia?

Aku terus berjalan, melawan arus orang-orang yang berlarian tak tentu arah. Di salah satu sudut jalan, tiga ambulan sudah berhenti, para petugas tampak mengangkat semacam tandu. Dan aku tercekat. Di atas tandu itu berbaring...

Oh, ya ampun.

Aku menutup mulut saking kagetnya, ada sesosok tubuh yang tergeletak lemah di sana. Sepertinya sudah meninggal. Wajahnya penuh darah, tangannya menggantung pasrah di tepi tandu. Kaget bukan main, aku terdiam lama di sana. Namun, karena didorong keinginan untuk menemukan Henry—keberanian untuk melangkah muncul kembali, pelan-pelan, aku berjalan ke sebelah kiri sehingga tiga ambulan itu tidak lagi menghalangi pandanganku. Dan sepanjang jalan, tampak tubuh-tubuh bergelimpangan. Jalanan aspal itu berubah jadi merah, penuh genangan darah. Ya Tuhan...

Henry...

Aku berjalan melalui tiga ambulan itu, sepintas melihat wajah-wajah mereka yang tergeletak di ambulan dan jalanan. Namun, tidak kutemukan Henry. Aku terus melangkah melalui tubuh-tubuh yang bergelimpangan di jalan.

Di ujung jalan itu, sebuah truk besar terparkir dengan posisi tidak normal. Dan di beberapa badan truk ada lubang-lubang yang mengeluarkan asap. Beberapa polisi tampak mengelilingi truk itu, dan petugas berpakaian putih-putih mengeluarkan sesosok tubuh penuh darah dari belakang kemudi truk. Buru-buru aku berlari meninggalkan tempat itu.

Sebagian tubuh-tubuh yang tergeletak di jalanan sudah diselimuti kain putih, entah siapa yang berinisiatif melakukannya. Di depanku, ada juga seluet orang-orang yang berjalan linglung, menyingkap kain-kain itu. Mungkin sama sepertiku, sedang mencari anggota keluarga, atau sahabat, atau kekasihnya. Oh, Henry...

Aku pun kembali melangkah pelan-pelan, setiap kali orang di depanku membuka kain-kain itu, aku ikut mengintip, merasa ngeri namun berusaha kutahan. Setiap kali kain-kain putih tersebut dibuka, aku berharap itu bukan Henry. Dan sejauh ini, harapanku terkabul.

Tidak jauh dari tempatku berdiri, ketika memandang ke depan, aku menemukan seorang laki-laki berdiri membelakangiku, dia membawa seikat mawar merah. Dan aku jadi teringat, kebiasaan Henry untuk memberiku 14 mawar merah di hari ulang tahunku. Itu pasti dia.

"Henry!" panggilku. Namun, dia tidak mendengar. Tidak apa-apa, yang penting dia selamat, pikirku. "Henry!" panggilku lagi. Kali ini sambil berlari ke arahnya.

Henry menoleh ke belakang, namun tidak ke arahku. Pandangannya tertuju ke bawah. Ke sosok tubuh yang tergeletak di sebelahnya. Lalu riak di wajah Henry berubah seketika. Dia menangis, berlutut dan memeluk tubuh itu.

"Henry? Kenapa?" tanyaku ketika berada di depannya.

Aku menunduk, dan melihat tubuh yang dipeluk Henry. Dan seketika tertegun. Itu aku.

Itu aku, batinku sekali lagi.

Tiba-tiba, bagai kilatan cahaya, aku ingat semuanya. Beberapa menit yang lalu, aku sedang menunggu Henry persis di sini, di tempat ini. Menanti pesta kembang api, aku mengirim pesan singkat kepadanya, bahwa aku sudah ada di tempat kami janjian dan sedang menunggunya, dan jangan lupa mawar-mawarnya. Begitu memasukkan handphone ke kantong celana jeans, sesuatu menghantamku dengan keras dari belakang. Lalu tiba-tiba aku sudah ada di sisi jalan, bingung dengan kekacauan yang terjadi, dan memutuskan mencari Henry.

Dan sekarang, aku sedang menatap laki-laki yang kucintai sedang meraung sambil memeluk... tubuhku... yang berlumuran darah. Merah yang kontras dengan warna kulitku yang putih, rambut pirangku yang sepanjang bahu berantakan menutupi wajah, dari bibir keluar cairan merah, dan mataku yang sedikit terbuka menampakkan bola mataku yang berwarna biru. Kosong, tak menatap ke mana pun.

Aku terperanjat.

Tak sanggup melangkah ke tempat lain, hanya termenung di jalanan itu. Diam di sana. Sampai jalanan sepi, sampai matahari terbit, sampai hari berganti. Dan aku mulai mendengar desas-desus di jalanan, bahwa kejadian di malam menyedihkan itu adalah sebuah serangan teroris. Serangan itu dilakukan oleh seorang laki-laki asal Tunisia, mengendarai truk secara membabibuta, menabrak orang-orang di jalanan.

Malam itu, 84 orang meninggal, termasuk aku.

Setelah dua hari terkatung-katung di jalanan, aku memutuskan untuk pulang. Aku berjalan (hmmm, mungkin lebih tepatnya melayang) menuju rumah, melihat orang-orang sibuk menyiapkan upacara pemakamanku.

Ibuku tidak henti-hentinya menangis. Tentu saja begitu, dia ibuku. Dan aku anak tunggal, hanya aku yang dia miliki, setelah bercerai dari ayah. Sedangkan ayah, tentu juga hadir, tapi terlihat lebih tegar. Dia pria yang baik sebenarnya, cuma agak keras kepala. Semoga kejadian menyedihkan ini bisa membuat mereka bersama lagi, aku sempat berharap.

Ketika itu, aku melihat Henry berdiri di samping peti matiku. Dia mencium keningku, maksudku, kening tubuhku yang terbaring di peti mati. Rupanya tubuhku sudah dirias, tampak cantik seolah aku belum mati dan hanya tertidur.

Lalu kudengar Henry berkata. "Selamat ulang tahun, maaf tahun ini aku mengucapkannya agak telat." Henry memejamkan mata sebentar, kemudian kembali menatapku. "Aku akan merindukanmu, dan masih menunggu jawabanmu."

Henry menatapku sambil tersenyum. "Apa kamu mau jadi istriku, Ana?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Iya, aku mau jadi istrimu, Henry." sahutku sambil ikut tersenyum. Berusaha semanis mungkin.

Punggung Henry mulai bergetar, dia menangis, namun cepat-cepat menghapus air matanya. "Aku berharap, sekarang kamu berapa di tempat yang lebih indah. Selamat jalan, Cantik." ujarnya pelan. Dia meletakkan seikat mawar di atas tubuhku. 14 mawar, aku menebak. Sebagai simbol hari kelahiranku, yang sekarang juga adalah hari kematianku.

Aku tersenyum, menatap ke luar, ke arah pintu rumahku yang sudah dipenuhi cahaya putih terang. Dan aku tahu, sudah waktunya untuk pergi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar