Sabtu, 16 Agustus 2014

Jalan-jalan ke Malaysia

Pertengahan bulan Juni lalu, untuk pertama kalinya, aku jalan-jalan ke Malaysia. Berduaan dengan sangat mesra, sama nyokap.

Dini hari itu, bertepatan dengan pertandingan piala dunia antara Spanyol melawan Chile, dan untuk sementara Chile unggul 2-0, aku berangkat menuju Bandara Ngurah Rai. Seperti biasa, setiap kali mau ninggalin Bali, perasaanku mendadak galau.

Dari dalam mobil, sambil mendengar pertandingan melalui radio, aku memandang keluar jendela. Suasana masih gelap, mungkin tiga jam lagi matahari baru muncul. Jalanan juga lengang, hanya satu dua kendaraan yang melintas. Di beberapa sudut, tampak sekumpulan orang sedang asyik menonton pertandingan yang sama, di banjar-banjar, restoran cepat saji, dan kios tambal ban.

Sesampainya di bandara Ngurah Rai, rombongan kami berfoto bersama beberapa kali. Teman-teman nyokap di kantor kebanyakan ibu-ibu, ada yang masih muda, ada yang separuh baya, ada juga yang udah tua bangka.

Seusai berfoto, kami menunggu keberangkatan sekitar dua jam. Aku sempat berkeliling bandara, mencari TV yang menayangkan siaran bola, tapi nggak ketemu. Jadi, aku cuma duduk-duduk di ruang tunggu. Sebenarnya, ini adalah waktu yang tepat untuk nelpon pacar, kangen-kangenan dulu sebelum berpisah jauh. Namun, aku mengurungkan niatku, terlalu pagi untuk menelpon. Lagi pula, aku nggak punya pacar.



Tepat pukul 7 pagi, kami pun dipanggil untuk naik ke pesawat. Dadaku agak deg-degan. Tegang, udah lama nggak terbang. Untungnya, begitu sampai di pesawat, seorang pramugari yang luar biasa manis menyambutku dengan senyumnya yang memesona. Mendadak perutku jadi bergejolak. Nggak, bukan karena si pramugari yang luar biasa manis itu, tadi pagi aku nggak sempat boker.

Setelah duduk ganteng di bangku pesawat, aku berusaha tidur, tapi nggak bisa. Dan nggak banyak yang bisa dilakukan selain toleh kiri, tokeh kanan. Kebetulan, aku duduk di bangku dekat gang yang dibentuk dari barisan bangku penumpang. Di sebelah kiri, ada ibu-ibu yang lagi tidur sambil mangap, ilernya menetes keluar. Di sebelah kanan, ada anak kecil yang juga lagi tidur, nggak mangap, tapi ilernya tetap keluar. Lama-lama, pesawat ini bisa kebanjiran.

Hampir satu jam kemudian, akhirnya aku tertidur juga. Rasanya baru sedetik memejamkan mata, pengumuman kalau kami akan segera mendarat membangunkanku. Aku meregangkan badan sampai tulang-tulangku rasanya mau copot.

Tiba-tiba, saat pesawat udah mulai miring ke bawah, aku mendengar bunyi-bunyi ganjil. 

"SROOTTT... SROOOTTTT... CROOOOTTTT..."

Celingak-celinguk, aku mencari sumber suara aneh itu. Suara yang terdengar mengerikan, perasaanku jadi nggak enak. Mungkin pesawat ini bakal jatuh atau apa, pikirku. Begitu menoleh ke belakang, rupanya ada seorang ibu-ibu yang sedang menyedot ingus dengan sangat membabi buta.

Begitulah, suara ingus itu sama sekali nggak mengganggu pendaratan pesawat di bandara Internasional Kuala Lumpur. Turun dari pesawat, kami langsung berjalan menuju bagian bagasi. Saking besarnya bandara itu, dari pintu masuk menuju tempat koper-koper itu, kami harus berjalan sekitar 30 menit. Aku bahkan sempat dua kali masuk toilet, buat kencing, entah kenapa nafsu bokerku hilang.

Setelah mengambil barang-barang dan melewati bagian imigrasi, kami dijemput oleh seorang laki-laki India berkumis dan berjenggot. Umurnya sekitar 30 tahun lebih. Mungkin dia pemandu wisata kami. Perasaanku langsung nggak enak. Dari pengalamanku selama ini, setiap kali bertemu dengan orang India, pasti bakal terjadi hal-hal yang menggelisahkan.

Setelah rombongan kami duduk manis di bus. Si pemandu wisata memperkenalkan diri, namanya Pak Soka, selama tiga hari ini, dia akan menemani kami. Jadi, harus ditahan-tahan kalau mulai muak ngeliat mukanya, begitu kata Pak Soka.

Lantas, Pak Soka mulai menjelaskan tentang tiga hal yang harus diingat saat jalan-jalan di Malaysia, yaitu:

1) Hati-hati sama copet.
2) Hati-hati sama orang yang sok akrab, bisa aja itu tukang hipnotis.
3) Paspor dijaga dengan baik, jangan sampai hilang. Di Malaysia, banyak orang yang menginginkan paspor, harganya bisa mencapai 10 ribu dolar.

Aku diam tanpa ekspresi. Mungkin karena mendengar logatnya yang aneh, kepalaku jadi pusing. Lalu, keinginanku untuk boker kembali muncul. Sekarang beribu-ribu kali lebih kuat. Sementara si pemandu wisata yang berkumis dan berjenggot itu terus berceloteh, dan ibu-ibu yang lain pada cekikikan karena logatnya yang aneh, aku berusaha mati-matian menahan boker.

Mungkin karena ibu-ibu pada cekikikan, Pak Soka mulai membahas tentang kata-kata dalam Bahasa Malaysia. Kalau di Malaysia, toilet disebut tandas. Tempat untuk menandaskan sesuatu, dia menjelaskan. Aku mendengar sambil mengerutkan kening, sesekali ada ibu-ibu yang berceletuk menanggapi. 

"Kalau ini..." Pak Soka menunjuk botol air mineral yang dipegangnya. "Di Malaysia, ini disebut banci."

"Banci?" tanya ibu-ibu yang duduk paling depan. 

"Iya, di Malaysia, air mineral memang disebut seperti itu."

"Banci?"

"Iya, memang sebutannya begitu."

"Banci?"

"Banci."

Dan selanjutnya, Pak Soka membagikan untuk kami, masing-masing satu banci.

Bus pun terus melaju menuju Kuala Lumpur, rencananya kami bakal makan siang di KL Tower. Sepanjang perjalanan, sekitar satu setengah jam, aku merasa mual dan perutku semakin mulas. Terpaksa aku diam saja sambil berusaha (dengan sangat keras) agar tidak boker di celana.

Menurut penjelasan Pak Soka, KL Tower adalah menara komunikasi tertinggi kelima di dunia. Kita bisa naik ke puncaknya dengan menggunakan lift. Mendengar kata 'lift', aku jadi tambah mual.

Sesampainya di KL Tower, setelah naik lift yang bikin kepalaku tambah pusing dan perutku tambah melilit pengin boker, kami duduk di sebuah ruangan yang berbentuk mirip donat. Ruangannya besar melingkar. Begitu duduk dan menatap meja, dunia seperti berputar. Meja bergerak. Kepalaku tambah pusing. Awalnya aku kira ini efek mabuk dan nahan boker. Namun, setelah kutatap lagi, ternyata mejanya memang bergerak. Aku baru ingat dengan sebuah acara jalan-jalan yang pernah aku tonton. Di KL Tower, lantainya berputar 360 derajat dengan kecepatan sangat pelan sampai nggak terasa. Tujuannya agar seluruh pemandangan kota Kuala Lumpur bisa dilihat dari jendela kaca besar, tanpa harus berjalan mengelilingi ruangan donat itu.

Tidak lama setelah duduk, kami pun mulai mengambil makanan yang disajikan secara prasmanan. Setelah makan sedikit, keinginanku untuk boker sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Aku pun berjalan pelan menuju toilet yang letaknya semakin mendekat karena lantai yang terus berputar. Begitu masuk ke toilet dan melihat seonggok jamban putih polos itu, mataku langsung berkaca-kaca. Belum pernah aku sebahagia ini melihat seonggok jamban. Tanpa pikir panjang karena udah nggak tahan, aku pun membokeri jamban tak berdosa itu dengan sangat, sangat biadab. 

"BEEROOOTTT... BRROOOOTTTTT... GEDEBROOOOOTTT..."

"BEEROOROOOOTTTTT... BEEROOROOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOTTTTT... BEEROOROOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOTTTTT... GEDEBROOOOOTTT..."

"PREEETTT..."

Ah, lega.

Selesai boker, aku kembali ke meja makan dengan perasaan yang seringan kapas. Rasanya, separuh beban hidupku ikut keluar lewat pantat.

Sungguh, ini pengalaman pertamaku boker di menara tertinggi nomor lima di dunia. Rasanya tuh kayak... biasa aja.

Seusai makan, kami melanjutkan perjalanan menuju Twin Tower. Nggak, nggak masuk ke dalam. Kami cuma fotoan di pinggir jalan dekat menara kembar itu. Sebenarnya aku agak heran, gedung kayak gitu doang diajak fotoan. Seolah gedung itu bakal berpose sambil nempelin telunjuk di bibir. Kenyataannya si gedung kembar itu cuma diam saja di kejauhan selayaknya benda mati. Tapi aku ikut fotoan juga, dan hasilnya nggak ada yang bagus.

Habis fotoan sama si gedung kembar, kami melanjutkan perjalanan menuju Cocoa Boutique. Tempat pembuatan coklat asli Malaysia. Di sana, kami disambut oleh cewek India bertubuh tambun yang kulitnya secoklat coklat.

Si cewek tambun itu berbicara dengan bahasa campur-campur dan terdengar sedikit ganjil. Ada kata-kata dalam bahasa Indonesia, Melayu, Inggris, dan mungkin sedikit Bahasa India. Kepalaku kembali pusing.

Setelah mendengar penjelasan dari si india tambun itu. Kami dibebaskan untuk berkeliling dan memilih coklat-coklat yang kami sukai. Nyokap memilih beberapa coklat, total beliau menghabiskan beberapa ribu ringgit. Dari Cocoa Boutique, kami melanjutkan perjalanan ke Istana Negara Malaysia. Pas lagi bengong di bus sambil memandang ke luar jendela, aku baru menyadari satu hal. Sepanjang jalan, sama sekali nggak ada hawa-hawa piala dunia. Beda dengan di Bali, di sepanjang jalan, bendera peserta piala dunia berkibar dengan semarak. Ada bendara Brazil, Jerman, Italia, Spanyol, Argentina dan lain-lain. Aku sampai mikir, seandainya ada turis yang kepalanya terbentur terus lupa ingatan, dia pasti bingung sedang berada di negara mana.

Saat bus berhenti, kami tiba di Istana Negara dan langsung berfoto bersama. Kami nggak boleh masuk ke dalam, cuma boleh sampai di depan pintu gerbang. Pagarnya tinggi sekali, mungkin sekitar 10 meter. Pintunya juga sangat besar, mirip pintu kerajaan di buku-buku dongeng. Di bagian kanan dan kiri pintu gerbang, ada masing-masing seorang penjaga berpakaian adat melayu. Mereka diam saja kayak patung. Penginnya aku tes, grepe-grepe dikit, tapi takut ditabok.

Dari istana negara, kami melaju ke Batu Caves, sebuah kuil hindu yang letaknya ada di sebuah lereng bukit. Kalau ingin mencapai kuil itu, kita harus menaiki sekitar 200 anak tangga. Di dasar bukit, terdapat patung budha yang sangat tinggi. Kata Pak Soka, patung itu adalah patung hindu tertinggi di dunia. Kami pun naik pelan-pelan menuju kuil, melewati 200 anak tangga. Sampai di atas, napasku lumayan ngos-ngosan. Dan salah satu ibu-ibu langsung muntah-muntah.

Di kuil itu, ada semacam tiga orang pendeta yang bertugas, ketiganya bertelanjang dada dan menampakkan bulu-bulunya masing-masing. Pendeta-pendeta itu adalah orang India. Semoga nggak ada hal-hal aneh yang terjadi. Dengan geli, aku dan nyokap masuk ke kuil. Begitu masuk, si pendeta menyambut dengan bahasa India. Aku nggak ngerti sama sekali ucapannya, yang terdengar hanya. "Three ringgit... three ringgit..." 

What the...

Karena nggak ngerti, kami sembahyang aja. Dan si pendeta membacakan mantra-mantra, lalu memakaikan kami gelang dan mengolesi jidat kami dengan semacam serbuk putih. Sepanjang melakukan aktivitas itu, si pendeta India itu terus menyebut 'three ringgit' dalam mantranya. Aneh, dari ekspresi wajahnya, nggak ada kedamaian, malah terlihat seperti orang yang sedang marah-marah. Namun, setelah kami memberinya tiga ringgit, mukanya mulai melunak. Mungkin dari tadi dia nggak membaca doa, tapi menyumpahi kami.

Habis dari kuil itu, kami makan sore di samping kuil. Setelah itu kami cek in ke hotel. Begitu masuk kamar, hal pertama yang aku lakukan adalah mandi, berganti pakaian dan berbaring di kasur. Lantas, aku kembali dilanda perasaan galau. Tabletku udah tersambung dengan wifi hotel, udah siap mengirim BBM atau semacamnya. Namun baru kusadari, aku nggak punya seseorang untuk dihubungi. Padahal, ini seharusnya bisa jadi momen romantis, kangen-kangenan karena terpisah lautan luas dengan seseorang. Tapi apa boleh buat, aku pun memilih mematikan tablet dan berusaha tidur.

Aku sempat tertidur sejam atau dua jam, bangun lagi, berusaha tidur lagi, lalu bangun lagi. Begitu terus sampai pagi. Aku rindu kasurku di rumah.

Besoknya, pukul 8 pagi, selesai sarapan, kami memulai perjalanan menuju Kota Malacca. Di sana, aku dan nyokap berbelanja makanan dan minuman. Tempatnya semacam china town gitu. Sepanjang jalan isinya cuma toko-toko. Selesai berbelanja, kami makan siang di tempat makan china, sebelum kami melanjutkan perjalanan menuju Wax Museum. Tempat di mana ada banyak patung lilin yang menyerupai artis terkenal dan tokoh-tokoh dunia. Seperti Presiden Obama sampai Jack Sparrow. Kami cukup lama ada di tempat itu. Lama-lama kami bosan, dan patung-patung itu mulai terlihat mengerikan. Rasanya pengin aku bakar.

Hari ketiga, sekaligus hari terakhir di Malaysia, kami berbelanja di sebuah mall yang bernama Sungei Wang. Mungkin kalo di-Bahasa-Indonesia-kan, maksudnya Sungai Uang.

Sorenya, seusai berbelanja, kami menuju bandara untuk kembali ke Indonesia. Rasanya, udah nggak tahan pengin meluk kasur di rumah.

Setelah menunggu beberapa jam, kami dipanggil untuk naik ke pesawat. Lagi-lagi aku nggak bisa tidur sampai pesawat mendarat. Namun, rasa kantuk di mataku langsung hilang begitu menginjakkan kaki di Bandara Ngurah Rai. Hawa-hawanya beda, rasanya seperti kembali ke habitat sendiri. Kembali pulang.

Begitu melewati imigrasi dan mengambil barang di bagasi, di luar bandara, aku udah ditungguin sama adikku, Anya. Ah, kangen...

Sampai di rumah, sebelum tidur, aku cerita-cerita dulu tentang Malaysia sama Anya. Menjelang dini hari, saat semua keluarga udah tidur, termasuk adikku, aku masih terjaga. Nonton pertandingan piala dunia antara Argentina melawan Iran. Saat duel selesai, Argentina menang 1-0, aku pun tiduran sambil menatap langit-langit kamar, bersyukur udah bisa jalan-jalan ke luar negeri. Namun, lebih bersyukur lagi udah bisa pulang dengan selamat, berkumpul kembali bersama keluarga, dan bisa merasakan lagi kehangatan pelukan kasur tercinta.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah tiga hari, aku bisa tidur dengan nyenyak. 

6 komentar:

  1. ceritanya seru, tapi kurang foto bro, kalo pake foto pasti lebih bagus :) , main-main ke yoggaas.blogspot.com :p

    BalasHapus
  2. iri... sama pengalaman boker di menara tertinggi nomor lima di dunia. LOL xD

    BalasHapus
  3. ajak ajak dongs kalo ke malaysia lagi :D

    BalasHapus
  4. Serunya pake gila,
    jalan-jalan sama segerombolan "ibu-ibu tua bangka" kejam amat kak Rama

    BalasHapus