Sabtu, 10 Mei 2014

Cinta, aku rapopo

Seminggu sebelum bertemu dengan cewek dekil itu, Rangga sedang mengalami patah hati, mantan pacarnya lebih memilih bersama cowok yang lebih kaya. Hampir setiap hari Rangga hanya mendekam di kamar, meratapi kepergian mantan terkutuknya itu.

Dulu, Rangga dikenal sebagai cowok yang lumayan ganteng. Tinggi, putih dan wangi. Namun, semenjak putus cinta, dia jadi mirip Spongebob frustasi. Kulitnya pucat seperti vampire, tidak berkuris, dan jarang mandi.

Sampai suatu saat, dia memutuskan untuk kembali menjalani hidup, tidak sudi lagi terpuruk hanya karena ditinggal cewek. Rangga kembali mandi tiga kali sehari, olah raga dan mulai menyibukkan diri dengan kuliahnya yang tak lulus-lulus. Kalau ada waktu luang, dia turun gunung. Jalan-jalan dan makan-makan di berbagai tempat, berusaha menikmati masa-masa jomblonya yang mengenaskan.

Hari itu, sepulang kuliah, Rangga nongkrong di salah satu restoran pinggir pantai yang terletak di kawasan Nusa Dua. Pemandangan laut yang biru, dan aroma segar pantai yang berpadu dengan wangi asap ikan bakar, membuat suasana hati Rangga jadi membaik.

Rangga mulai mengamati sekeliling. Hampir semua orang yang ada di ruangan itu sedang bersama pasangannya masing-masing. Hanya ada dua orang yang duduk sendirian, dirinya sendiri dan seorang cewek dekil yang sedang duduk di pojokan.



Tadinya, sehabis makan, Rangga mau langsung pulang. Namun suara hak sepatu yang beradu dengan lantai, menarik perhatiannya. Seorang cewek cantik memasuki ruangan. Wangi stroberi langsung mampir ke hidung Rangga. Cewek itu bertubuh tinggi, berkulit sawo matang, dan rambut hitam bagai kerudung sutra. Dia terlihat anggun dengan terusan berwarna biru muda. Sekali pandang, Rangga langsung dibuat terpesona. Niat Rangga untuk pulang seketika hilang, dia pun kembali memesan es jeruk.

Setelah menunggu setengah jam, tidak ada tanda-tanda si cantik sedang menanti seseorang. Dengan segenap keberanian yang tersisa, Rangga memutuskan menghampiri cewek itu.

"Permisi, boleh saya duduk di sini?" Tanya Rangga canggung.

Si cantik menoleh dengan kening berkerut. "Ada keperluan apa ya?" Tanyanya balik.

"Ng.." Rangga malah bengong, lalu mesem-mesem bego.

"Sudahlah. Silahkan duduk." Ujar si cantik, mungkin prihatin melihat tampang Rangga yang seperti orang idiot.

Baru saja duduk, Rangga malah mau ke belakang. Tadi dia kebanyakan minum es jeruk. Sebelum kencing di celana, Rangga buru-buru mohon izin dan pergi ke toilet.

Begitu balik dari toilet, si cantik sudah tidak ada di tempatnya lagi. Rangga duduk dengan lesu, dia telah kehilangan jejak si cantik. Bukan hanya belum sempat mendapat nomor handphone-nya, dia bahkan tidak tahu nama cewek itu. Rangga menatap sekeliling, namun tidak ada tanda-tanda keberadaannya, yang ada hanya si cewek dekil di pojokan.

Dan sialnya, mungkin karena merasa diperhatikan, si dekil itu malah menghampiri Rangga. "Halo, saya lagi nunggu jemputan. Hape saya mati, boleh pinjem hapemu?" Tanyanya.

"Boleh." Rangga memberikan Blackberry-nya.

Si dekil pun menerima Blackberry itu dan mulai mengetik. "Makasi ya." Ujarnya setelah selesai dan mengembalikan Blackberry itu.

"Sama-sama." Sahut Rangga sambil membersihkan Blackberry-nya dengan tisu. Tidak lama, si dekil pun dijemput oleh seorang perempuan setengah baya dan pergi dari restoran.

Besoknya, Rangga kembali ke restoran itu, dia menunggu di tempat duduk yang sama. Berharap bisa bertemu lagi dengan si cantik, namun cewek itu tidak muncul-muncul.

"Hei." Seseorang menepuk punggung Rangga dari belakang.

Saat Rangga menoleh, dia mendapati sosok cewek yang begitu manis sedang tersenyum padanya. Siapa ya? Rangga berusaha mengingat-ingat wajah manis itu. Ah, iya, si dekil, serunya dalam hati.

Rangga menatap cewek itu dari bawah ke atas. Kemarin dia dekil sekali, sekarang dia begitu manis. Dia menggunakan celana pendek dan baju kaos putih. Rambutnya hitam sebahu, matanya besar, dan senyumnya semanis tebu.

"Kemarin belum kenalan." Ujar cewek itu sambil menjulurkan tangan. "Kenalin, aku Cinta."

"Aku juga cinta kamu." Gumam Rangga pelan. "Eh, bukan, bukan. Aku Rangga." Buru-buru dia meralat.

Dan begitulah, akhirnya Rangga dan Cinta ngobrol-ngobrol. Cinta bercerita bahwa kemarin dia menemani ibunya lari pagi, belum sempat mandi, dan sempat tidak sengaja nyemplung ke comberan. Makanya dia jadi agak dekil. Cinta juga cerita kalau dia sudah lulus kuliah dan sekarang membantu usaha ibunya. Rangga cuma manggut-manggut saja, masih terpesona dengan wajah manisnya.

Hari itu berakhir dengan menyenangkan, Rangga dan Cinta saling bertukar pin BB dan melanjutkan mengobrol lewat BBM.

Tiga minggu berlalu, Rangga dan Cinta semakin sering bertemu di restoran yang sama, baik secara sengaja maupun tidak. Setiap bertemu Cinta, Rangga jadi ceria lagi seolah hatinya tidak pernah patah. Cinta sudah membuatnya lebih hidup.

Lama-lama, Rangga tak mampu lagi menahan perasaannya. Pada pertemuan selanjutnya, Rangga pun mengungkapkan perasaan sukanya pada Cinta.

"Aku cinta kamu, Cinta." Ujar Rangga malu-malu. "Apa kamu mau jadi pacarku?" Tanya Rangga.

Cinta menunduk, lalu menghela napas. "Maaf, belum bisa."

"Ha? Kenapa?"

Cinta menatap nanar ke arah Rangga. "Aku sudah dijodohkan oleh ibuku." Ujarnya.

Giliran Rangga yang menghela napas. "Cinta, kamu bukan Siti Nurbaya."

"Memang bukan, namun lebih baik aku jadi Siti Nurbaya dari pada jadi Malin Kundang."

Tidak sanggup berlama-lama menatap Cinta, Rangga memandang ke arah lain. "Kamu sayang sama cowok itu?" Tanyanya lagi.

"Nggak."

"Kamu sayang sama aku?"

"Sayang."

"Aku juga sayang sama kamu, Cinta. Kamu tau kan?"

"Tau."

"Lalu apa lagi masalahnya?" Tanya Rangga sambil mengangkat bahu.

"Sabarlah, Sayang. Kalau kamu memang jodohku, aku pasti akan jadi milikmu." Ujar Cinta pelan. "Kita jalani saja dulu, pelan-pelan aku akan membujuk ibuku agar membatalkan perjodohan itu." Lanjutnya.

Sejak itu, Rangga dan Cinta menjalani hubungan sembunyi-sembunyi yang indah. Mereka bertemu di tempat biasa. Mengobrol di bawah pohon, jalan-jalan sepanjang pantai, dan sesekali curi-curi berciuman. Rangga hampir saja merasa Cinta adalah pacarnya, sampai beberapa bulan sejak mereka menjalin hubungan, cewek itu mengatakan hal yang dia takuti.

"Maaf, hubungan kita harus diakhiri, bulan depan aku akan menikah."

Rangga tidak merespon. Setelah lima detik yang serasa lima tahun, Rangga baru menanggapi dengan pertanyaan yang sama. "Apa sekarang kamu mencintai cowok itu?"

"Sedikit." Sahut Cinta.

"Sedikit?"

"Iya, karena aku sangat mencintai ibuku, aku berusaha mencintai laki-laki yang dia jodohkan padaku. Walau cuma sedikit."

"Kamu menyiksaku, Cinta."

"Maaf, tapi aku tidak punya pilihan."

"Kamu selalu punya pilihan. Namun pilihanmu ternyata bukan aku. Dan kalau memang itu keputusanmu, aku terima." Ujar Rangga. Dia berdiri, lalu berjalan menjauh. Dan resmilah hubungan Rangga dan Cinta berakhir.

Sampai di rumah, beberapa jam setelah berpisah dengan Cinta, Rangga mengelus-elus dadanya sendiri. Kamu jangan patah lagi ya, harus kuat, bisik Rangga pada hatinya.

Setelah agak tenang, Rangga tidak merasakan apa-apa lagi. Mungkin pada level tertentu, patah hati bisa membuatnya lebih ikhlas. Paling tidak, dia tak perlu lagi sembunyi-sembunyi kalau ingin pacaran, tidak perlu lagi capek-capek berharap Cinta akan memilihnya dibandingkan laki-laki pilihan ibunya. Dan dia bisa mulai mencari pacar baru yang lebih baik.

Namun, ternyata semua tak semudah itu. Sejak pertemuan terakhir dengan Cinta, Rangga memang sempat bertemu beberapa cewek, termasuk si cantik yang dulu itu. Anehnya, tidak ada getaran di hatinya. Tidak ada yang seperti Cinta. Rangga pun memutuskan kembali menikmati masa-masa kesendiriannya, kembali jalan-jalan dan mencoba makanan di berbagai tempat. Namun ujung-ujungnya dia selalu kembali ke restoran itu. Duduk-duduk di pinggir pantai sambil melihat laut yang biru seperti hatinya. Kebiasaan itu terus dilakukannya hingga beberapa minggu setelah hari pernikahan Cinta berlalu.

Suatu pagi yang cerah, saat sedang duduk sendirian di pasir pantai, tiba-tiba seseorang ikut duduk di sebelahnya. Cinta.

Begitu melihat wajah manis itu lagi, Rangga bengong beberapa detik. Antara senang, kaget dan patah hati. "Mana suamimu?" Itu pertanyaan pertama Rangga.

"Aku nggak jadi menikah." Sahut Cinta pelan.

"Ha? Kok bisa?"

"Aku nggak cinta sama laki-laki itu." Ujar Cinta pelan. "Aku jujur pada ibuku, dan untungnya beliau nggak mengutukku jadi batu."

"Lalu bagaimana dengan mantan calon suamimu itu?"

"Nggak tau, sebelum pergi, dia hanya bilang, aku rapopo."

"Syukurlah." Rangga menghela napas lega.

Dan selanjutnya, di pantai itu, Rangga dan Cinta memutuskan untuk kembali bersama.

16 komentar:

  1. Yo wis aku rapopo juga deh~

    BalasHapus
  2. Wow, another version of AADC ya? :)

    BalasHapus
  3. Ninggalin jejak dulu, buat sumber bacaan ntar malem. *gan rama, foll back yaa :D

    BalasHapus
  4. Duh yang sekarang suka banget ngepost cinta-cintaan :p

    BalasHapus
  5. Ahahaha bagus ceritanya
    Pemilihan katanya gue suka, bikin lucu. Keep the good work!
    Sama2 dari bali nih

    BalasHapus
  6. rama dapet liebster award dari gue. selamat :P
    http://renypj.blogspot.com/2014/06/fenomena-liebster-award.html
    di tunggu postingannya. :D

    BalasHapus
  7. Hahahaha lanjutannya sukses bikin aku ngakak 3 hari 3 malem hahahah keren! Aku tunggu lanjutan si Ara ya :D

    BalasHapus
  8. "Maaf, hubungan kita harus diakhiri, bulan depan aku akan menikah."

    bagian ini yg nyesek! hahaha
    btw ceritanya kerenn

    Salam kenal, Ijal Fauzi

    BalasHapus
  9. blogwalikng:)--------------------------> pammadistro.blogspot.com

    BalasHapus