Minggu, 28 Februari 2016

Metafora Tiwi

Cerpen ini adalah cerpen duet saya dengan salah satu teman menulis, Billa dari grup CircleWriters di LINE. Awalnya saya sedang menjadi silent reader di grup itu, yang seingat saya, waktu itu, sedang membahas bahwa grup sedang sepi atau semacamnya. Lalu, saya berinisiatif untuk membuat ramai dengan main cerita bersambung. Jadi, saya menulis kalimat pembuka cerpen ini, yaitu: "Pada suatu masa di Kota Jakarta, hiduplah seorang cewek bernama Tiwi. Dia punya cita-cita ingin jadi penulis. Dan memiliki sebuah karya yang mengesakan."

Saya pun menunggu.

Dari 60-an orang yang ada di grup itu, Billa merespon dengan baik ajakan untuk menulis bareng ini, dia menambahkan satu kalimat: "Tetapi takdir berkata lain." Lalu saya menambah satu kalimat lagi, setelah itu Billa lagi. Begitu terus sampai cerpen ini selesai. Memang pada akhirnya, kami tidak hanya saling menambahkan satu kalimat, karena lama-lama—entah karena kami terlalu bersemangat, sekali mendapat giliran, saya dan Billa bisa menulis satu sampai dua paragraf. Dan kami pun menyelesaikan cerpen ini hanya dalam waktu beberapa jam. Dari siang hingga sore.

Bagi saya, rasanya menyenangkan sekali bisa menulis secara duet seperti ini. Dan saya berharap, semoga kamu juga bisa menikmati cerita ini. Selamat membaca!

 ***





Pada suatu masa di Kota Jakarta, hiduplah seorang cewek bernama Tiwi. Dia punya cita-cita ingin jadi penulis, dan memiliki sebuah karya yang mengesankan.

Tetapi takdir berkata lain.

Orangtuanya—terutama ayahnya, tidak menyetujui cita-citanya itu, dan lebih suka agar Tiwi fokus dulu belajar. Rencananya, setelah lulus sekolah nanti, Tiwi akan dikuliahkan oleh ayahnya, dia diwajibkan belajar dengan baik, supaya cepat tamat, dan bisa langsung lulus tes PNS.

Demi membuat kedua orangtuanya bahagia, Tiwi pun mengesampingkan hobinya. Dia menjadi pribadi yang sangat berbeda, namun ketika tak ada yang melihat, dia tetap berkarya. Menyimpan semua hasil tulisannya dalam sebuah buku yang tidak diketahui oleh siapapun.

Demikianlah Tiwi terus menjalani hidupnya, belajar dengan baik, dan di waktu-waktunya yang santai, dia terus menulis dan menulis. Tiwi ingin membuat sebuah novel. Sebuah karya yang kelak bisa menyentuh banyak hati.

Tiwi terus menulis, hingga suatu hari, tiba-tiba ayahnya mengalami sakit keras yang membuatnya didera rasa bersalah karena telah membohongi beliau. Tiwi pun berkata jujur, tentang apa yang selama ini ia lakukan di belakang ayahnya.

Di tengah batuk-batuk yang tiada henti, ayahnya memaksa Tiwi untuk berjanji. "Nak, janji sama ayah, kamu jangan nulis lagi. Kamu janji harus fokus belajar biar bisa jadi PNS."

"I-Iya, Ayah." Sahut Tiwi getir. Dia menangis di dalam hati.

Ayahnya mengangguk lemah. "Ayah bangga dan sayang padamu, Nak. Ayah ingin kamu bahagia."

Mendengar ucapan ayahnya, rasanya Tiwi ingin menjerit bahwa dia tidak mungkin bisa merasa bahagia tanpa menulis. Namun, Tiwi hanya mengangguk, menelan bulat-bulat segala kekecewaan. Biarlah mimpinya terkubur, yang penting ayahnya sembuh dan sehat seperti sedia kala.

Malam itu juga, Tiwi memasukkan semua tulisannya ke dalam sebuah peti, termasuk naskah novel yang sedang ia kerjakan. Lalu peti itu digembok, dan kuncinya dia buang ke selokan depan rumah. Selamanya, Tiwi tidak akan menulis lagi, sesuai janjinya pada sang ayah.

Semenjak itu, hidup Tiwi kelam dan suram. Ia memang berhasil lolos SMPTN, berhasil membuat kedua orangtuanya bangga. Prestasi demi prestasi ia torehkan, namun jiwa Tiwi seakan hampa dan tanpa makna. Ia merasa terkekang dan letih, hingga suatu saat ia melihat poster lomba mengarang tingkat nasional yang ditempel di mading kampusnya.

Tiwi bimbang. Apa lagi, sahabat baiknya, Adipati, terus menyemangatinya agar mengirim salah satu naskah novelnya ke lomba itu. Adipati yakin, naskah itu cukup bagus untuk menjadi pemenang. Namun, Tiwi tetap ragu, karena teringat janjinya pada sang ayah. Selama tiga hari, setiap malam, Tiwi dilanda perasaan galau.

Akhirnya, ia memantapkan tekad. Tiwi pun membuka petinya—dia memang tidak pernah benar-benar berniat berhenti menulis, Tiwi masih menyimpan dengan baik kunci cadangannya, agar sewaktu-waktu bisa membuka peti itu.

Setelah peti terbuka, Tiwi mengambil salah satu naskah terbaiknya, lalu mengirimkannya kepada panitia lomba. Dia berjanji pada dirinya sendiri, ini akan menjadi kali terakhirnya mengecewakan kedua orangtuanya. Lagipula, jika ia menang, tidakkah ayah dan ibunya akan merasa bangga padanya?

Setelah mengirim naskah itu, selama hampir tiga bulan, Tiwi menunggu dengan harap-harap cemas. Tidak mau terlalu berharap, tapi jelas-jelas dia memang berharap bisa jadi pemenang. Dan itu membuatnya cemas. Bagaimana kalau ayah tau? Tiwi mengacak-acak rambutnya. Uh! Sial! Umpatnya dalam hati. Seharusnya aku nggak ngirim naskah itu untuk ikut lomba! Seharusnya aku belajar saja dengan baik tanpa mendengar ocehan si Adipati yang sok tau itu. Tiwi menjadi semakin galau.

Suatu hari, ibunya memanggil Tiwi setelah makan malam. Ayahnya sudah duduk di meja makan, di tangannya terdapat amplop bertuliskan: LOMBA MENGARANG NASIONAL, dan di bawahnya terdapat tulisan kecil 'Juara 1'. Jantung Tiwi berdegup cepat, setengah karena dia tidak percaya dirinya juara satu, setengah karena dia takut ayahnya akan memarahinya. Perlahan, Tiwi duduk di hadapan ayahnya.

"Apa ini?" Tanya ayahnya sambil menyodorkan amplop coklat itu.

Tiwi sudah mau menangis, tapi ditahannya. "Am-amplop, Ayah." Sahut Tiwi nyaris tak terdengar.

"Ayah juga tau itu amplop." Sahut ayahnya. "Isinya apa?"

"Belum tau, kan belum liat." Sahut Tiwi.

Ayahnya menggebrak meja, membuat Tiwi tersentak. "Kalo gitu buruan liat."

Tanpa menunggu lebih lama, Tiwi membuka amplop itu dan benar saja, dia mendapat juara satu nasional. Hati Tiwi mau meledak saking senangnya, namun dia tidak bisa mengekspresikan kebahagiaan itu di depan ayahnya.

"Mulai sekarang, terserah kamu aja, Tiwi. Ayah sudah tidak peduli lagi." Ayahnya berdiri, masuk ke kamar dengan membanting pintu sampai salah satu foto keluarga terjatuh, dan pecahan kacanya berserakan di lantai.

Tiwi menahan air mata yang sudah mau melesak keluar. Ia tahu ia salah, tapi apakah dirinya sama sekali tidak boleh menyalurkan hobinya? Akhirnya, satu isakan keluar dari bibirnya. Kemudian disusul oleh isakan lagi, hingga akhirnya ia menangis histeris hingga pundaknya bergetar hebat. Ibunya mengusap pundaknya sesaat, lalu duduk di sebelahnya.

"Ayah kamu benar, Tiwi. Kamu harus fokus pada sekolahmu. Apa pentingnya menulis?" tanya ibunya, membuat hati Tiwi semakin sakit dan nyeri.

Tiwi tidak menjawab. Ia hanya mengambil amplop coklat itu, merobeknya hingga puluhan robekan kecil, lalu menjerit, "Ibu puas sekarang? Ibu puas?! Tiwi selama ini udah berjuang demi kebahagiaan ayah dan ibu! Tiwi nggak butuh jadi juara satu! Tiwi hanya butuh ayah dan ibu buat bangga sama Tiwi!"

Dengan banjir air mata, Tiwi masuk ke kamar dan menjatuhkan dirinya di kasur. Isakannya semakin menjadi-jadi. Lalu handphone-nya berbunyi.

"Halo?" Sahut Tiwi dengan suara bengek.

"Tiwi? Kamu kenapa?" Sahut Adipati di ujung sana.

"Gara-gara kamu, aku dapat juara satu nasional!" Semprot Tiwi sebal.

"Ha? Serius? Bagus dong! Selamat ya, Tiwi!" Seru Adipati antusias. "Aku bangga sama kamu."

"Jangan ganggu hidupku lagi, Di. Please." Ujar Tiwi sambil terisak. "Semuanya masih baik-baik saja sebelum kamu nyuruh aku ikut lomba itu. Seharusnya aku nggak ikut!"

"Bakat kamu terlalu besar untuk disia-siakan."

"Apa pedulimu?"

"Jelas aku peduli. Aku..." Kalimat Adipati terhenti sejenak, sebelum dia melanjutkan. "Aku suka sama kamu, Tiwi."

"Ha?"

"Dari pertama kita ketemu tiga tahun lalu, aku sudah suka sama kamu."

"Jangan ganggu aku lagi!" Teriak Tiwi sekali lagi. Lalu telepon ditutup.

Keesokan harinya, Tiwi berpapasan dengan Adipati. Tiwi mengalihkan pandangan, namun tiba-tiba Adipati menahan tangannya.

"Aku minta maaf kalau ucapanku kemarin membuatmu tidak nyaman," ujar Adipati.

Tiwi menatap mata Adipati yang menatapnya dengan tatapan tenang itu. Tiwi menggeleng pelan. "Bukan salah kamu, Di."

"Kamu mau cerita kenapa kemarin kamu marah-marah?"

Tiwi menggeleng lagi. Ia kembali teringat akan amplop coklat itu, yang sudah hancur ia robek-robek. Entah bagaimana kelanjutan lomba itu.

Adipati menggenggam tangan Tiwi. "Nggak pa-pa kalau kamu nggak suka aku. Aku memang gak terlalu berharap. Tapi aku sangat berharap kamu bisa jadi penulis betulan." Adipati menatap mata Tiwi sendu. "Dan aku punya satu cara agar ayahmu mau berubah pikiran."

"Apa?"

"Gunakan keahlianmu."

"Keahlianku?"

"Iya, tulis semua kegalauan hatimu dalam sebuah cerita. Dan kirim cerita itu kepadaku." Ujar Adipati.

Tiwi menghela napas. "Terakhir kali aku menuruti saranmu, aku dimarahi habis-habisan oleh ayah. Beliau sampai membanting pintu dan menghancurkan foto keluarga. Jadi buat apa aku mengikuti saranmu lagi?"

"Percaya sama aku." Sahut Adipati singkat.

Ragu, Tiwi mengangguk. Malamnya, dia pun menulis sebuah cerita tentang apa yang dia alami, tentang keinginannya menjadi penulis, dan tentang ayahnya yang tidak merestui keinginannya itu. Setelah tulisannya rampung, Tiwi mengirimkannya kepada Adipati melalui email. Dan entah apa yang dilakukan cowok itu, namun pagi harinya, cerita yang ditulis Tiwi sudah dimuat di sebuah koran lokal. Koran yang biasa dibaca oleh ayah Tiwi.

Paginya, ketika Tiwi tengah menikmati sarapan dengan kedua orangtuanya, ayahnya membuka koran yang biasa ia baca. Awalnya Tiwi tidak menyadari apapun, mulai dari kening ayahnya yang berkerut hingga ekspresi sedih ibunya yang ikut membaca.

"Tiwi," panggil ayahnya. "Kamu menulis ini?"

Tiwi mendongak. "Menulis apa, Yah?"

"Ini, cerita yang dimuat di koran ini."

Tiwi mengambil koran tersebut dari ayahnya dengan pelan, lalu membaca judul cerpen tersebut. Dia langsung tahu bahwa ini ulah Adipati. Lalu matanya beralih takut-takut ke arah ayahnya. "Iya, Yah. Maaf. Ayah boleh marah sama Tiwi, Tiwi tahu Tiwi salah."

Tanpa sepatah kata pun, ayahnya langsung berangkat ke kantornya di sebuah instansi pemerintah. Baru saja memasuki ruangannya, seorang anak buahnya menghampiri.

"Maaf, Pak. Prahastiwi Ardhia itu anak bapak kan?" Tanya si anak buah.

Sang ayah mengerutkan kening. "Iya, memangnya kenapa?"

"Anak bapak sangat berbakat dalam menulis. Anda beruntung punya anak secerdas itu."

"Ngomong apa sih kamu. Sana kerja." Ujar sang ayah, namun dia senang karena anaknya dipuji.

Belum sempat duduk di ruangannya, giliran atasannya yang memanggil.

"Ada apa bapak memanggil saya?" Tanya sang ayah.

"Prahastiwi Ardhia itu putri bapak?" Tanya Sang Atasan.

"I-iya. Kenapa, Pak?"

Sang Atasan tersenyum. "Saya baca cerpennya di koran. Saya sangat tersentuh." Ujarnya. "Sebaiknya putri bapak diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Jangan terlalu keras sama anak yang masih remaja, Pak." Lanjut Sang Atasan.

"Baik, Pak."

Selama jam kerja, sang ayah banyak merenung. Sepanjang jalan menuju pulang juga sang ayah merenung. Apa aku terlalu keras sama Tiwi? Tanyanya dalam hati.

Di rumah, ayah Tiwi langsung berjalan menuju kamar anak semata wayangnya. Ia membuka pintunya sedikit, dan melihat bahwa Tiwi tengah belajar dengan serius, beberapa buku tampak menggunung di atas meja. Ayahnya tersenyum. Tiwi punya kesadaran belajar sendiri, sebenarnya saya tidak perlu memaksanya.

Begitulah, ayah Tiwi kembali berlalu dari pintu kamar anaknya. Meninggalkan Tiwi yang tengah menekuni bukunya dengan penuh keterpaksaan, sementara di otaknya tengah mengalir ide-ide yang sama sekali tidak bisa ia salurkan.

Sebelum tidur, sekali lagi ayahnya masuk ke kamar Tiwi, dan melihat anaknya sedang duduk di tempat tidur.

"Boleh ayah bicara?" Tanyanya.

Tiwi mengangguk. "Boleh."

Ayahnya pun duduk di samping Tiwi, menatap lembut anak gadisnya itu. "Tadi, di kantor, ayah banyak merenung. Ayah menatap ikan di akuarium."

"Ikan?"

"Iya, ayah berpikir, seandainya ikan itu dikeluarkan dari air dan diletakkan di tanah. Tentu ikan itu akan tersiksa dan mati."

"Terus?"

"Tapi tentu saja ayah tidak tega melakukan itu. Dan ayah jadi mikirin kamu. Melarangmu menulis sama kayak meletakkan ikan di darat. Kamu pasti tersiksa, dan ayah minta maaf karena baru menyadari itu." Ayahnya menghela napas. "Sekarang kamu bebas menulis apapun yang kamu suka. Ayah janji nggak akan melarang lagi."

"Makasi, Ayah." Tanpa bisa dihalangi lagi, Tiwi menghambur jatuh memeluk ayahnya. Sang ayah mengusap rambut Tiwi penuh sayang.

Setelah ayahnya keluar dari kamar, Tiwi pun mengambil handphone-nya dan menghubungi Adipati. Tidak sabar rasanya memberitahu berita baik ini.

Adipati menjawab panggilan Tiwi pada dering pertama. "Halo? Kenapa, Tiwi?"

Mendengar suara Adipati saja sudah membuat Tiwi senang setengah mati. Ia memeluk bantalnya, telungkup di atas tempat tidur. "Adipati, aku sangat senang hari ini. Kamu tahu kenapa?"

"Coba kutebak, apakah ayahmu memperbolehkanmu menulis lagi?"

Tiwi tertawa. "Di, aku sangat berterima kasih padamu. Terima kasih juga sudah bersabar menghadapiku yang kemarin marah-marah."

Tiwi dapat merasakan Adipati tersenyum di ujung sana. "Aku juga senang kalau kamu senang."

Hening sejenak. Tiwi tidak tahu harus berkata apa lagi. Hatinya terlalu senang untuk sekadar berkata-kata. Hingga tiba-tiba Adipati berdeham.

"Aku masih menunggu jawabanmu, omong-omong," ujar Adipati.

"Soal apa?"

"Saat aku berkata kalau aku menyukaimu. Kamu belum bilang kalau kamu menyukaiku juga atau tidak. Aku nggak memaksamu, aku hanya ingin tahu. Seperti yang aku katakan kemarin, aku gak berharap terlalu tinggi."

Hening lagi.

"Tapi... Aku nggak bisa ngasih jawabannya lewat telepon." Ujar Tiwi. "Aku mau ngomong langsung."

"Turun."

Kening Tiwi berkerut. "Turun?"

"Iya, turun. Aku ada di depan rumahmu."

"Ha?" Buru-buru Tiwi membuka jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Dan benar saja, Adipati ada di bawah sana. Cowok itu mengangkat tabletnya tinggi-tinggi dengan kedua tangan. Di layar tablet itu ada tulisan: "TIWI, MAU NGGAK JADI PACARKU?"

Tiwi terperangah beberapa saat. Lalu Adipati berteriak. "MAU?"

Tiwi tersenyum, lalu mengangguk. "MAU!"

Cewek itu pun berlari turun, lalu keluar dan memeluk Adipati erat. Sekarang dia boleh menulis apa pun yang dia mau, semuanya karena cowok yang sedang dia peluk ini. Sinar bulan tampak benderang di atas sana, dan malam tidak pernah seindah ini.

5 komentar:

  1. Baguuuss.
    Eh saya mau dong dimasukin. Maksudnya ke grup LINE. Id saya: hadikurz :D

    BalasHapus
  2. Keren tante. Lanjutkan menulis

    https://jildhuz.wordpress.com/2016/03/06/modus-presentasi-mlm-member-banyak-yang-berdiri-di-belakang-dan-teriak/

    BalasHapus
  3. waaaa keren, terutama oleh proses penulisannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assslih... emang keren banget tulisanya mbak :3 nice writting
      Aplikasi Karaoke Android

      Hapus
  4. wahhh ini nih kerreeen :D , yuk traveling biar dengan membuka situs http://goonesia.com

    BalasHapus