Rabu, 13 Mei 2015

Mencari Rana yang minggat dari rumah

Pada hari minggu pagi, Widi sedang menikmati nyamannya kasur dan selimut yang hangat, saat mendengar kabar bahwa sahabatnya—Rana, kabur dari rumah, dan kemungkinan besar akan bunuh diri.

Kabar itu langsung didapatnya dari orang tua Rana, yang menelepon Widi pagi-pagi sekali, tepat ketika dia sedang berciuman dengan Justin Bieber di dalam mimpinya.

Hal itu lumayan membuatnya kesal, namun hanya sebentar, karena Widi langsung mengkhawatirkan sahabatnya itu. Masalahnya, bukan kali ini saja Rana pernah mencoba untuk bunuh diri. Dulu, dia pernah kejang-kejang karena menenggak obat sakit kepala dan minuman beralkohol secara bersamaan, hanya karena anggota boyband kesayangannya, si Zayn Malik keluar dari One Direction. Waktu itu, Widi tidak habis pikir, bagaimana mungkin Rana mau bunuh diri hanya karena seorang cowok brewokan yang memutuskan keluar dari sebuah boyband. Nggak penting banget, pikirnya. Widi bahkan tidak bisa membedakan tampang Zayn Malik dengan Ridho Rhoma, kecuali mereka membuka baju. Karena salah satunya memiliki bulu dada selebat Hutan Amazon.

Bagaimana pun, itu hal paling bodoh yang pernah Widi dengar. Dia memang tidak pernah peduli dengan artis-artis luar negeri. Kecuali satu kali, ketika Justin Bieber putus dengan Selena Gomez, dia merayakannya dengan menraktir teman-teman satu kelas.

Setelah menerima telepon dari orang tua Rana, Widi duduk di kasurnya sambil merenung. Tadi, orang tua Rana mengatakan bahwa anaknya yang cengeng itu meninggalkan surat yang berisi sebuah kalimat petunjuk.

"Sebelum semua terlambat, carilah aku di tempat bertemunya daratan dan lautan."

Hanya begitu saja.

Seolah kalimat itu telah cukup jelas dan seluruh dunia sudah tahu di mana tempat yang dimaksud. Widi tentu dibuat bingung. Pesan yang ditinggalkan sahabatnya itu lebih menyerupai sebuah puisi daripada petunjuk, dan besok dia ulangan matematika.

Seharusnya, di hari minggu yang cerah ini, Widi bisa belajar dengan tenang sampai kepalanya berasap. Namun, karena sahabatnya itu, dia tidak bisa berpikir jernih. Akhirnya, Widi memutuskan mengirim BBM kepada Rangga, sahabatnya satu lagi.

"Buruan ke rumahku! Rana menghilang dan mungkin bakal bunuh diri."

Tidak perlu waktu lama, si sahabat Rangga pun datang ke rumah Widi sambil mengendarai motor bebek merah mudanya yang imut. Lalu buru-buru masuk ke kamar Widi dengan langkah gemulainya. "Ih, masa Rana mau bunuh diri sih, Cyin?" Itu pertanyaan pertamanya.

"Diam! Banyak bacot lu!" Semprot Widi, padahal Rangga baru mengucapkan satu kalimat.

Rangga yang sudah kebal dengan kelakuan Widi, memilih untuk duduk sambil melipat kaki kecilnya dengan anggun di atas kasur. Lalu menatap si cewek cantik tapi galak itu dengan mata menyipit.

Widi memutar bola mata. "Bantu aku berpikir." Ujarnya pelan. "Di Bali, tempat pertemuan darat dan laut itu di mana ya?"

"Apa Rana ada di sana?"

"Jangan balik nanya!"

"Umm."

"Buruan!"

"Ah iya, pasti Tanah Lot!"

"Yakin?"

"Sangat."

"Kita ke sana sekarang!"

Dan begitulah, akhirnya sepasang sahabat itu bermobil dari Denpasar menuju Kabupaten Tabanan, di mana tempat wisata Tanah Lot berada. Sambil menyetir Avanza silvernya, Widi mencoba menganalisis alasan minggatnya Rana dari rumah. Dan dia sampai pada satu kemungkinan bahwa mulut cerewet Ranggalah penyebab semua ini, dan pasti ada hubungannya dengan si Bayu, cowok kelas sebelah yang ditaksir Rana, karena (katanya) mirip Zayn Malik meski tanpa brewok dan bulu dada.

"Apa mulut bawelmu sempat ngebacot sesuatu tentang Bayu yang kemarin nembak aku?" Tanya Widi sebal.

"Pertama, mulutku nggak bawel." Ujar Rangga dengan keanggunan alaminya. "Kedua, iya, aku cerita ke Rana. Tapi itu bukan karena mulutku bawel."

"Ah, shit!" Semprot Widi lagi. "Kita harus segera tiba di Tanah Lot sebelum semuanya terlambat." Dan Widi pun menginjak pedal gas. Membuat mobil melaju semakin gila dan Rangga kencing di celana.

Hari sudah menjelang sore ketika mereka berdua sampai di Tanah Lot. Begitu memasuki parkiran, dan turun dari mobil, udara hangat langsung menyambut mereka. Di sekeliling, banyak bule yang berseliweran, orang-orang dengan pakaian adat Bali yang mungkin ingin sembahyang, dan para pedagang yang ada di sisi-sisi jalan. Toko-toko mereka penuh warna, dan terdiri dari banyak barang. Mulai dari baju pantai, layang-layang, dan gantungan kunci berbentuk penis.

Di ujung jalan itu, terdapat gapura besar berwarna putih. Saat mendekat, suara ombak mulai terdengar. Widi dan Rangga berjalan terus di antara para pengunjung lain, mencoba menemukan sesosok cewek mungil dengan rambut sebahu. Namun, mustahil rasanya menemukan Rana di tempat seramai ini. Mereka berjalan terus, sampai tampaklah sebuah batu karang besar di tengah laut. Ada tangga dari bebatuan di karang itu, dan di atasnya berdiri sebuah pura dengan atap-atap berwarna hitam yang diteduhi pepohonan hijau. Saat itu, air laut sedang surut, sehingga beberapa pengunjung bisa naik ke atas tanpa perlu mati terseret ombak.

Setelah berkeliling beberapa kali, dan tetap tidak ada tanda-tanda keberadaan Rana, mereka memutuskan untuk beristirahat. Di dekat gapura, terdapat beberapa bale bengong, Widi dan Rangga duduk-duduk di sana. Dan baru sadar bahwa orang yang mereka cari duduk di sebelah mereka.

"Rana?" Widi yang paling pertama sadar. Rangga ikut menoleh.

Si cewek hilang itu pun ikut menoleh perlahan, dan menatap mereka seolah tidak ada yang terjadi. "Kok kalian di sini?" Tanyanya kalem.

Widi sudah tidak sabar lagi, dia bangun dan mendekati Rana. Dengan sekali ayunan tangan, Widi menjitak kepada Rana, membuat sahabatnya itu meringis. Lalu Widi memeluknya erat. "Jangan hilang lagi, kami khawatir." Ujarnya lirih.

Dengan tangannya yang bebas, Rana menepuk-nepuk pelan punggung Widi yang mulai bergetar.

Rangga ikut mendekat. "Dan jangan berpikir untuk bunuh diri lagi." Dia menambahkan.

"Lagi?"

"Waktu Zayn Malik keluar dari One Direction, kamu mau bunuh diri kan?"

"Nggak, itu kecelakaan. Aku lupa udah minum obat, dan malah minum minuman soda."

Widi melepas pelukannya dan menatap wajah Rana. "Kamu nggak marah sama aku kan? Karena Bayu nembak aku?"

Rana menggeleng.

"Terus? Kamu ke sini buat apa, Rana?"

"Belajar, besok kan ulangan matematika." Sahut Rana kalem. "Aku memang suka belajar di tempat ramai."

"Tapi, orang tuamu bilang kamu menitipkan pesan berisi semacam petunjuk." Lanjut Widi belum puas.

"Itu puisi."

"Ih, sebel." Gerutu Rangga, lalu pergi dari sana.

Sedangkan Widi kembali memeluk Rana. "Syukurlah kamu baik-baik saja, dan kamu nggak marah sama aku soal Bayu. Ngomong-ngomong, aku belum belajar sama sekali. Jadi, besok aku nyontek sama kamu."

Kali ini Rana mengangguk sambil tersenyum. "Tenang saja, itu gunanya teman kan? Buat direpotin."

Lalu mereka tertawa bersama—Rangga ikut tertawa setelah kembali membawa tiga buah es kelapa tanpa tahu apa yang ditertawakan. Mereka bertiga pun menikmati sunset dengan siluet karang dan pura Tanah Lot sebagai pemanis.


Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis.

5 komentar:

  1. Nah ya.. Orangtuanya Rana yang drama nih. Kayaknya beliau mesti belajar sastra, biar tau maksud puisinya si Rana :P

    BalasHapus
  2. Ortu si Rana ini beuhhh -________-"

    BalasHapus