Sabtu, 28 Februari 2015

Ketika si mungil menghilang

Dua tahun sebelum bertemu dengan pacarnya—Marisa, dan akhirnya menikah, Juna sempat naksir setengah mati pada seorang cewek mungil yang dia temui di toko buku dekat rumahnya. Entah apa yang membuat cewek mungil itu begitu menarik bagi Juna, namun setiap kali melihat cewek itu, matanya seolah nggak kuasa memandang objek lain selain si mungil itu.

Semuanya dimulai ketika Juna masih seorang jomblo ngenes di awal-awal semester satu kuliahnya, dan dia memilih melewati hampir setiap malam minggu di toko buku, melihat buku-buku baru yang bisa dibeli untuk dibaca pada waktu libur kuliah. Juna memang lebih memilih membaca daripada nongkrong dengan teman-temannya di rental Playstation atau di pinggir jalan sambil goda-godain cewek lewat.

Kebiasaan itu terus berlanjut selama beberapa bulan. Dan semuanya berjalan baik-baik saja—bahkan cendrung datar—sampai suatu malam minggu, Juna melihat si cewek mungil itu, dan dibuat jatuh cinta dengan begitu dahsyat pada pandangan pertama.

Juna nggak akan pernah melupakan saat pertama kali menemukan si mungil, wajah cewek itu tirus dengan kulit putih bercahaya, alis yang rimbun, rambut hitam dan terlihat sehalus sutra. Mungkin cewek itu setahun atau dua tahun lebih muda dari Juna, mungkin masih SMA. Entahlah. Waktu itu, Juna malah menatap langit-langit toko, memastikan bahwa keadaannya baik dan nggak ada sesuatu yang telah jatuh melaluinya. Dia curiga, si mungil itu mungkin saja bidadari yang sedang mengunjungi bumi.

Malam itu, Juna hanya memandangi si mungil dari kejauhan. Cewek itu begitu mencuri perhatian Juna, membuat barisan buku dengan cover warna-warni di depannya menjadi terlalu suram untuk dilihat. Sampai akhirnya si mungil menutup buku yang dia baca, lalu berjalan menuju pintu keluar. Juna baru tersadar dari perasaan terpukau—bagai orang yang habis bermimpi indah, ketika si mungil menghilang.



Setelah pulang ke rumah, Juna nggak bisa tidur, wajah si mungil terus terbayang-bayang. Juna mengingat dengan jelas senyum cewek itu ketika sedang membaca buku—mungkin ada kalimat yang begitu lucu sehingga membuatnya tersenyum. Dan senyum itu bikin Juna jatuh cinta semakin dalam, karena ketika tersenyum—seolah gadis itu kurang manis saja, deretan gigi putih dan rapi akan terlihat dan bahkan ada lesung pipit yang muncul di pipinya. Oh, Tuhan, napas Juna tertahan.

"Aku lagi naksir cewek," ujar Juna pada adiknya, Nina.

Nina menoleh. "Itu bagus, aku kira kamu bakal naksir sama cowok."

"Kamfret..." kata Juna kesal. "Aku bakal lapor sama ibu, kalau kamu sudah punya pacar."

"Maaf, kakakku sayang." Nina memasang wajah termanisnya. Bagaimanapun, dia nggak mau rahasianya bocor, orang tua mereka melarang Nina—yang baru kelas 3 SMP untuk pacaran. "Ayo, mulai cerita. Siapa cewek itu, Kak?"

Juna pun menceritakan pertemuannya dengan si cewek mungil. Nina mendengarkan dengan baik dan di akhir cerita, adiknya itu menyarankan agar Juna berkenalan dengan si cewek mungil secara baik-baik. Tentu saja Juna nggak berani. Lalu si adik hanya bisa memutar bola mata.

Hari-hari selanjutnya, Juna menjalani hidupnya dengan dihantui bayangan si cewek mungil. Baik ketika dia sedang kuliah, tidur di rumah atau jongkok di kamar mandi. Hanya bayangan si mungil yang ada di kepalanya. Awalnya Juna ingin melupakan si mungil, karena bisa saja dia nggak akan pernah bertemu lagi dengannya, jadi nggak ada gunanya menyiksa diri. Namun, semakin Juna berusaha melupakannya, justru dia malah semakin ingin berjumpa.

Maka, malam minggu berikutnya, Juna datang kembali ke toko buku yang sama.

Dan begitu sampai di toko buku, dia melihat si mungil itu lagi. Cewek itu sedang berdiri sendiri, membaca buku di rak novel. Dada Juna langsung berdesir bahagia, lalu dia berdiri di salah satu pojok toko untuk mengagumi si mungil. Tentu saja Juna masih tetap nggak berani menghampirinya. Namun melihat kecantikkan si mungil seperti itu saja, dia sudah merasa cukup bahagia.

Begitulah, kebiasaan baru itu dimulai. Setiap malam minggu, Juna akan datang ke toko buku dan memandangi si mungil dari jauh. Cewek itu selalu datang di malam minggu (dan selalu sendiri), lebih sering hanya membaca buku-buku yang plastiknya sudah terbuka, namun kadang dia juga membeli beberapa buku yang mungkin menurutnya menarik. Ketika si mungil memilih membeli buku, Juna akan melihat sampul buku itu dan membeli buku yang sama. Ternyata si mungil menyukai buku-buku komedi, dan Juna akan membaca buku-buku itu sambil berkhayal sedang membacanya bersama si mungil.

Setelah lewat sebulan, kebiasaan yang menyenangkan itu sedikit terganggu ketika pada suatu malam minggu, saat sedang asyik mengagumi kecantikkan cewek itu, seorang cowok menghampiri si mungil. Mereka lalu mengobrol dengan serunya, seolah dunia di sekitar mereka nggak pernah ada. Juna yang berdiri nggak jauh dari sana, mulai merasa sesuatu membakar dadanya. Siapa cowok itu? Apa dia pacarnya? Atau cuma seorang pengagum lain yang lebih berani? Batin Juna bergejolak.

Pulangnya, Juna bercerita lagi pada Nina, dan adiknya itu hanya geleng-geleng kepala. "Sudah aku bilang, seharusnya kamu duluan yang nyamperin cewek itu."

Juna tertunduk lesu. "Sekarang sudah terlambat."

"Belum, masih ada kesempatan." Nina berusaha menghibur kakaknya itu. "Pokoknya minggu depan, kamu langsung saja samperin dan tanya nomor teleponnya!"

"Tanya begitu saja?"

"Umm, cari alasan yang baguslah. Misalnya nanya buku, nanya penulis favoritnya atau nanya 'mau nggak jadi pacarku?'"

"Ngawur!"

"Iya, kira-kira seperti itulah, Kak."

Dan malam minggu berikutnya, Juna datang lagi ke toko buku itu dengan tekad yang kuat. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa bagaimanapun caranya, dia akan menghampiri si mungil dan meminta nomor teleponnya.

Namun, malam itu berbeda. Si cewek mungil nggak kunjung muncul. Sampai toko buku itu tutup dan Juna diusir secara halus oleh pegawainya, si mungil tetap nggak tampak. Begitu pula beberapa malam minggu selanjutnya, Juna nggak pernah melihatnya lagi, seolah si mungil sudah bosan dengan bumi dan memutuskan kembali ke langit.

Dengan rasa putus asa yang mulai menyeruak di dada, Juna masih tetap menunggu si mungil setiap malam minggu, bahkan malam-malam di hari lain juga. Juna berpikir mungkin saja si mungil mengubah jadwal berkunjungnya ke toko buku karena suatu hal, makanya mereka nggak pernah bertemu. Namun ternyata si mungil memang nggak pernah muncul lagi di sana. Dan Juna dibuat semakin menderita.

Selama dua tahun, Juna menunggu. Tentu saja dia nggak hanya melakukan itu, Juna juga kuliah dan berusaha menjalani hidupnya sebagaimana biasa. Namun, di masa-masa itu, hatinya selalu berharap akan bertemu lagi dengan si mungil. "Please, jangan kembali dulu ke khayangan," ujar Juna lesu setelah dua tahun penantian tanpa hasil.

Setelah lelah menunggu, hampir setiap malam, Juna curhat pada Nina, meluapkan kegalauan hatinya. Berkeluh kesah dan membuat adiknya nggak bisa tidur. Lama-lama Nina capek juga menghadapi kakaknya yang cengeng itu, dia memutuskan mengenalkan Juna pada sahabat baiknya, Marisa. Berharap jika sudah punya gebetan, kakaknya akan berhenti meratapi si mungil yang sudah hilang.

Perjodohan itu berjalan baik, ketika Juna bertemu dengan Marisa di sebuah kafe, ternyata sahabat adiknya itu lumayan cantik dan menyenangkan diajak ngobrol. Begitu juga sebaliknya, Marisa menunjukkan tanda-tanda ketertarikan terhadap Juna. Bagaimanapun, sebagai laki-laki, tampang Juna nggak terlalu jelek dan selera humornya juga cukup baik. Namun, hati Juna belum sepenuhnya bisa melupakan si mungil, kadang dia masih sering iseng mampir ke toko buku, berharap bisa bertemu.

Sementara Juna masih belum bisa move on, Marisa malah semakin perhatian. Cewek itu menelepon tiga kali sehari, pulang sekolah suka main ke rumah Juna—alasannya mau belajar kelompok dengan Nina, dan kadang suka membuatkan makan siang spesial untuk Juna (walaupun menurut Juna, makan siang spesial itu rasanya seperti sepatu).

Sampai suatu malam minggu, saat Marisa main ke rumahnya untuk menemui Juna, tiba-tiba Marisa berkata polos. "Kak, aku suka sama Kakak."

"Ha?"

"Aku suka sama Kak Juna!"

Juna menunduk menatap Marisa. Mata hitam dan jernih cewek itu terlihat agak sendu, menatap balik pada Juna dengan penuh harap. Bibir merah muda cewek itu tersenyum simpul.

Dan tentu saja Juna nggak sampai hati mengecewakan cewek semanis Marisa. Juna pun tersenyum. "Aku juga suka sama kamu, Marisa."

Malam itu, setelah dua tahun, Juna menetapkan hati untuk move on, melupakan si mungil yang hanya tinggal bayangannya saja.

"Jaga Marisa baik-baik, Kak." Nina berpesan setelah puas ditraktir oleh Juna. "Dia sahabat terbaikku."

"Iya, aku tau." Sahut Juna kalem.

Demikianlah, perlahan Juna bisa melupakan si mungil yang pernah membuatnya patah hati tanpa harus saling kenal. Tampaknya, Juna benar-benar sudah melupakan si mungil itu—sampai sebulan sesudahnya, ketika Juna mengajak Marisa jalan-jalan ke toko buku yang sama—dia berpapasan dengan wajah manis yang dikenalnya dengan baik. Si mungil. Dia berjalan dari dalam menuju pintu keluar dan Juna baru saja datang bersama Marisa.

Sepintas, Juna bisa melihat si mungil tersenyum padanya, lengkap dengan lesung pipit yang memesona itu. Juna pun balas tersenyum. Semuanya berlangsung sangat singkat. Dua detik. Di kepala Juna, sempat terlintas keinginan untuk menghampiri si mungil dan berkenalan dengannya, meninggalkan Marisa begitu saja dan mengikuti si mungil ke mana pun dia pergi. Mengingat, ini mungkin satu-satunya kesempatan untuk mengenal si mungil lebih dekat. Dan terjadi perang di hati Juna. Namun selama dua detik itu, akhirnya Juna memutuskan. Setelah membalas senyuman si mungil, Juna berjalan memasuki toko buku sambil menggandeng tangan Marisa.

Dan bertahun-tahun setelah kejadian itu, bahkan sampai hari pernikahannya dengan Marisa, Juna nggak pernah lagi bertemu dengan si mungil.

2 komentar:

  1. Ciee bagus bang, udah brp nih viewernya? Kumjungi blog ku juga yaa
    cerita-remaja-kita.blogspot.com

    BalasHapus
  2. ceritanya menarik,,bagus mas,sukses ya :)

    BalasHapus