Minggu, 28 Agustus 2016

Filosofi Kopi Sachet

Kisah ini adalah sekuel dari film Filosofi Kopi dari karya Dewi Lestari, yang saya buat sendiri untuk mengobati kerinduan terhadap tokoh-tokohnya dan apa yang mereka alami selanjutnya. Semoga suka. Terima kasih, dan selamat membaca.

*** 

Tiga tahun setelah kafe kami dijual, dan Filosofi Kopi pindah ke bus bertingkat dua, kami sudah berkeliling Indonesia–Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan lain-lain–untuk menjajakan kopi. Di luar dugaan, usaha kami berjalan lumayan baik. Setidaknya, aku bisa menabung, Ben bisa bertemu banyak penggemar baru, dan pegawai-pegawai kami bisa hidup lumayan sejahtera. Namun, rasanya semua masih bisa lebih baik lagi.

Aku masih belum puas.

Apa lagi, setelah suatu hari, aku bertemu seorang pengusaha yang menawariku sebuah mesin pencetak kopi sachet.

Ketika kutemui saat makan siang di sebuah restoran, dengan menggebu-gebu si pengusaha mengatakan. “Jika anda punya mesin ini, anda sudah pasti akan menghasilkan lebih banyak uang. Karena dalam satu jam, mesin ini bisa mencetak lebih dari tiga ribu sachet. Dan coba bayangkan jika Filosofi Kopi bertransformasi ke dalam bentuk sachet, dan penjualannya bisa menyebar ke berbagai daerah, bahkan luar negeri. Anda bisa go internasional, Pak Jody!” Tuturnya bersemangat. “Jika anda berjualan dengan menggunakan mobil, jelas anda tidak akan bisa melakukan itu.” Tandasnya tajam, dan membuatku berpikir lama.

Selepas pertemuan itu, aku terus memikirkan penawaran tersebut, dan menyimpulkan bahwa apa yang dikatakan si pengusaha memang ada benarnya. Kopi sachet memiliki cakupan yang lebih luas, ditambah biaya distribusi yang lebih kecil. Dari segi itu saja, keuntungan yang bisa kudapat akan jauh lebih besar. Seharusnya, sejak dulu aku mengembangkan bisnis dalam bentuk kopi sachet.

Keesokan harinya, sambil berkeliling dengan bus–menjajakan kopi di dekat Tugu Monas, aku menceritakan semuanya kepada Ben.

Dan seperti yang sudah kuduga, ketika aku selesai bercerita, Ben langsung menggeleng. “Nggak, Jody.” Potongnya cepat. “Gue nggak mau kopi GUE dibuat dengan MESIN dan dijual dalam bentuk SACHET.” Bentaknya tegas.

“Tapi, Ben, coba pikirin, ini akan menghasilkan….”

“Lebih banyak uang?” Potong Ben sambil tersenyum mengejek. “Ada nggak sih hal lain yang lo pikirin selain uang?”

Aku terdiam.

Biasanya, jenis kalimat yang terakhir itu akan menjadi kalimat pembuka dimulainya pertengkaran kami. Ben juga tahu itu. Dia menghela napas. “Jody, coba deh lo lihat kita yang sekarang. Hutang kita udah lunas, usaha berjalan lancar. Gue udah nyaman banget bisa bikin kopi dan ketemu banyak orang.” Ben berhenti sejenak, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Gue nggak mau kehilangan semua ini.” Tandasnya.

“Gini, Ben. Gue mohon ubah cara berpikir lo.” Ujarku pelan sambil menatap Ben penuh harap. “Kalau usaha kopi sachet ini sukses, kita bisa buka kafe Filosofi Kopi lagi, bahkan kita bisa buka dua atau tiga cabang di kota lain. Lo juga bisa buka sekolah barista, sesuai impian lo itu.”

“Tapi resikonya terlalu besar, Jody.” Ben ikut memelankan suaranya. “Kalau kita jual semua yang kita punya sekarang, lalu usaha kopi SACHET terkutuk itu nggak berjalan dengan baik? Gimana? Kita mau ngapain setelah itu?”

Aku masih belum mau menyerah. “Lo sendiri yang bilang ‘kopi yang enak akan selalu menemukan penikmatnya’ gitu kan?” Tanyaku. “Walaupun bentuknya sachet, Ben’s Perfecto akan tetap disukai.”

“Nggak.”

“Sejak kapan lo jadi gini, Ben? Bukannya lo dulu cukup gila buat nantang si investor itu untuk naikin taruhan jadi satu miliar? Kali ini, kita nggak perlu nantang siapa-siapa, Ben. Kita hanya perlu menjual semua yang kita punya buat beli mesin pencetak kopi sachet.”

“Justru kalau lo nekat ngelakuin itu, lo bener-bener udah gila!” Potong Ben.

“Terserah lo mau ngatain gue apa.” Aku menatap Ben lekat-lekat. “Lo ikut atau nggak?”

“Lebih baik gue pulang kampung.” Ujar Ben, lalu bangkit berdiri dan mengemasi barang-barangnya. “Kopi GUE nggak akan pernah sama jika dibuat dengan ROBOT.” Ujarnya tanpa menoleh.

Begitulah. Ben akhirnya memutuskan untuk pulang kampung. Ketika itu, aku sempat dilanda kebimbangan. Di satu sisi, aku tidak ingin melepas barista terbaik sekaligus sahabatku sejak kecil. Walaupun Ben orangnya menyebalkan minta ampun, susah diatur, dan nyaris selalu menentang ide-ideku untuk mengembangkan Filosofi Kopi, tapi dia sudah seperti saudaraku sendiri. Berat rasanya harus melepasnya pergi. Namun, di sisi lain, aku tidak mau melepas peluang yang jika tidak diambil, akan membuatku menyesal seumur hidup.
Sambil berusaha menata hati untuk merelakan Ben pergi, aku menatap foto keluarga yang tergantung di dinding kamar. Di foto itu ada aku, kakak perempuanku–Lisa, bapak, dan ibu. Kedua orangtuaku sudah tidak ada, ibu kabur bersama laki-laki yang lebih kaya karena tidak tahan hidup pas-pasan dengan bapak. Dan bapak meninggal karena sedih ditinggal ibu.

Itu adalah masa-masa kelam dalam hidupku.

Aku tidak mau hidup seperti dulu lagi. Waktu itu, kami memang tidak sampai kelaparan, tapi tetap saja semuanya serba pas-pasan. Bahkan setelah meninggal pun, Bapak masih mewariskan banyak hutang. Tepat setelah aku berpikir seperti itu, seseorang mengetuk pintu rumahku. Ketika membukanya, Sarah, pacarku sejak setengah tahun terakhir, berdiri di depan pintu. Seperti biasa, dengan pakaian kerjanya (cardigan dan rok coklat tua), cewek itu secantik saat pertama kali aku bertemu dengannya. Ketika itu, bus Filosofi Kopi baru satu tahun berkeliling Jakarta, dan kebetulan Sarah sedang istirahat makan siang–ngomong-ngomong, dia bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi. Iya, karirnya bagus dan gajinya besar. Dan kami pun bertemu, merasa cocok, dan enam bulan lalu memutuskan untuk berpacaran.

“Sayang, kamu jadi kan melamar aku?” Itu pertanyaan pertama Sarah saat kupersilahkan masuk. Dia bahkan belum duduk.

“Iya, Sayang. Kan ketemu orangtuamu masih seminggu lagi?” Aku balik bertanya. “Sekarang aku lagi mikirin ngembangin Filosofi Kopi.”

“Bapak udah nanya-nanya terus nih.” Ujar Sarah lagi. “Kamu serius nggak sih sama aku?”

“Serius, Sayang, serius.”

“Kalau begitu dipercepat saja, besok kita ketemu orangtuaku.”

Jika sudah begini, tidak ada pilihan lain. “Oke.” Sahutku berusaha semantap mungkin.
Terpaksa aku mengesampingkan dulu urusan pembelian mesin pencetak kopi sachet. Dan memilih pergi bertemu orangtua pacarku.

Begitulah. Di hari ketika aku harus mengantar Ben ke pelabuhan, aku malah melewatkan waktu bersama keluarga Sarah. Mengobrol dengan bapak, ibu, dan kakak laki-lakinya. Dan bermain-main bersama keponakan-keponakannya. Semua berjalan baik-baik saja, sampai makan malam tiba, dan Calon Bapak Mertua bertanya kepadaku. “Apa pekerjaan Nak Jody?”

Lalu aku menjawab. “Sekarang ini saya mau membuka pabrik kopi sachet, Pak. Baru mulai merintis. Sebelumnya, saya berjualan kopi keliling.”

“Oh.”

Sepertinya Calon Bapak Mertua tidak terkesan sama sekali, maka aku segera menambahkan. “Sebelumnya lagi, saya membuka kedai kopi.”

Tidak ada perubahan.

Calon Bapak Mertua malah berhenti bertanya. Dan sepanjang sisa acara beliau memilih untuk diam. Baru ketika hendak pulang, beliau berpesan kepadaku. “Semoga pabrik kopinya sukses, Nak Jody. Setelah usaha tersebut berhasil, baru kita bicarakan lagi tentang pernikahan Nak Jody dengan anak saya.”

Aku hanya mengangguk. Sudah paham dengan maksud orangtua Sarah. Mereka belum mau menyerahkan anaknya kepada laki-laki yang belum benar-benar mapan. Mereka tentu berharap mendapatkan mantu yang–sebelum berani mengambil tanggung jawab mengurus anak orang–terlebih dahulu harus mampu mengurus dirinya sendiri.

Pulangnya, begitu keluar dari mobil, aku menemukan Ben sudah menunggu di depan rumah.

“Belom pergi lo?” Tanyaku spontan.

“Astaga, sebegitu muaknya lo sama gue?” Ben geleng-geleng kepala. “Gue cuma mampir sebentar aja, Jod. Rasanya nggak enak kalo gue belom pamit.”

Aku tersenyum, lalu berkata tulus. “Kalau gue sukses, gue bakal jemput lo lagi ke kampung. Kita bakal buka cabang Filosofi Kopi di mana-mana, dan gue butuh lo untuk melatih barista-barista muda kita.”

Ben ikut tersenyum, bukan jenis senyum bahagia, tapi senyum kasihan. “Gue tau lho PASTI bakal jemput gue ke kampung. Tapi bukan karena lo sukses, melainkan karena lo bangkrut.”

“Oke, terima kasih untuk doanya.” Sindirku.

Ben tertawa. “Yang jelas, apapun yang terjadi, lo bakal tetap jadi sahabat terbaik gue.” Ujar Ben pelan.

“Gue harap lo ngerti, Ben. Gue harus ngelakuin ini. Lo udah punya El, yang bakal mencintai lo sepenuh hati, nggak peduli lo barista atau petani. Gue beda, Ben. Gue harus sukses supaya orangtua Sarah mau menerima gue sebagai mantu.”

“Iya, gue ngerti.” Sahut Ben. Lalu dia memelukku. “Semoga sukses ngelamar si gondrong lo itu.” Lanjutnya.

Selepas Ben pergi, aku baru menyadari sesuatu. Rupanya, selain meninggalkan harapan agar aku cepat bangkrut, sahabatku itu juga meninggalkan sebuah buku untukku. Isinya resep Ben’s Perfecto, segala bahan-bahan yang diperlukan dan takarannya. Semua ditulis dengan detail di sana. Bagiku, itu saja sudah cukup sebagai bentuk dukungan.

Besoknya, aku mulai mengumpulkan uang untuk bisa membeli mesin pencetak kopi sachet itu. Mulai dari menjual bus Filosofi Kopi, sampai menarik semua tabunganku di bank. Tiga hari kemudian, mesin itu pun menjadi milikku.

Karena mesin kopi sachet itu sangat besar, dan jumlahnya banyak, aku sudah menyewa sebidang tanah untuk mendirikan pabrik. Lisa yang mengurus segala sesuatunya. Kata kakak perempuanku itu, tanah tersebut milik sahabatnya, makanya harga sewanya murah.

Setelah mesin-mesin besar itu dipasang, teknisi-teknisi yang memasangnya melatih kami–aku, Lisa, dan tiga pegawaiku–untuk menjalankan mesin itu. Beberapa sachet pun berhasil dibuat, lalu kami mencicipinya.

Hasilnya lumayan.

Walaupun kopi sachet itu tidak seenak Ben’s Perfecto dengan biji kopi Tiwus buatan Ben. Namun, untuk percobaan pertama, rasanya tidak terlalu buruk.

Produksi pertama pun mulai berjalan. Tanpa kenal lelah, mesin-mesin besar itu meracik kopi, dan mengemasnya menjadi sachet. Di dalam ruangan yang bentuknya mirip lapangan futsal itu, aroma kopi menyebar di udara, dan suara mesin mendengung tanpa henti. Dalam satu jam, sekitar tiga ribu sachet kopi berhasil dibuat. Tentu saja mesin itu masih perlu bantuan manusia untuk menyiapkan biji-biji kopi Tiwus, dan bahan plastik kemasan sachet. Tiga pegawaiku yang bertugas melakukan itu. Sisanya, dilakukan oleh mesin.
Aku sudah menyiapkan tiga buah mobil pickup untuk mendistribusikan sachet-sachet kopi ke pasaran. Baik itu restoran-restoran, kafe-kafe, dan beberapa swalayan dan mini market dua puluh empat jam. Seharian itu, semua ditangani dengan baik.

Sorenya, saat mesin-mesin itu akhirnya beristirahat, dan sachet-sachet kopi sudah disebar ke pasaran, aku duduk di kantor dengan perasaan harap-harap cemas. Menunggu telepon dari beberapa klien, yang berjanji akan memesan kembali Filosofi Kopi sachet jika konsumen mereka puas dengan rasa kopi itu.

Telepon pertama pun masuk. “Halo, Pak Budi?” Sapaku gugup.

“Halo, Pak Jody. Saya ingin memberi kabar.” Ujar suara bapak itu dari ujung sana. Aku menelan ludah. “Ternyata Filosopi Kopi sachet rasanya… LUAR BIASA!” Teriaknya.

“Ha?”

“Iya, konsumen saya sangat suka, dan untuk bulan depan, saya pesan seribu sachet lagi ya. Nanti uangnya saya transfer.”

“Terima kasih, Pak Budi.”

Lalu telepon kututup. Belum sempat merayakan keberhasilanku, sebuah telepon masuk lagi, disusul telepon yang lainnya. Semuanya bernada sama, klien-klienku puas dengan kenikmatan Filosofi Kopi dalam bentuk sachet.

Seminggu kemudian, setelah mendapat transferan dalam jumlah besar dari salah satu klien, aku mampir ke sebuah toko perhiasan, dan membeli sebuah cincin emas putih bertahta berlian.

Lalu, sambil membawa cincin itu, aku datang ke rumah Sarah. Saat pacarku itu membuka pintu, aku langsung menyodorkan cincin itu sambil berlutut. Cewek itu bengong, menunduk dengan bibir setengah terbuka.

Sedetik kemudian, Sarah melompat-lompat kegirangan. “JODY! JODY! JODY!” Teriaknya seperti anak kecil yang baru saja diberi es krim.

Demikianlah. Aku dan Sarah pun akhirnya melewati malam yang indah bersama. Semalaman, kami mengobrol di teras depan.

“Sekarang, usaha kamu kan sudah jalan. Minggu depan, jadi kan kamu ketemu lagi sama bapak, Dy?” Tanya Sarah dengan tatapan sendu.

“Tentu saja.” Sahutku mantap.

Rasanya seperti mimpi. Punya calon istri yang cantik dan baik, dan bisnis juga sedang berkembang menuju kesuksesan. Saat itu, aku merasa menjadi laki-laki paling bahagia di dunia.

Namun, namanya juga hidup. Ketika semuanya terasa begitu indah. Ada saja sesuatu yang terjadi, dan mengacaukan semuanya. Dalam hal ini, sesuatu itu berupa mesin pembuat kopi yang rusak. Iya, tiga bulan setelah kubeli, mesin terkutuk itu rusak.

Aku sudah mencoba menghubungi pengusaha yang menjual mesin itu kepadaku. Namun, dia menghilang seperti hantu. Terpaksa, produksi kopi sachet untuk minggu depan ditiadakan. Mati-matian aku mencari alasan untuk menenangkan klien-klien yang sudah memesan ribuan bungkus sachet, dan sudah membayar pula. Tentu saja mereka tidak menerima alasan macam apapun. Mereka tetap menginginkan pesanannya dikirim di akhir bulan.

Tiga hari pertama, aku mencoba memanggil tiga teknisi paling ahli yang bisa kutemukan, menyuruh mereka memperbaiki mesin terkutuk itu. Namun, ketiganya menyerah. Karena kesal bukan main, aku menendang mesin keparat itu sekuat tenaga. Mesin itu malah mengeluarkan asap, lalu meledak.

Astaga.

Aku sudah tidak bisa melakukan apapun, kecuali merumahkan pegawai, dan mencoba memikirkan cara mencari uang sekitar SATU MILYAR untuk mengembalikan biaya kopi sachet yang sudah terlanjur dibayar oleh klien, dan mengganti kerugian karena aku tidak bisa menyediakan kopi yang mereka pesan.

Di tengah pabrik yang berhenti beroperasi itu, aku duduk sendiri. Lantas, kakak perempuanku datang. “Kayaknya lo mengacau lagi ya, Jod?” Tanyanya.

“Lo bisa lihat sendiri.” Gumamku. “Sekarang gue nggak punya apa-apa lagi, selain mesin bobrok terkutuk ini, dan hutang satu milyar.”

Lisa hanya geleng-geleng kepala, lalu dia duduk di sebelahku. “Gue bawa seseorang yang bisa bantu lo, orang yang menyewakan tanah tempat pabrik ini berdiri.”

“Siapa?”

Dengan tenang, Lisa berdiri dan berjalan keluar. Aku masih kebingungan, sampai seorang perempuan lain masuk ke dalam pabrik. Wajah perempuan itu sangat kukenal, walaupun sudah lama sekali tidak melihatnya. Dia tersenyum, membuatku salah tingkah.

“Mama?”

“Iya, Jody. Mama datang untuk memban…”

“Kenapa baru sekarang datangnya? Ke mana aja selama ini? Papa meninggal karena kehilangan Mama. Aku juga kehilangan Mama.”

“Nak.”

“Sudahlah.” Potongku. Lalu, buru-buru berjalan keluar. Lisa sedang duduk-duduk di emperan pabrik. “Selama ini lo tau Mama sudah pulang kan? Kenapa lo nggak cerita?”

“Gue…”

“Sudahlah, lo sama aja kayak Mama.” Semprotku.

“Jody!”

Aku sudah tidak peduli, dan terus berjalan tanpa menoleh lagi.

Selama seminggu kemudian, aku hanya meringkuk di rumah kontrakan. Tidak keluar kamar, tidak mandi, apa lagi gosok gigi. Dan sengaja mematikan handphone, dan telepon rumah. Aku sedang tidak ingin berbicara pada siapapun. Semuanya membuat kepalaku pusing. Aku bahkan melewatkan acara pertemuan keluarga untuk membicarakan pernikahanku dengan Sarah. Setelah bangkrut dan terpuruk, aku tidak punya cukup rasa percaya diri untuk bertemu orangtua Sarah. Tidak dalam kondisi seperti ini.

Sambil meringkuk di dalam kamar, aku pun terus tenggelam dalam kebangkrutan dan rasa malu. Sampai sesuatu mengetuk-ngetuk kaca jendela kamarku. Awalnya, aku sempat mengira itu maling atau apa, namun ketika kuintip, ternyata Ben. Jadi, aku membuka jendela kamarku. Ben pun merangkak masuk melalui jendela.

“Astaga!” Seru Ben. “Penampilan lo kayak zombie. Kacau banget, lebih kacau dari gue waktu bertapa bikin Ben’s Perfecto.”

“Udah seminggu gue nggak mandi.”

“Nggak perlu dijelasin, bau lo udah menjelaskan semuanya.” Ujar Ben sambil geleng-geleng. “Tapi gue bersyukur lo masih hidup, nggak bunuh diri atau semacamnya.”

“Ngapain lo ke sini?”

Ben tersenyum, lalu menepuk bahuku. “Gue tau lo terlalu gengsi buat minta bantuan gue.” Ujar Ben pelan. “Jadi, gue jauh-jauh dari kampung, datang ke Jakarta, buat bantuin lo.”

“Tau dari mana gue butuh bantuan?”

“Kakak lo.”

“Dasar, orang itu.”

Ben tersenyum. “Dengar, Jody. Mesin pembuat kopi lo rusak, sementara lo harus nyetak lima ribu kopi sachet dalam seminggu.” Ben menghela napas. “Lo nggak bisa menghadapi masalah ini sendirian. Lo perlu gue.”

Aku hanya tersenyum. Aku memang perlu Ben.

Ben ikut tersenyum. “Dan lo juga perlu bantuan nyokap lo.”

“Nggak!” Potongku tegas. “Gue nggak per…”

“Ayolah! Lo nggak pengin dikutuk jadi batu kan?” Potong Ben cepat. “Jangan sampai lo nyesel, Jod. Lo tau nggak? Gue pengin banget ketemu ibu gue, tapi nggak bisa karena beliau udah nggak ada. Lo masih punya kesempatan, Jod. Sekali lagi, jangan sampai lo menyesal.”

Aku menghela napas.

Ben menepuk-nepuk pundakku lagi. “Tapi sebelum bertemu sama nyokap lo, ada seseorang yang juga ingin bertemu sama lo.”

Lantas, Lisa masuk ke kamar. Di belakangnya ada calon istriku, Sarah, yang sudah aku terlantarkan selama dua minggu lebih.

Aku mendekati Sarah, hendak menjelaskan semuanya. Namun, sebelum aku bicara satu kata pun, dia sudah menampar pipiku.

“Itu untuk ketidakhadiran kamu di acara lamaran.” Ujar Sarah.

“Aku…”

Sarah menamparku lagi. “Dan yang itu… supaya kamu sadar, dan bangun dari keterpurukan.” Lalu Sarah melipat kedua tangannya di dada, dia memandangku lekat-lekat.

Baru saja ingin bicara, Sarah menamparku lagi. “Dan itu supaya kamu ingat mandi.”

Aku meringis sambil mengelus-ngelus pipiku yang terasa pedas. Setelah yakin Sarah tidak akan menamparku lagi, aku pun berani berbicara. “Aku salah. Seharusnya aku terus berusaha, bukannya terpuruk seperti ini. Dan seharusnya aku datang ke acara lamaran itu. Dan aku akan segera mandi.”

Sarah menghela napas, matanya mulai berkaca-kaca. Lalu dia menghambur jatuh memelukku.

“Bagus.” Celetuk Lisa. “Sudah cukup peluk-pelukannya. Sekarang waktunya kita perbaiki semua kekacauan ini.”

“Aku akan coba pinjam uang, dan berusaha mencicil semua kerugian klien.” Ujarku lemas.

“Nggak.” Potong Ben. “Lo nggak akan ngelakuin itu. Sekali klien dibuat kecewa, mereka nggak akan mau berbisnis lagi dengan kita.”

“Terus gue harus gimana?”

“Kita bakal siapkan pesanan mereka.”

“Dengan apa? Mesin terkutuk itu sudah rusak.”

“Lo siapin aja empat tong besar, dan orang sebanyak-banyaknya untuk membungkus sachet-sachet terkutuk itu.” Ujar Ben pelan, dan dia menambahkan. “Tapi sebelumnya, lo harus ketemu sama nyokap lo dulu, dia ada di luar.”

“Astaga. Kenapa semua orang tiba-tiba datang mengunjungi gue?”

“Karena mereka khawatir dan sayang sama lo, Paman Gober.” Sahut kakak perempuanku.

Aku pun menemui ibuku di luar, tepatnya di teras depan rumah. Beliau tersenyum, aku membalas senyumannya. “Maafin Mama.” Ujarnya pelan.

“Sudahlah, Ma.” Potongku. “Ayo masuk.”

Lantas, aku membuatkan kopi untuk ibuku, yang langsung membuatnya muntah-muntah. Aku baru sadar tidak bisa membuat kopi.

Ben pun segera mengambil alih situasi dengan membuatkan kopi baru. Lalu, setelah aku mandi, kami mengobrol sampai malam. Aku, Ben, Sarah, Lisa, dan ibu, berbicara tentang mission impossible yang harus kami laksanakan. Membuat lima ribu sachet kopi dalam seminggu. Tanpa bantuan mesin.

Besoknya, tanpa membuang lebih banyak waktu, kami langsung bekerja. Aku membeli empat buah tong besar, sebesar drum minyak tanah. Kata Ben, itu akan digunakan untuk mencampur kopi. Dia pun memberi contoh cara menumbuk kopi yang baik dan benar, menggunakan penumbukan batu di depan 'pegawai-pegawai’ kami. Sudah ada dua puluh orang yang berhasil kami kumpulkan, yang terdiri dari aku, Ben, Sarah, Lisa, ibu, dan tiga pegawaiku. Sisanya, kami mengumpulkan ibu-ibu tetangga dekat pabrik dan anak-anak mereka yang berstatus pengangguran tak berguna.

Di bawah arahan Ben, mereka bekerja dengan giat. Ada yang menumbuk biji kopi Tiwus di penumbukan batu. Ada yang memotong-motong kemasan sachet. Dan khusus untuk Ben, dia bertugas mengecek semua bahan-bahan itu supaya takarannya pas. Aku sendiri sibuk menelepon klien, mengabari bahwa kami sanggup memenuhi semua pesanan yang sudah dibayar. Seharian itu, kami bekerja keras. Sampai akhirnya seribu sachet berhasil dibuat, barulah kami beristirahat. Di hari ketiga, seluruh pesanan sudah dikirim. Dan karena pesanan kali ini ditangani langsung oleh Ben, maka para klien mengaku bahwa konsumen mereka sangat suka dengan rasa Filosofi Kopi sachet yang terakhir ini.

Di pabrik, saat semua pegawai 'dadakan’ sudah membubarkan diri (tentunya setelah menerima gaji), aku dan Ben duduk-duduk di emperan pabrik untuk merayakan keberhasilan. Dan ibuku menghampiri kami.

“Jody.” Panggilnya. “Mama akan membelikanmu mesin pencetak kopi yang baru, yang nggak murahan. Bagaimana menurutmu?”

“Nggak usah, Ma. Nanti suami Mama marah lagi.” Ujarku kalem. Ben langsung menyikutku. “Maksudnya, nanti ngerepotin Mama.” Ralatku cepat.

“Nggak pa-pa. Mama pengin bantuin kamu, Jody. Hanya ini yang bisa Mama lakukan.”

Aku menatap wajah ibuku, dan merasa tidak enak. “Iya, iya, aku terima, Ma.”

“Yaelah, bilang 'iya’ aja kok repot.” Ben menyeletuk.

Aku pun memeluk ibuku. Dan rasanya menyenangkan akhirnya bisa punya ibu lagi.

Begitulah. Sebulan kemudian, sesuai janjinya, ibu membelikanku mesin-mesin baru. Kali ini, Ben sendiri yang memilihnya. Ben sengaja memilih mesin yang memungkinkannya meramu sendiri kopi sebelum dikemas. Dan untuk menggantikan kartu-kartu filosofinya, Ben juga menyertakan tulisan tentang filosofi setiap jenis kopi di masing-masing bungkus sachet.

Selain pabrik Filosofi Kopi, dengan keuntungan yang berhasil kudapat, aku kembali membuka kafe Filosofi Kopi, bahkan dengan dua cabang baru di Yogjakarta dan Bali. Kami juga kadang masih berjualan menggunakan mobil di konser-konser musik, atau pameran kopi, atau di mana pun yang ada keramaiannya.
Setelah semua kembali berjalan normal, akhirnya aku merasa cukup mapan, dan percaya diri untuk melamar Sarah langsung di hadapan kedua calon mertuaku.

Mereka pun setuju.

Pernikahan kami akan dilangsungkan tiga bulan lagi.

Dan seperti yang sudah kuduga, di acara lamaran itu, aku berhadapan kembali dengan pertanyaan yang sama. “Kerja di mana, Nak Jody?”

Kali ini, aku sudah punya jawabannya. Dan kebanyakan yang mendengar akan bilang 'WOW’ sambil manggut-manggut, waktu aku menjawab dengan kalem. “Saya nggak kerja sama orang. Saya pemilik Filosofi Kopi.”

Minggu, 28 Februari 2016

Metafora Tiwi

Cerpen ini adalah cerpen duet saya dengan salah satu teman menulis, Billa dari grup CircleWriters di LINE. Awalnya saya sedang menjadi silent reader di grup itu, yang seingat saya, waktu itu, sedang membahas bahwa grup sedang sepi atau semacamnya. Lalu, saya berinisiatif untuk membuat ramai dengan main cerita bersambung. Jadi, saya menulis kalimat pembuka cerpen ini, yaitu: "Pada suatu masa di Kota Jakarta, hiduplah seorang cewek bernama Tiwi. Dia punya cita-cita ingin jadi penulis. Dan memiliki sebuah karya yang mengesakan."

Saya pun menunggu.

Dari 60-an orang yang ada di grup itu, Billa merespon dengan baik ajakan untuk menulis bareng ini, dia menambahkan satu kalimat: "Tetapi takdir berkata lain." Lalu saya menambah satu kalimat lagi, setelah itu Billa lagi. Begitu terus sampai cerpen ini selesai. Memang pada akhirnya, kami tidak hanya saling menambahkan satu kalimat, karena lama-lama—entah karena kami terlalu bersemangat, sekali mendapat giliran, saya dan Billa bisa menulis satu sampai dua paragraf. Dan kami pun menyelesaikan cerpen ini hanya dalam waktu beberapa jam. Dari siang hingga sore.

Bagi saya, rasanya menyenangkan sekali bisa menulis secara duet seperti ini. Dan saya berharap, semoga kamu juga bisa menikmati cerita ini. Selamat membaca!

 ***





Pada suatu masa di Kota Jakarta, hiduplah seorang cewek bernama Tiwi. Dia punya cita-cita ingin jadi penulis, dan memiliki sebuah karya yang mengesankan.

Tetapi takdir berkata lain.

Orangtuanya—terutama ayahnya, tidak menyetujui cita-citanya itu, dan lebih suka agar Tiwi fokus dulu belajar. Rencananya, setelah lulus sekolah nanti, Tiwi akan dikuliahkan oleh ayahnya, dia diwajibkan belajar dengan baik, supaya cepat tamat, dan bisa langsung lulus tes PNS.

Demi membuat kedua orangtuanya bahagia, Tiwi pun mengesampingkan hobinya. Dia menjadi pribadi yang sangat berbeda, namun ketika tak ada yang melihat, dia tetap berkarya. Menyimpan semua hasil tulisannya dalam sebuah buku yang tidak diketahui oleh siapapun.

Demikianlah Tiwi terus menjalani hidupnya, belajar dengan baik, dan di waktu-waktunya yang santai, dia terus menulis dan menulis. Tiwi ingin membuat sebuah novel. Sebuah karya yang kelak bisa menyentuh banyak hati.

Tiwi terus menulis, hingga suatu hari, tiba-tiba ayahnya mengalami sakit keras yang membuatnya didera rasa bersalah karena telah membohongi beliau. Tiwi pun berkata jujur, tentang apa yang selama ini ia lakukan di belakang ayahnya.

Di tengah batuk-batuk yang tiada henti, ayahnya memaksa Tiwi untuk berjanji. "Nak, janji sama ayah, kamu jangan nulis lagi. Kamu janji harus fokus belajar biar bisa jadi PNS."

"I-Iya, Ayah." Sahut Tiwi getir. Dia menangis di dalam hati.

Ayahnya mengangguk lemah. "Ayah bangga dan sayang padamu, Nak. Ayah ingin kamu bahagia."

Mendengar ucapan ayahnya, rasanya Tiwi ingin menjerit bahwa dia tidak mungkin bisa merasa bahagia tanpa menulis. Namun, Tiwi hanya mengangguk, menelan bulat-bulat segala kekecewaan. Biarlah mimpinya terkubur, yang penting ayahnya sembuh dan sehat seperti sedia kala.

Malam itu juga, Tiwi memasukkan semua tulisannya ke dalam sebuah peti, termasuk naskah novel yang sedang ia kerjakan. Lalu peti itu digembok, dan kuncinya dia buang ke selokan depan rumah. Selamanya, Tiwi tidak akan menulis lagi, sesuai janjinya pada sang ayah.

Semenjak itu, hidup Tiwi kelam dan suram. Ia memang berhasil lolos SMPTN, berhasil membuat kedua orangtuanya bangga. Prestasi demi prestasi ia torehkan, namun jiwa Tiwi seakan hampa dan tanpa makna. Ia merasa terkekang dan letih, hingga suatu saat ia melihat poster lomba mengarang tingkat nasional yang ditempel di mading kampusnya.

Tiwi bimbang. Apa lagi, sahabat baiknya, Adipati, terus menyemangatinya agar mengirim salah satu naskah novelnya ke lomba itu. Adipati yakin, naskah itu cukup bagus untuk menjadi pemenang. Namun, Tiwi tetap ragu, karena teringat janjinya pada sang ayah. Selama tiga hari, setiap malam, Tiwi dilanda perasaan galau.

Akhirnya, ia memantapkan tekad. Tiwi pun membuka petinya—dia memang tidak pernah benar-benar berniat berhenti menulis, Tiwi masih menyimpan dengan baik kunci cadangannya, agar sewaktu-waktu bisa membuka peti itu.

Setelah peti terbuka, Tiwi mengambil salah satu naskah terbaiknya, lalu mengirimkannya kepada panitia lomba. Dia berjanji pada dirinya sendiri, ini akan menjadi kali terakhirnya mengecewakan kedua orangtuanya. Lagipula, jika ia menang, tidakkah ayah dan ibunya akan merasa bangga padanya?

Setelah mengirim naskah itu, selama hampir tiga bulan, Tiwi menunggu dengan harap-harap cemas. Tidak mau terlalu berharap, tapi jelas-jelas dia memang berharap bisa jadi pemenang. Dan itu membuatnya cemas. Bagaimana kalau ayah tau? Tiwi mengacak-acak rambutnya. Uh! Sial! Umpatnya dalam hati. Seharusnya aku nggak ngirim naskah itu untuk ikut lomba! Seharusnya aku belajar saja dengan baik tanpa mendengar ocehan si Adipati yang sok tau itu. Tiwi menjadi semakin galau.

Suatu hari, ibunya memanggil Tiwi setelah makan malam. Ayahnya sudah duduk di meja makan, di tangannya terdapat amplop bertuliskan: LOMBA MENGARANG NASIONAL, dan di bawahnya terdapat tulisan kecil 'Juara 1'. Jantung Tiwi berdegup cepat, setengah karena dia tidak percaya dirinya juara satu, setengah karena dia takut ayahnya akan memarahinya. Perlahan, Tiwi duduk di hadapan ayahnya.

"Apa ini?" Tanya ayahnya sambil menyodorkan amplop coklat itu.

Tiwi sudah mau menangis, tapi ditahannya. "Am-amplop, Ayah." Sahut Tiwi nyaris tak terdengar.

"Ayah juga tau itu amplop." Sahut ayahnya. "Isinya apa?"

"Belum tau, kan belum liat." Sahut Tiwi.

Ayahnya menggebrak meja, membuat Tiwi tersentak. "Kalo gitu buruan liat."

Tanpa menunggu lebih lama, Tiwi membuka amplop itu dan benar saja, dia mendapat juara satu nasional. Hati Tiwi mau meledak saking senangnya, namun dia tidak bisa mengekspresikan kebahagiaan itu di depan ayahnya.

"Mulai sekarang, terserah kamu aja, Tiwi. Ayah sudah tidak peduli lagi." Ayahnya berdiri, masuk ke kamar dengan membanting pintu sampai salah satu foto keluarga terjatuh, dan pecahan kacanya berserakan di lantai.

Tiwi menahan air mata yang sudah mau melesak keluar. Ia tahu ia salah, tapi apakah dirinya sama sekali tidak boleh menyalurkan hobinya? Akhirnya, satu isakan keluar dari bibirnya. Kemudian disusul oleh isakan lagi, hingga akhirnya ia menangis histeris hingga pundaknya bergetar hebat. Ibunya mengusap pundaknya sesaat, lalu duduk di sebelahnya.

"Ayah kamu benar, Tiwi. Kamu harus fokus pada sekolahmu. Apa pentingnya menulis?" tanya ibunya, membuat hati Tiwi semakin sakit dan nyeri.

Tiwi tidak menjawab. Ia hanya mengambil amplop coklat itu, merobeknya hingga puluhan robekan kecil, lalu menjerit, "Ibu puas sekarang? Ibu puas?! Tiwi selama ini udah berjuang demi kebahagiaan ayah dan ibu! Tiwi nggak butuh jadi juara satu! Tiwi hanya butuh ayah dan ibu buat bangga sama Tiwi!"

Dengan banjir air mata, Tiwi masuk ke kamar dan menjatuhkan dirinya di kasur. Isakannya semakin menjadi-jadi. Lalu handphone-nya berbunyi.

"Halo?" Sahut Tiwi dengan suara bengek.

"Tiwi? Kamu kenapa?" Sahut Adipati di ujung sana.

"Gara-gara kamu, aku dapat juara satu nasional!" Semprot Tiwi sebal.

"Ha? Serius? Bagus dong! Selamat ya, Tiwi!" Seru Adipati antusias. "Aku bangga sama kamu."

"Jangan ganggu hidupku lagi, Di. Please." Ujar Tiwi sambil terisak. "Semuanya masih baik-baik saja sebelum kamu nyuruh aku ikut lomba itu. Seharusnya aku nggak ikut!"

"Bakat kamu terlalu besar untuk disia-siakan."

"Apa pedulimu?"

"Jelas aku peduli. Aku..." Kalimat Adipati terhenti sejenak, sebelum dia melanjutkan. "Aku suka sama kamu, Tiwi."

"Ha?"

"Dari pertama kita ketemu tiga tahun lalu, aku sudah suka sama kamu."

"Jangan ganggu aku lagi!" Teriak Tiwi sekali lagi. Lalu telepon ditutup.

Keesokan harinya, Tiwi berpapasan dengan Adipati. Tiwi mengalihkan pandangan, namun tiba-tiba Adipati menahan tangannya.

"Aku minta maaf kalau ucapanku kemarin membuatmu tidak nyaman," ujar Adipati.

Tiwi menatap mata Adipati yang menatapnya dengan tatapan tenang itu. Tiwi menggeleng pelan. "Bukan salah kamu, Di."

"Kamu mau cerita kenapa kemarin kamu marah-marah?"

Tiwi menggeleng lagi. Ia kembali teringat akan amplop coklat itu, yang sudah hancur ia robek-robek. Entah bagaimana kelanjutan lomba itu.

Adipati menggenggam tangan Tiwi. "Nggak pa-pa kalau kamu nggak suka aku. Aku memang gak terlalu berharap. Tapi aku sangat berharap kamu bisa jadi penulis betulan." Adipati menatap mata Tiwi sendu. "Dan aku punya satu cara agar ayahmu mau berubah pikiran."

"Apa?"

"Gunakan keahlianmu."

"Keahlianku?"

"Iya, tulis semua kegalauan hatimu dalam sebuah cerita. Dan kirim cerita itu kepadaku." Ujar Adipati.

Tiwi menghela napas. "Terakhir kali aku menuruti saranmu, aku dimarahi habis-habisan oleh ayah. Beliau sampai membanting pintu dan menghancurkan foto keluarga. Jadi buat apa aku mengikuti saranmu lagi?"

"Percaya sama aku." Sahut Adipati singkat.

Ragu, Tiwi mengangguk. Malamnya, dia pun menulis sebuah cerita tentang apa yang dia alami, tentang keinginannya menjadi penulis, dan tentang ayahnya yang tidak merestui keinginannya itu. Setelah tulisannya rampung, Tiwi mengirimkannya kepada Adipati melalui email. Dan entah apa yang dilakukan cowok itu, namun pagi harinya, cerita yang ditulis Tiwi sudah dimuat di sebuah koran lokal. Koran yang biasa dibaca oleh ayah Tiwi.

Paginya, ketika Tiwi tengah menikmati sarapan dengan kedua orangtuanya, ayahnya membuka koran yang biasa ia baca. Awalnya Tiwi tidak menyadari apapun, mulai dari kening ayahnya yang berkerut hingga ekspresi sedih ibunya yang ikut membaca.

"Tiwi," panggil ayahnya. "Kamu menulis ini?"

Tiwi mendongak. "Menulis apa, Yah?"

"Ini, cerita yang dimuat di koran ini."

Tiwi mengambil koran tersebut dari ayahnya dengan pelan, lalu membaca judul cerpen tersebut. Dia langsung tahu bahwa ini ulah Adipati. Lalu matanya beralih takut-takut ke arah ayahnya. "Iya, Yah. Maaf. Ayah boleh marah sama Tiwi, Tiwi tahu Tiwi salah."

Tanpa sepatah kata pun, ayahnya langsung berangkat ke kantornya di sebuah instansi pemerintah. Baru saja memasuki ruangannya, seorang anak buahnya menghampiri.

"Maaf, Pak. Prahastiwi Ardhia itu anak bapak kan?" Tanya si anak buah.

Sang ayah mengerutkan kening. "Iya, memangnya kenapa?"

"Anak bapak sangat berbakat dalam menulis. Anda beruntung punya anak secerdas itu."

"Ngomong apa sih kamu. Sana kerja." Ujar sang ayah, namun dia senang karena anaknya dipuji.

Belum sempat duduk di ruangannya, giliran atasannya yang memanggil.

"Ada apa bapak memanggil saya?" Tanya sang ayah.

"Prahastiwi Ardhia itu putri bapak?" Tanya Sang Atasan.

"I-iya. Kenapa, Pak?"

Sang Atasan tersenyum. "Saya baca cerpennya di koran. Saya sangat tersentuh." Ujarnya. "Sebaiknya putri bapak diberi kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Jangan terlalu keras sama anak yang masih remaja, Pak." Lanjut Sang Atasan.

"Baik, Pak."

Selama jam kerja, sang ayah banyak merenung. Sepanjang jalan menuju pulang juga sang ayah merenung. Apa aku terlalu keras sama Tiwi? Tanyanya dalam hati.

Di rumah, ayah Tiwi langsung berjalan menuju kamar anak semata wayangnya. Ia membuka pintunya sedikit, dan melihat bahwa Tiwi tengah belajar dengan serius, beberapa buku tampak menggunung di atas meja. Ayahnya tersenyum. Tiwi punya kesadaran belajar sendiri, sebenarnya saya tidak perlu memaksanya.

Begitulah, ayah Tiwi kembali berlalu dari pintu kamar anaknya. Meninggalkan Tiwi yang tengah menekuni bukunya dengan penuh keterpaksaan, sementara di otaknya tengah mengalir ide-ide yang sama sekali tidak bisa ia salurkan.

Sebelum tidur, sekali lagi ayahnya masuk ke kamar Tiwi, dan melihat anaknya sedang duduk di tempat tidur.

"Boleh ayah bicara?" Tanyanya.

Tiwi mengangguk. "Boleh."

Ayahnya pun duduk di samping Tiwi, menatap lembut anak gadisnya itu. "Tadi, di kantor, ayah banyak merenung. Ayah menatap ikan di akuarium."

"Ikan?"

"Iya, ayah berpikir, seandainya ikan itu dikeluarkan dari air dan diletakkan di tanah. Tentu ikan itu akan tersiksa dan mati."

"Terus?"

"Tapi tentu saja ayah tidak tega melakukan itu. Dan ayah jadi mikirin kamu. Melarangmu menulis sama kayak meletakkan ikan di darat. Kamu pasti tersiksa, dan ayah minta maaf karena baru menyadari itu." Ayahnya menghela napas. "Sekarang kamu bebas menulis apapun yang kamu suka. Ayah janji nggak akan melarang lagi."

"Makasi, Ayah." Tanpa bisa dihalangi lagi, Tiwi menghambur jatuh memeluk ayahnya. Sang ayah mengusap rambut Tiwi penuh sayang.

Setelah ayahnya keluar dari kamar, Tiwi pun mengambil handphone-nya dan menghubungi Adipati. Tidak sabar rasanya memberitahu berita baik ini.

Adipati menjawab panggilan Tiwi pada dering pertama. "Halo? Kenapa, Tiwi?"

Mendengar suara Adipati saja sudah membuat Tiwi senang setengah mati. Ia memeluk bantalnya, telungkup di atas tempat tidur. "Adipati, aku sangat senang hari ini. Kamu tahu kenapa?"

"Coba kutebak, apakah ayahmu memperbolehkanmu menulis lagi?"

Tiwi tertawa. "Di, aku sangat berterima kasih padamu. Terima kasih juga sudah bersabar menghadapiku yang kemarin marah-marah."

Tiwi dapat merasakan Adipati tersenyum di ujung sana. "Aku juga senang kalau kamu senang."

Hening sejenak. Tiwi tidak tahu harus berkata apa lagi. Hatinya terlalu senang untuk sekadar berkata-kata. Hingga tiba-tiba Adipati berdeham.

"Aku masih menunggu jawabanmu, omong-omong," ujar Adipati.

"Soal apa?"

"Saat aku berkata kalau aku menyukaimu. Kamu belum bilang kalau kamu menyukaiku juga atau tidak. Aku nggak memaksamu, aku hanya ingin tahu. Seperti yang aku katakan kemarin, aku gak berharap terlalu tinggi."

Hening lagi.

"Tapi... Aku nggak bisa ngasih jawabannya lewat telepon." Ujar Tiwi. "Aku mau ngomong langsung."

"Turun."

Kening Tiwi berkerut. "Turun?"

"Iya, turun. Aku ada di depan rumahmu."

"Ha?" Buru-buru Tiwi membuka jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Dan benar saja, Adipati ada di bawah sana. Cowok itu mengangkat tabletnya tinggi-tinggi dengan kedua tangan. Di layar tablet itu ada tulisan: "TIWI, MAU NGGAK JADI PACARKU?"

Tiwi terperangah beberapa saat. Lalu Adipati berteriak. "MAU?"

Tiwi tersenyum, lalu mengangguk. "MAU!"

Cewek itu pun berlari turun, lalu keluar dan memeluk Adipati erat. Sekarang dia boleh menulis apa pun yang dia mau, semuanya karena cowok yang sedang dia peluk ini. Sinar bulan tampak benderang di atas sana, dan malam tidak pernah seindah ini.

Selasa, 27 Oktober 2015

Bayu dan Ayas

Seharusnya dia sudah datang, itu yang dipikirkan Ayas tiga puluh menit terakhir. Cewek itu sedang duduk di sebuah kafe. Sendirian. Dan telah lewat setengah jam dari waktu yang mereka janjikan. Namun, Bayu—pacarnya—tidak kunjung muncul di kafe itu.

Tatapan Ayas nyaris tak pernah teralih dari pintu masuk kafe, memandangi orang-orang yang masuk ke dalam. Berharap Bayu akan muncul di sana, lalu membawanya pergi. Mereka sudah berjanji akan minggat dari rumah, jika orang tua Bayu tetap tidak merestui hubungan mereka.

Waktu terus berlalu, namun tidak ada tanda-tanda Bayu akan datang. Setiap kali ada sosok cowok tinggi dengan rambut pendek rapi, Ayas akan mengira bahwa itu Bayu. Dan dia akan kecewa, karena ternyata bukan. Ayas pun mulai gelisah. Dia menggigit bibir bawahnya. Kenapa Bayu tidak datang-datang? Apa Bayu berubah pikiran? Tapi kenapa tidak ada kabar? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalanya. Ayas sudah berusaha menghubungi Bayu, namun teleponnya tidak diangkat dan SMS-nya tidak dibalas. Setelah itu, berkali-kali Ayas menghela napas, namun perasaannya tidak kunjung membaik.

***

Di sebuah rumah, tidak jauh dari kafe tempat Ayas menunggu, suasana yang tenang mendadak digemparkan oleh suara teriakan yang membuat para tetangga terkaget-kaget.

"INI HIDUP SAYA! SAYA YANG MENJALANINYA, BUKAN PAPA ATAU MAMA!" Itu teriakan Bayu, dia tampak berusaha keras menahan emosi di depan kedua orang tuanya. Namun gagal.

"Nak, kamu belum sadar, jangan memilih pasangan dengan pikiran pendek seperti itu." Ibunya berkata pelan. Masih berusaha membujuk anak satu-satunya itu. Padahal Bayu sudah muak mendengarnya.

"Pa, Ma, sejak kecil saya selalu menuruti apapun keinginan Mama dan Papa." Bayu menghela napas menahan emosi. "Tapi tolong, sekali ini saja, izinkan saya sendiri yang memilih calon pendamping hidup."

"Pendamping hidup? Tau apa kamu soal pendamping dan hidup? Hah? Kamu masih bau kencur begitu." Papanya memotong tajam. "Siapa nama cewek itu? Ayas? Cewek dari keluarga gak jelas! Tinggalkan saja dia, Bayu!"

"Keluarganya jelas, Pa! Dia punya ibu. Tapi bapaknya sudah meninggal." Sambar Bayu. “Dan dia baik, Pa. Kasih dia kesempatan. Papa dan Mama baru ketemu dia satu kali doang, tapi sudah menganggap dia nggak baik buat saya.”

"Iya. Cukup sekali saja. Papa sudah langsung tau bahwa ibunya kerja di kafe remang-remang." Semprot Papanya. "Pokoknya kamu harus tinggalin cewek itu. Papa sudah carikan kamu calon istri, kamu pasti suka."

"NGGAK!"

"Bayu!" Ibunya berdiri. "Jangan kurang ajar kamu sama orang tua!"

Bayu ikut berdiri. "SAYA NGGAK KURANG AJAR, SAYA CUMA MAU MEMPERJUANGKAN SESEORANG YANG SAYA CINTAI!" Tandas Bayu penuh emosi. Lalu dia pergi, meninggalkan kedua orang tuanya yang masih terbengong-bengong.

Dengan emosi yang meluap-luap, Bayu mengambil sepeda motornya, dan menggebernya keras-keras. Sebelum dia melesat cepat seperti peluru yang ditembakkan seorang sniper, melaju pergi dari rumah orang tuanya. Bayu bahkan tidak memakai helm.

***

Satu jam sudah berlalu, Ayas masih menunggu dengan gelisah di kafe itu. Beberapa pengunjung sudah mulai pulang. Suasana kafe pun mulai sepi.

Di depannya, di atas meja, sudah ada dua gelas jus stroberi. Satu kosong, satu lagi sisa setengah gelas. Perutnya sudah kembung, sudah tiga kali bolak-balik toilet, namun pacarnya masih belum datang dan tidak ada kabar. Mungkin Bayu tidak akan datang, pikirnya. Mungkin dia mengikuti kehendak orang tuanya, pikirnya lagi.

Bayu memang bisa melakukan itu, meninggalkannya begitu saja, dan memutuskan menerima calon istri yang dipilihkan oleh orang tuanya. Posisi Ayas sangat lemah. Dia bukan orang berada, dia tidak punya bapak, dan ibunya tidak terlalu peduli dengannya. Bagaimanapun, Ayas sadar akan hal itu ketika pertama kali bertemu Bayu di sebuah undangan pernikahan temannya. Sudah berkali-kali dia berusaha menghindari Bayu, namun seolah sudah ditakdirkan untuk menjadi sepasang kekasih, segala upayanya untuk menghindar malah membuat Bayu semakin mengejarnya. Sampai akhirnya, mereka jadian.

Selama empat tahun, Ayas merasa bahagia bersama Bayu. Itu adalah masa-masa termanis dalam hidupnya. Setiap saat, Bayu memperlakukannya dengan baik, dia menyayangi Ayas seolah hari itu adalah hari terakhirnya. Dan hanya saat itulah dia bisa menyayangi Ayas. Semua terasa hampir sempurna. Sampai suatu hari, Bayu mengenalkan Ayas kepada kedua orang tuanya. Dan di sanalah kekacauan terjadi.

Padahal ketika itu, Ayas baru bicara satu kalimat, tentang pekerjaan ibunya. Hanya itu saja.

Lalu, kedua orang tua Bayu langsung menyuruhnya pulang, dan melarang Ayas datang lagi ke rumah. Dia juga diwajibkan mengakhiri hubungannya dengan Bayu. Saat itu, Ayas dibuat bingung. Apa salahku? Bukannya aku baru bicara satu kalimat? Kenapa aku dan Bayu harus putus hanya karena satu kalimat itu?

***

Sementara itu, Bayu yang sedang emosi, mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Hampir mencapai 100 km/jam. Tanpa helm.

Dengan kecepatan mematikan seperti itu, susah bagi Bayu untuk berhenti jika ada halangan mendadak yang muncul di depan mata. Termasuk ketika tiba-tiba di hadapannya, ada sebuah motor lain yang ingin menyebrang. Bayu mengerem mendadak, motornya bisa berhenti tepat di depan si pengendara motor yang ingin menyebrang itu. Namun, karena kecepatan yang sangat tinggi, dan pengereman yang dilakukan secara mendadak, tubuh Bayu terpental dari motornya. Dia seolah terbang sekitar 10 meter ke depan.

Jika Bayu mendarat dengan kecepatan seperti itu—tanpa helm pula, sudah pasti kepalanya akan pecah terbentur aspal. Selama kurang dari sedetik, Bayu melayang di udara. Sebelum akhirnya gravitasi menariknya ke bawah.

Saat itulah, Bayu baru menyadari bahwa tidak seharusnya dia ugal-ugalan, apapun masalahnya masih bisa dibicarakan baik-baik, apapun itu. Dan Bayu memikirkan Ayas, cewek itu pasti sedang menunggu di kafe langganan mereka. Ayas yang cantik, dengan mata yang sendu dan menyejukkan itu. Bayu berpikir, sekarang dia tidak akan bisa melihat Ayas lagi. Maafkan aku, Ayas, batinnya. Dan tubuh Bayu terhempas dengan kepala lebih dulu.

***

Ketika ingin meminum jus stroberinya yang ketiga, Ayas tak sengaja menjatuhkan gelas yang dipegangnya. Gelas itu pecah dan berserakan di lantai. Membuat lantai kafe berubah menjadi merah.

"Maaf, maaf," ujar Ayas saat seorang pelayan datang dan membersihkan pecahan gelas itu.

Selanjutnya, Ayas hanya bengong. Pikirannya dipenuhi firasat-firasat buruk. Sekarang dia tidak lagi berpikir bahwa Bayu berubah pikiran, dia mulai khawatir. Bagaimana jika terjadi apa-apa pada Bayu di jalan? Bagaimana jika dia pertengkar dengan orang tuanya dan mengendarai motor dengan emosi yang tidak stabil? Bagaimana jika Bayu tidak akan pernah datang karena…

Memikirkan itu, Ayas langsung menggeleng kuat-kuat. Matanya seketika menghangat, dan mulai berkaca-kaca. Dia menghubungi handphone Bayu.

***

Ketika memasuki kafe itu, handphone-nya berbunyi. Namun dia tidak mengangkatnya, malah langsung menghambur jatuh memeluk cewek yang sedang duduk di salah satu bangku kafe, dia memeluknya dari belakang sambil menangis. Seolah mereka sudah berpisah bertahun-tahun, dan baru saat itu bisa bertemu.

"Bayu?" Ayas menoleh dengan mata basah. Dan menemukan Bayu memeluknya dari belakang juga dengan air mengalir dari matanya. "Kamu kenapa, Bayu?"

"Aku hampir kehilangan kamu karena kebodohanku sendiri." Sahut Bayu. "Tadi aku mengalami kecelakaan, aku hampir mati jika tidak terjatuh tepat di gundukan pasir sisa proyek perbaikan trotoar. Aku bodoh. Aku bodoh. Aku bodoh." Bayu terisak.

Lantas, mereka tidak berkata apa-apa lagi, hanya saling memeluk dengan punggung yang sesekali bergetar.

***



Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Minggu, 21 Juni 2015

Surat Untuk Cinta Pertama

Dear Cinta Pertamaku,

Sebenarnya, dulu, dengan polosnya aku sempat berharap kamu akan jadi yang terakhir. Namun, sekarang kita sudah sama-sama tahu bahwa itu tidak akan pernah terjadi. Karena... Ah, sudahlah.

Namun, tetap saja, aku merasa beruntung sempat jadian denganmu. Masa-masa ketika masih bersamamu, walaupun singkat—berapa lama? Sepuluh bulan? Tapi rasanya ramai, seperti makan rujak. Kadang manis, kecut, dan pedas.

Sekarang, setelah lama kita putus, izinkan aku untuk berkeluh kesah tentangmu. Nggak, aku nggak marah. Aku hanya ingin mengenang masa-masa "ngerujak" itu.

Hmmm.

Pertama kali aku melihatmu, di mataku, kamu adalah adik kelas yang sangat manis. Kulitmu sawo matang, dengan rambut sebahu yang terlihat halus, dan suara serak-serak sembermu yang menggoda. Entah bagaimana kita bisa saling kenal, aku lupa. Tapi yang jelas, buatku, kamu menarik dan aku menyukaimu. Walaupun mungkin tidak demikian denganmu, karena waktu itu kamu sempat curhat padaku bahwa kamu sedang naksir seseorang, yang kebetulan bukan aku.

Dan akhirnya kamu jadian dengan seseorang itu. Tapi tidak lama. Beberapa bulan kemudian, kamu curhat lagi padaku bahwa pacarmu menyebalkan, lalu kamu putusin.

Sejak itu, hampir setiap hari, kamu terus-terusan mengirim SMS untukku. Mengucapkan selamat pagi atau mengingatkan untuk sarapan atau semacamnya. Tau nggak? Belum pernah aku diperhatikan seperti itu. Aku jadi bertanya-tanya. Mungkin seperti ini rasanya punya pacar? Sungguh, perasaan yang aneh. Aku jadi sering senyum-senyum sendiri seperti orang stres.

Lalu empat bulan kemudian. Iya, EMPAT bulan. Setelah beberapa kali nonton bareng di bioskop dan keluar buat makan berdua, dan entah berapa SMS yang saling kita kirim, akhirnya aku memberanikan diri untuk "nembak" kamu. Secara ajaib, walaupun aku mengucapkannya dengan terbata-bata mirip orang gagap lagi kumur-kumur, kamu tetap menerimaku. Dan di momen itu, seperti ada kembang api yang meletup-letup di hatiku, saat melihatmu mengangguk sambil tersenyum malu-malu.

Momen itu juga yang menjadi penanda tak terlupakan masa-masa indah dimulai.

Di minggu pertama, kamu tetap perhatian. Mengirim SMS setiap pagi dan mengingatkan agar tidak lupa makan, seolah kalau kamu nggak ngingetin, aku bakal mati kelaparan. Tapi aku bahagia. Perhatian kecil seperti itu membuatku merasa spesial.

Dan tepat sebulan setelah kita jadian, kamu mengirim sebuah SMS. "Selamat sebulan jadian, Sayang. Semoga kita langgeng ya. Aku sayang kamu." Lalu aku membalas. "Aku juga sayang kamu. Selamat sebulan jadian juga, Sayang." Begitu terus di bulan-bulan selanjutnya. Setiap tanggal 17.

Huft.

Aku pikir ritual itu akan bertahan sampai bulan keseribu, tapi ternyata tidak. Di bulan kesembilan, kamu sudah mulai menjauh, jarang mengirim SMS selamat pagi, dan tidak pernah mengingatkan sarapan lagi. Dan belum sempat mengucapkan "selamat sepuluh bulanan, Sayang", tiba-tiba kita sudah putus. Lalu kamu jadian dengan cowok lain.

Waktu itu, aku berpikir bahwa kamu JAHAT. Iya, kamu sangat jahat karena tega meninggalkan aku dalam keadaan masih sayang setengah mati sama kamu. Namun, malam itu, enam bulan setelah kita putus. Aku merenung sambil menangis di bawah kucuran air shower, dan mencapai satu kesadaran bahwa tidak ada yang bisa aku lakukan. Semua ini sia-sia, bagaimanapun, aku nggak bakal bisa bikin kamu sayang lagi sama aku. Aku nggak bakal bisa memaksa perasaan apapun yang dulu pernah kamu rasakan padaku, agar muncul lagi di hatimu. Jadi, di bawah kucuran air yang dingin itu, akhirnya aku sepenuhnya bisa merelakanmu, seolah semua sisa-sisa perasaanku padamu ikut luntur bersama air.

Sejak malam itu, aku berusaha menjalani hidup normal, berusaha merasa tidak patah hati. Sampai akhirnya aku dapat pacar baru, dan tempat yang kamu tinggalkan di hatiku kembali ada yang mengisi.

Begitulah...

Jika kamu kebetulan membaca surat ini. Semoga kamu bahagia. Ini betulan tulus. Semoga kamu bahagia.

Dan terima kasih untuk masa-masa indah yang sempat kamu berikan.


Bukan Siapa-Siapamu,

Rama.

Rabu, 27 Mei 2015

The Broken Journey (Part 5)

Lanjutan cerita dari Sekar (@sekartajirolu) di blog sekartajiblog.blogspot.com.

***

Mencari Sekar

Macan terkutuk itu sudah hilang. Masalahnya, Sekar ikut hilang.

Kami berempat—aku, Hanif, Mega, dan Mila—mencoba mencari Sekar di sekitar tenda. Oke, mungkin lebih tepatnya bertiga, karena Mila tidak sanggup berdiri, kakinya bengkak dan membiru. Dia menangis sambil memanggil-manggil nama adiknya. Namun, anggota termuda di kelompok kami itu tetap tidak ditemukan. Sekar menghilang seolah ditelan bumi. Atau macan.

Huft.

Situasi sulit ini membuat kesabaranku habis. Aku mendatangi Hanif. Kali ini, ia tidak bisa menghalangi aku lagi. "Kak, aku akan pergi mencari Sekar."

"Sendirian? Nggak!" Sahut Hanif. Masih saja keras kepala. "Bagaimana kalau terjadi apa-apa juga denganmu? Kita cari bersama-sama."

"Tapi, Mila nggak bisa jalan!" Seruku keras.

Mila mulai menangis lagi. "Adikku..." Ujarnya terisak-isak sambil berusaha bangun. "Aw, kakiku!" Pekiknya. Aku tidak tega melihat Mila. Setelah terancam kehilangan kaki, dia juga harus kehilangan adik.

Aku mengusap wajahku. "Kak, ada macan yang berkeliaran di luar sana. Dan Sekar sendirian. Kita harus segera mencarinya!"

"Macan itu sudah pergi!" Sergah Hanif. Lalu, di kejauhan terdengar suara geraman macan.

Kami berempat terdiam.

"Benar kata Rama, sebaiknya kita segera mencari Sekar," usul Mega.

Hanif menggaruk kepalanya. "Oke, kita segera mencari Sekar. Tapi kamu nggak boleh pergi sendiri, Rama. Aku ikut." Ujarnya.

"Lalu, siapa yang menjaga mereka?" Tanyaku sambil menunjuk Mega dan Mila. Hanif menghela napas. Lantas, ide itu muncul begitu saja. "Bagaimana kalau Mega ikut denganku?"

Hanif terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah," ujarnya. Giliran Mega yang menghela napas.

Dan begitulah. Malam berlalu cepat. Dini hari yang dingin, sementara Hanif menjaga Mila, aku dan Mega berjalan menembus hutan untuk mencari Sekar. Udara dingin membuat hidungku terasa basah. Saat menghembuskan napas, aku seperti sedang merokok. Dengan bantuan senter dan sebatang kayu, aku berjalan melewati ranting-ranting dan daun-daun kering. Tetap waspada, karena bisa saja di sana ada ular. Mega mengikutiku di belakang. Merapat padaku, dan mencengkeram bagian belakang jaketku. Hampir tidak ada jarak di antara kami. Aku bisa mencium wangi parfum stroberinya. Sejak dulu, Mega memang selalu wangi, bahkan sekarang, setelah tiga hari tidak mandi.

Sejenak, aroma stroberi itu membawaku ke masa-masa ketika kami masih pacaran. Dulu, kami pernah sangat dekat, seolah tak terpisahkan. Aku nyaman bersama Mega. Dia yang terindah. Mega jauh lebih baik dari Lia, mantan terakhirku, dan bahkan mantan-mantanku yang lain. Kami putus karena salahku. Aku terlalu cuek, menganggap bahwa Mega tidak akan pergi. Dan ketika Mega betulan pergi, aku baru menyesal.

Namun, sekarang ia ada di belakangku. Cewek yang hampir tiga tahun ini kuharapkan untuk kembali, berada sangat dekat denganku. Sekaranglah saatnya, pikirku. Sebelum aku mati kelaparan, atau dimakan macan.

Sambil terus berjalan, aku mengumpulkan keberanian. Dan saat langit sudah mulai terang, ketika kami duduk di sebuah batu untuk beristirahat, kalimat itu keluar begitu saja. "Mega, aku… aku masih sayang sama kamu."

Mega tertegun. Ia terdiam menatapku. Lantas mulai membuka mulut. "Aku..."

Hening.

"Aku mendengar sesuatu, Ram."

"Ha? Apa?"

"Helikopter!"

Terburu-buru, ia naik ke sebuah batu besar di dekat kami. Benar saja. Tak lama kemudian, sebuah helikopter melintas di atas kami. Mega tengadah dan mulai berteriak-teriak. Di sebelahnya, aku merentangkan tangan lebar-lebar, lalu menggerak-gerakkannya. "TOLONG! TOLONG! WOY!" Teriakku sekencang mungkin.

Namun, helikopter itu malah melaju pergi. Semakin lama semakin menjauh di angkasa. Habis sudah, pikirku. Apa hidup kami memang harus berakhir di sini?

***

Simak kelanjutan ceritanya di falling-eve.blogspot.com oleh Kireina Enno (@kireinaenno).